Hujan es di wilayah Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua. (Foto: Medcom.id/Roylinus)
Hujan es di wilayah Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua. (Foto: Medcom.id/Roylinus)

Hujan Es di Ilaga Papua Anomali Cuaca

Nasional hujan es
Roylinus Ratumakin • 22 November 2019 12:56
Jayapura: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena hujan es di Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, merupakan anomali cuaca ekstrem yang bisa terjadi di daerah dataran tinggi.
 
Kepala BMKG Balai Besar Wilayah V Jayapura Petrus Demon Sili mengatakan berdasarkan pengawasan peta angin lapisan atas menunjukkan terjadi gangguan sirkulasi regional di wilayah Papua bagian tengah.
 
"Gangguan pada skala regional berinteraksi dengan kondisi lokal di mana wilayah Ilaga yang terletak di wilayah pegunungan sehingga faktor orografis sangat mempengaruhi pola hujannya,” katanya, Jumat, 22 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Petrus, interaksi antara gangguan pada skala regional dan lokal menyebabkan atmosfer di wilayah tersebut dan sekitarnya sangat labil. Imbasnya mendukung pertumbuhan awan cumulonimbus yang cukup luas, masif, menjulang tinggi, dan dapat menyebabkan hujan es.
 
“Hujan es disebabkan oleh awan cumulonimbus. Awan cumulonimbus yang tumbuh menjulang tinggi, memiliki tinggi dasar 400 meter dan tinggi puncak awan bisa mencapai 9000 meter (9 Km) di wilayah equator,” ujarnya.
 
Titik beku di wilayah tropis menurut Petrus, terjadi pada ketinggian sekitar 5.000 meter. Sehingga awan cumulonimbus yang berada pada ketinggian di atas lima kilometer sudah tidak terdiri atas tetes-tetes air lagi tetapi berupa butiran hingga bongkahan es.
 
“Butiran-butiran es turun sebagai hujan dan mencapai tanah karena didukung oleh suhu udara permukaan di Ilaga dan sekitarnya yang juga cukup rendah," jelasnya.
 
Selain itu, pada masa peralihan antara musim kemarau dan penghujan ancaman bencana hidrometeorologi pasti ada. Di antaranya; banjir, tanah longsor, angin puting beliung, dan lainnya.
 
“Kami mengimbau kepada masyarakat yang bermukim di daerah yang rawan bencana untuk tetap waspada. Apalagi didukung dengan fenomena unsur cuaca yang cepat sekali berubah dalam durasi waktu yang sangat singkat, baik unsur angin maupun hujan lebat dalam durasi pendek dengan intensitas curah hujan tinggi,” pungkasnya.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif