Surabaya: Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. menggelar pertemuan bersama direktur rumah sakit, kepala puskesmas, dan camat se-Surabaya di Balai Kota Surabaya. Risma menginginkan adanya penurunan angka kematian pasien covid-19 di Surabaya, Jawa Timur.
"Mohon bapak ibu, kertasnya diisi. Apa pun yang menjadi keluhan panjenengan sedoyo (anda semua), kita sama-sama berjuang pada kondisi saat ini," ujar Risma usai memberi secarik kertas kepada peserta rapat, Rabu, 1 Juli 2020.
Risma menerangkan, selama ini bersama jajarannya berjuang untuk memutus pandemi dengan berbagai intervensi. Mulai dari permakanan, tracing hingga dibuatnya Kampung Tangguh Wani Jogo Suroboyo atas inisiasi Kapolda Jatim.
Risma meminta agar para camat juga ikut angkat bicara terkait suka dukanya dalam memutus pandemi ini.
"Saat ditemui oleh petugas ke rumah warga yang positif, sebagian warga menolak. Tapi kita harus memaksakan mereka mau diisolasi. Sebenarnya bukan warga yang mengucilkan tapi mereka (pasien) yang malu," ungkap dia.
Baca: Tingkat Kesembuhan Covid-19 di 13 Provinsi Mencapai 70 Persen
Tidak hanya itu, Risma juga memaparkan terkait instruksi Menteri Kesehatan (Menkes) kepada Surabaya untuk menurunkan angka kematian. Pihak Kemenkes juga menyatakan bersedia membantu apapun yang dibutuhkan rumah sakit.
"Alhamdulillah tadi disampaikan Staf khusus Kemenkes akan dibantu untuk peralatan itu. Artinya mungkin dengan peralatan itu kita bisa mengurangi lagi angka kematian,” jelasnya.
Saat ini, jumlah pasien covid-19 yang meninggal hampir 90 persen disertai penyakit penyerta. Dengan harapan, angka itu bisa menurun setelah adanya berbagai perlengkapan.
"Nanti kami ada pertemuan khusus dengan staf khusus Kemenkes membahas rincian kebutuhan rumah sakit di Surabaya. Misalnya, membuat ruangan tekanan negatif, hingga menyiapkan laboratorium," terangnya.
Sementara, Staf Khusus Pembangunan dan Pembiayaan Kesehatan Kemenkes, Alexander Ginting, mengungkap pihaknya tengah merevisi sejumlah Peraturan Menteri Kesehatan.
Pada revisi kelima akan diikuti dengan revisi klaim, akan dijelaskan detail klaim penggantian biaya perawatan pasien covid-19. Selain itu penggantian istilah seperti orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) juga akan direvisi.
"Kita pakai istilah suspect, probable, confirmed. Jadi mereka nanti dengan gejala dan PCR-nya positif masuk confirmed. Kalau PCR-nya belum positif, maka masuk probable. Mereka yang close contact bisa dengan gejala atau tidak, masuk suspect," singkatnya.
Dalam pertemuan itu, hadir rombongan staf khusus Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Daniel Tjen, Jajang Edi Priyatno, Alexander Kaliaga Ginting. Kemudian Direktur Utama RSPI, Dirut RSUP Persahabatan, Kasubdit TBC P2P dan Direktur Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan.
Surabaya: Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. menggelar pertemuan bersama direktur rumah sakit, kepala puskesmas, dan camat se-Surabaya di Balai Kota Surabaya. Risma menginginkan adanya penurunan angka kematian pasien covid-19 di Surabaya, Jawa Timur.
"Mohon bapak ibu, kertasnya diisi. Apa pun yang menjadi keluhan
panjenengan sedoyo (anda semua), kita sama-sama berjuang pada kondisi saat ini," ujar Risma usai memberi secarik kertas kepada peserta rapat, Rabu, 1 Juli 2020.
Risma menerangkan, selama ini bersama jajarannya berjuang untuk memutus pandemi dengan berbagai intervensi. Mulai dari permakanan, tracing hingga dibuatnya Kampung Tangguh Wani Jogo Suroboyo atas inisiasi Kapolda Jatim.
Risma meminta agar para camat juga ikut angkat bicara terkait suka dukanya dalam memutus pandemi ini.
"Saat ditemui oleh petugas ke rumah warga yang positif, sebagian warga menolak. Tapi kita harus memaksakan mereka mau diisolasi. Sebenarnya bukan warga yang mengucilkan tapi mereka (pasien) yang malu," ungkap dia.
Baca: Tingkat Kesembuhan Covid-19 di 13 Provinsi Mencapai 70 Persen
Tidak hanya itu, Risma juga memaparkan terkait instruksi Menteri Kesehatan (Menkes) kepada Surabaya untuk menurunkan angka kematian. Pihak Kemenkes juga menyatakan bersedia membantu apapun yang dibutuhkan rumah sakit.
"Alhamdulillah tadi disampaikan Staf khusus Kemenkes akan dibantu untuk peralatan itu. Artinya mungkin dengan peralatan itu kita bisa mengurangi lagi angka kematian,” jelasnya.
Saat ini, jumlah pasien covid-19 yang meninggal hampir 90 persen disertai penyakit penyerta. Dengan harapan, angka itu bisa menurun setelah adanya berbagai perlengkapan.
"Nanti kami ada pertemuan khusus dengan staf khusus Kemenkes membahas rincian kebutuhan rumah sakit di Surabaya. Misalnya, membuat ruangan tekanan negatif, hingga menyiapkan laboratorium," terangnya.
Sementara, Staf Khusus Pembangunan dan Pembiayaan Kesehatan Kemenkes, Alexander Ginting, mengungkap pihaknya tengah merevisi sejumlah Peraturan Menteri Kesehatan.
Pada revisi kelima akan diikuti dengan revisi klaim, akan dijelaskan detail klaim penggantian biaya perawatan pasien covid-19. Selain itu penggantian istilah seperti orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) juga akan direvisi.
"Kita pakai istilah suspect, probable, confirmed. Jadi mereka nanti dengan gejala dan PCR-nya positif masuk confirmed. Kalau PCR-nya belum positif, maka masuk probable. Mereka yang close contact bisa dengan gejala atau tidak, masuk suspect," singkatnya.
Dalam pertemuan itu, hadir rombongan staf khusus Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Daniel Tjen, Jajang Edi Priyatno, Alexander Kaliaga Ginting. Kemudian Direktur Utama RSPI, Dirut RSUP Persahabatan, Kasubdit TBC P2P dan Direktur Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(LDS)