Bengkulu: Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba begitu ungkapan yang dapat disampaikan masyarakat yang tergabung dalam kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Desa Sidorejo, Kecamatan Kabawetan, Kabupaten Kepahiang.
Desa yang dihuni 220 kepala keluarga (KK) ini merasa senang ketika mendapat bantuan program social healing pembangunan fasilitas umum (Fasum) pembuatan balkon spot swafoto dari Yayasan Erick Thohir (ET) yang terletak di kawasan wisata air terjun Sengkuang.
Ketua Pokdarwis Desa Sidorejo, Edi Setiawan, 44, mengaku pembuatan balkon spot swafoto merupakan perencanaan yang sudah diprogram sejak awal. Namun, terkendala dengan keterbatasan anggaran.
"Kami bisa bersyukur dengan adanya Yayasan Erick Thohir yang membuat impian kami selaku Pokdarwis bisa terwujud," kata Edi.
Edi bercerita kondisi lahan seluas 800 meter persegi, lokasi balkon spot swafoto. Dulu, lahan yang menghadap langsung ke arah air terjun Sengkuang dengan ketinggiansekitar 30 meter, sebagian dimanfaatkan untuk pertanian tanaman selada air.
Sebagian lahan lainnya dibangun beberapa pendopo peristirahatan untuk tempat berteduh bagi para wisatawan.
Kondisi jalan di tengah lahan menjadi sangat licin jika turun hujan. Wisatawan harus berhati-hati. Terlebih, jika wisatawan ingin menuju air terjun yang jaraknya kurang lebih 20 meter. Biasanya, mereka ke sana ingin sekadar berfoto ria dengan latar belakang air terjun.
Permasalahan mulai terselesaikan saat tim yayasan Erick Thohir datang menawarkan bantuan pembanguna awal November lalu. Syarat yang mudah yakni harus bergotong royong dalam pengerjaan, langsung disepakati warga.
Rapat warga pun dimulai. Ide-ide inovatif pun muncul selama proses pembangunan. Mulai dari balkon spot swafoto dengan jembatannya harus terbuat dari kayu. hal itu memunculkan kesan menyatu dengan alam.
Warna balkon dicat berbagai warna. Kuning, hijau, merah, dan biru mendominasi menimbulkan kesan cerah. Uniknya, muncul ide menuliskan kutipan kutipan motivasi dari tokoh tokoh dunia. Mulai dari Nelson Mandela dengan kalimatnya yang menggelorkan semangat perjuangan,
"Seorang Pemenang Adalah Pemimpi Yang Tidak Pernah Menyerah".
Sampai animator paling berpengaruh di dunia Walt Disney yang yang menyalakan api harapan bagi semua orang dengan perkataannya, "Semua Mimpi Kita Bisa Menjadi Kenyataan, Jika Kita Memiliki Keberanian".
"Spot swafoto kita namakan spot Motiviasi Cinta dan Harapan. Kita berharap wisatawan yang datang tetap berjuang mengapai mimpi ditengah pandemi, baik itu cinta atau pekerjaan," ujarnya.
Keberadaan balkon spot selfie memberikan dampak pada peningkatan pengunjung. Kini, wisatawan tidak harus mendekat ke air terjun. Cukup berada di balkon, maka dapat dengan nyaman menikmati keindahan dan suara gemuruhnya.
Hendra, salah satu anak muda, mengungkapkan pengelolaan balkon spot seflie hingga lapangan parkir di Desa Sidorejo dikelola secara penuh oleh Pokdarwis.
Wisatawan dipungut biaya restribusi sebesar Rp2.500 setiap orang. Hasilnya diperuntukan bagi perawatan serta kebersihan. Termasuk membiayai publikasi melalui media sosial yang dikerjakan oleh anak muda setempat.
Peningkatan jumlah wisatawan sejalan dengan meningkatkan jumlah anak muda yang diberdayakan untuk pengelolaan tempat wisata itu.
"Program social healing Yayasan Erick Thohir bukan hanya menghasilkan rupiah, tapi memberdayakan anak muda, bagi kami yang didesa terpencil ini, itu sangat penting," katanya haru.
Bengkulu: Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba begitu ungkapan yang dapat disampaikan masyarakat yang tergabung dalam kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Desa Sidorejo, Kecamatan Kabawetan, Kabupaten Kepahiang.
Desa yang dihuni 220 kepala keluarga (KK) ini merasa senang ketika mendapat bantuan program social healing pembangunan fasilitas umum (Fasum) pembuatan balkon spot swafoto dari Yayasan Erick Thohir (ET) yang terletak di kawasan wisata air terjun Sengkuang.
Ketua Pokdarwis Desa Sidorejo, Edi Setiawan, 44, mengaku pembuatan balkon spot swafoto merupakan perencanaan yang sudah diprogram sejak awal. Namun, terkendala dengan keterbatasan anggaran.
"Kami bisa bersyukur dengan adanya Yayasan Erick Thohir yang membuat impian kami selaku Pokdarwis bisa terwujud," kata Edi.
Edi bercerita kondisi lahan seluas 800 meter persegi, lokasi balkon spot swafoto. Dulu, lahan yang menghadap langsung ke arah air terjun Sengkuang dengan ketinggiansekitar 30 meter, sebagian dimanfaatkan untuk pertanian tanaman selada air.
Sebagian lahan lainnya dibangun beberapa pendopo peristirahatan untuk tempat berteduh bagi para wisatawan.
Kondisi jalan di tengah lahan menjadi sangat licin jika turun hujan. Wisatawan harus berhati-hati. Terlebih, jika wisatawan ingin menuju air terjun yang jaraknya kurang lebih 20 meter. Biasanya, mereka ke sana ingin sekadar berfoto ria dengan latar belakang air terjun.
Permasalahan mulai terselesaikan saat tim yayasan Erick Thohir datang menawarkan bantuan pembanguna awal November lalu. Syarat yang mudah yakni harus bergotong royong dalam pengerjaan, langsung disepakati warga.
Rapat warga pun dimulai. Ide-ide inovatif pun muncul selama proses pembangunan. Mulai dari balkon spot swafoto dengan jembatannya harus terbuat dari kayu. hal itu memunculkan kesan menyatu dengan alam.
Warna balkon dicat berbagai warna. Kuning, hijau, merah, dan biru mendominasi menimbulkan kesan cerah. Uniknya, muncul ide menuliskan kutipan kutipan motivasi dari tokoh tokoh dunia. Mulai dari Nelson Mandela dengan kalimatnya yang menggelorkan semangat perjuangan,
"Seorang Pemenang Adalah Pemimpi Yang Tidak Pernah Menyerah".
Sampai animator paling berpengaruh di dunia Walt Disney yang yang menyalakan api harapan bagi semua orang dengan perkataannya, "Semua Mimpi Kita Bisa Menjadi Kenyataan, Jika Kita Memiliki Keberanian".
"Spot swafoto kita namakan spot Motiviasi Cinta dan Harapan. Kita berharap wisatawan yang datang tetap berjuang mengapai mimpi ditengah pandemi, baik itu cinta atau pekerjaan," ujarnya.
Keberadaan balkon spot selfie memberikan dampak pada peningkatan pengunjung. Kini, wisatawan tidak harus mendekat ke air terjun. Cukup berada di balkon, maka dapat dengan nyaman menikmati keindahan dan suara gemuruhnya.
Hendra, salah satu anak muda, mengungkapkan pengelolaan balkon spot seflie hingga lapangan parkir di Desa Sidorejo dikelola secara penuh oleh Pokdarwis.
Wisatawan dipungut biaya restribusi sebesar Rp2.500 setiap orang. Hasilnya diperuntukan bagi perawatan serta kebersihan. Termasuk membiayai publikasi melalui media sosial yang dikerjakan oleh anak muda setempat.
Peningkatan jumlah wisatawan sejalan dengan meningkatkan jumlah anak muda yang diberdayakan untuk pengelolaan tempat wisata itu.
"Program social healing Yayasan Erick Thohir bukan hanya menghasilkan rupiah, tapi memberdayakan anak muda, bagi kami yang didesa terpencil ini, itu sangat penting," katanya haru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ALB)