Warga memperlihatkan kondisi pemakaman yang nyaris hancur akibat terkena abrasi pantai di Desa Punaga, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan, Jumat (23/9/2022). ANTARA FOTO/Abriawan Abhe.
Warga memperlihatkan kondisi pemakaman yang nyaris hancur akibat terkena abrasi pantai di Desa Punaga, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan, Jumat (23/9/2022). ANTARA FOTO/Abriawan Abhe.

Ngeri, Makam di Takalar Kena Abrasi Tulang Jenazah Berserakan di Pantai

Antara • 23 September 2022 14:49
Takalar: Puluhan makam rusak bahkan hilang usai diterjang abrasi di dua dusun, Desa Punaga, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Provisi Sulawesi Selatan (Sulsel).
 
"Ada dua dusun terdampak abrasi. Dari Dusun Punaga sampai ke Dusun Malelaya. Kalau diperkirakan, dampaknya sepanjang bibir pantai kurang lebih empat kilometer," kata Kepala Desa Punaga, Syarifuddin Sorre saat dihubungi dari Makassar, Jumat, 23 September 2022.
 
Ia mengatakan dampak abrasi selain memutus akses jalan juga merusak puluhan makam warga setempat. Selain itu, dampak abrasi yang menyebabkan puluhan makam hilang, bahkan ditemukan tulang belulang dan tengkorak di pinggir pantai.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tadi ditemukan tulang belulang manusia dijumpai di bibir pantai. Mulai tulang bagian kaki, tulang rusuk, hingga tengkorak bagian kepala terlihat masih berserakan. Ini salah satu dampaknya abrasi," katanya.
 
Baca: 2.350 KK di Sumbar Tinggal di Wilayah Rawan Abrasi

Terkait dengan tulang manusia yang ditemukan di bibir pantai itu, pihaknya telah mengumpulkan untuk dimakamkan ulang oleh pihak keluarga. Beberapa warga juga sudah melaporkan makam keluarganya sudah hilang tersapu ombak.
 
Syarifuddin menjelaskan bahwa kondisi saat ini sudah sangat memrihatinkan. Dahulu daratan masih sangat jauh keluar pesisir bibir pantai, namun seiring perkembangan kondisi alam, sudah terlihat cukup dekat, karena daratannya tergerus air laut.
 
"Kalau dulunya daratan masih jauh, tapi sejak diterjang abrasi, daratan terus menerus terkikis. Sekarang kurang lebih 40 meter dari bibir pantai. Empat tahun lalu empat meter daratan hilang, kini sudah sampai tujuh meter. Itu akibat terjangan ombak saat abrasi," katanya.
 
Sebagai Kepala Desa Punaga, dia mengharapkan Pemerintah Kabupaten Takalar, provinsi maupun pusat segera turun tangan menangani dampak abrasi tersebut. Sebab, bila dibiarkan akan lebih parah dan meluas yang bisa menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat.
 
"Kami berharap, pemerintah segera mengatasi masalah ini dengan membangun tanggul penahan ombak guna mencegah dampak abrasi lebih luas yang berdampak parah bagi masyarakat," ujarSyarifuddin.
 
(WHS)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif