Petugas mengevakuasi jenazah korban guguran awan panas Gunung Semeru. MI/bagussuryo
Petugas mengevakuasi jenazah korban guguran awan panas Gunung Semeru. MI/bagussuryo

Penanganan Bencana Semeru Amburadul

Nasional gunung semeru Jawa Timur Gunung Semeru Meletus Gunung Semeru Erupsi korban erupsi Gunung Semeru
Media Indonesia.com • 07 Desember 2021 19:05
Lumajang: Penanganan bencana guguran awan panas Gunung Semeru, di Kabupaten
Lumajang, Jawa Timur, amburadul. Penanganan bencana terkait data korban, logistik, alat berat, bantuan, hingga lokasi pengungsian belum terkendali sejak Sabtu, 4 Desember 2021. 
 
Padahal semua itu terkait dengan penanganan pengungsi, korban, penyaluran logistik dan kesehatan. Hal itu terungkap dalam rapat koordinasi posko tanggap darurat di Kecamatan Pasirian, Lumajang, Selasa, 7 Desember 2021. Rapat diikuti BNPB, Korem, Kodim dan BPBD Lumajang. 
 
Kepala Pelaksana BPBD Lumajang Indra Wibowo Leksana mengatakan, alat berat sejak Minggu, 6 Desember 2021, sudah berdatangan ke lokasi bencana. Tetapi belum ada koordinator, sehingga alat berat dari berbagai institusi itu jalan sendiri-sendiri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Nantinya harus ada koordinator. Alat berat datang, dari mana dan yang mengoperasikan siapa belum ada penunjukan personel dan yang bertanggung jawab," tegasnya.
 
Baca: Sopir Truk Korban Lahar Hujan Merapi Ditemukan
 
Padahal, endapan materiel vulkanis di daerah aliran sungai Curah Kobokan cukup tebal. Pengaturan dan pembagian tugas diperlukan karena sungai tertutup material vulkanis, khawatir saat hujan deras terjadi banjir lahar dingin meluber di perkampungan warga.
 
"Karena itu koordinator diperlukan meliputi tim pencarian sekaligus membuat aliran sungai. Itu sebabnya perlu ada perumusan terkait alat berat, personel dan siapa yang bertaggung jawab," jelasnya.
 
Selain itu, pengaturan logistik yang begitu banyak belum terkendali. Akhirnya kesulitan mendistribusikan. BPBD juga minta dukungan pendataan kerugian atau kerusakan rumah, infrastruktur dan lainnya.
 
"Masyarakat berbagai daerah antusias membantu, tapi data logistik kurang tertib," ujarnya. (BN)
 
(LDS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif