Sejumlah karyawan mengecek keadaan rel dan gerbong kereta layang ringan atau LRT di Stasiun Harjamukti, Depok, Jawa Barat. (Foto: ANTARA/Asprilla Dwi Adha)
Sejumlah karyawan mengecek keadaan rel dan gerbong kereta layang ringan atau LRT di Stasiun Harjamukti, Depok, Jawa Barat. (Foto: ANTARA/Asprilla Dwi Adha)

Kota Depok Butuh LRT

Nasional lrt
Octavianus Dwi Sutrisno • 24 Oktober 2019 08:21
Depok: Wakil Wali Kota Depok, Jawa Barat, Pradi Supriatna menilai, moda Lintas Raya Terpadu (LRT) perlu dibangun di Kota Depok. Proyek LRT yang saat ini berjalan, kata dia, hanya sebagai alternatif integrasi transportasi mengurangi kemacetan DKI Jakarta di wilayah penyangga.
 
"Selama ini kita hanya dilewati saja (oleh LRT). Yang kami inginkan LRT masuk realisasi wilayah Depok terutama jalur lintas Jagorawi," ujarnya, Rabu, 23 Oktober 2019.
 
Menurut Pradi, warga Depok sama membutuhkannya dengan DKI Jakarta soal keberadaan LRT maupun MRT. Sebab mobilisasi para pekerja asal Depok menuju Jakarta tak bisa dibilang sedikit. Sedangkan semakin hari pengguna KRL semakin banyak terutama di pagi dan sore hari.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Yang jadi pertimbangan juga puluhan ribu mahasiswa UI (Universitas Indonesia). Kedatangan mahasiswa S2 dan S3 dari mancanegara saat Universitas Islam Internasional dibuka nanti. Ini semua butuh moda transportasi massal," bebernya.
 
Pradi mengatakan pihaknya akan terus meminta Kementerian Perhubungan sebagai sektor utama transportasi untuk membantu pembangunan LRT di Kota Depok. Ia ingin LRTmenjangkau wilayah strategis, seperti pusat bisnis di Jalan Margonda, sekolah, dan titik-titik rawan kemacetan.
 
"Kita katakan sangat menginginkan alternatif angkutan yang visibel dan representatif dengan memperhatikan segi kenyamanan bagi masyarakat Depok," tegasnya.
 
Ia menggambarkan LRT yang dibangun di Depok bisa memanfaatkan jalur Lintasan Jagorawi yang diteruskan ke Pondok Cina. Kemudian jalur Universitas Indonesia tembus ke wilayah Limo Cinere dan berakhir di Jalan Simatupang Jakarta Selatan.
 
Di sisi lain, pihaknya pun masih berupaya memaksimalkan alternatif moda transportasi lain. Guna memecah kepadatan lalu lintas.
 
"Misalnya kami ingin mengganti minibus menjadi Trans Depok, tidak bisa karena kita masih terganjal dengan sarana dan prasarana terutama ruas jalan yang sempit," pungkasnya.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif