Suasana gedung A SMK Yadika 6 Bekasi, Jawa Barat, pascakebakaran. (Foto: Medcom.id/Antonio)
Suasana gedung A SMK Yadika 6 Bekasi, Jawa Barat, pascakebakaran. (Foto: Medcom.id/Antonio)

SMK Yadika 6 Abaikan Rekomendasi Proteksi Kebakaran

Nasional kebakaran
Media Indonesia • 21 November 2019 19:34
Bekasi: Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bekasi, Jawa Barat, Aceng Sholahuddin, menyebut, SMK Yadika 6 Kota Bekasi tidak dilengkapi rekomendasi proteksi kebakaran. Padahal, itu merupakan syarat saat melakukan permohonan izin mendirikan bangunan gedung bertingkat.
 
"Ini yang membuat fatal. Padahal untuk seluruh pengelola gedung bertingkat, karena pada saat dia menyampaikan permohonan izin mendirikan bangunan, seharusnya dilengkapi oleh rekomendasi proteksi kebakaran," kata Aceng, Kamis, 21 November 2019.
 
Rekomendasi tersebut sedianya menghitung berapa jumlah alat pemadam kebakaran yang diperlukan pada sebuah gedung bertingkat. Kealpaan alat pemadam api ringan (APAR), sebut Asep, menimbulkan suatu kegagalan penanganan kebakaran saat api melahap gedung SMK Yadika 6.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia memperkirakan bangunan sudah terbakar lebih dari satu jam. Hal itu diketahui setelah pihaknya melihat api yang sudah mencapai di tiga lantai dan suhu di antara 200-300 derajat celsius.
 
"Itu yang kalau pasukan kami sedikit saja (datang) terlambat, semua lantai akan terbakar. Tidak akan ada yang terselamatkan," ungkapnya.
 
Sebelum kebakaran terjadi, Dinas Kebakaran Kota Bekasi sudah pernah menawarkan rekomendasi tersebut ke SMK Yadika 6. Namun, Acep mengatakan pihak sekolah menolak usul tersebut.
 
"Petugas kami mendapatkan penolakan sampai di sana. Sampai terakhir kali pascakejadian, komandan pasukan kami menyampaikan saran teknis, belum ada respons sampai saat ini. Sepertinya memang tidak mau pihak Yadika melakukan alat proteksi di gedung itu," papar Acep.
 
Kebakaran sebelumnya terjadi di SMK 6 Yadika, di Jalan Wadas Raya, Kelurahan Jaticempaka, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, pada Senin sore, 18 November 2019. Setidaknya 14 orang menjadi korban dalam peristiwa itu. (Tri Subarkah)

 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif