Kabut asap di Sumatra Barat. Foto: ANT/Iggoy el Fitra
Kabut asap di Sumatra Barat. Foto: ANT/Iggoy el Fitra

Warga Solok Selatan Merasakan Dampak Kabut Asap

Nasional kabut asap Kebakaran Lahan dan Hutan
Antara • 15 Oktober 2019 14:37
Padang Aro: Masyarakat di Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat mulai merasakan dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Mata terasa perih saat berada di luar ruangan karena kabut asap.
 
"Hari ini kabut asap yang menyelimuti Solok Selatan bertambah pekat ketimbang hari sebelumnya," kata tokoh masyarakat Solok Selatan, S Wakiu Datuak Rajo Lingkar Bulan, 55, di Padang Aro, Selasa, 15 Oktober 2019.
 
Dia mengatakan kondisi kabut asap mulai tebal menyelimuti Solok Selatan sejak Senin, 14 Oktober 2019. Kabut asap yang semakin pekat juga menyesakkan napas.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kepekatan kabut asap katanya, merata di semua daerah di Solok Selatan. Tetapi yang paling parah di Padang Aro, yang merupaka pusat pemerintahan.
 
Warga lainnya Edi, 42, merasakan hal sama yaitu mata terasa perih akibat kabut asap terutama saat berkendara. Selain itu kata Edi, jarak pandang juga sudah terbatas akibat semakin tebalnya kabut asap.
 
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solok Selatan, Inroni Muharamsyah, mengatakan kondisi kabut asap lebih tebal ketimbang hari sebelumnya. Dia menyebut asap kiriman dari daerah lain, sebab di Kabupaten Solok Selatan itu tidak ada kebakaran hutan dan lahan.
 
"Solok Selatan paling dekat dengan Provinsi Jambi dan Riau. Pemerintah mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan," ujarnya.
 
Kepala Bidang Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan, Dinas Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Solok Selatan, Murtamin mengatakan pihaknya belum melakukan pengukuran kualitas udara. Karena alat yang dimiliki belum terakreditasi.
 
"Kami berpatokan ke Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototabang," katanya.
 
Kepala BMKG Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang Wan Dayantolis mengatakan peningkatan konsentrasi partikulat diperkirakan masih berada di level sedang atau di bawah nilai ambang batas konsentrasi polutan yang dibolehkan berada di udara ambien yaitu di bawah 150 microgram/m3.
 
Daerah-daerah dengan konsentrasi partikulat (pm10) diprediksi paling tinggi yaitu Kabupaten Dharmasraya 63 microgram/m3, Kota Sawahlunto 67 microgram/m3,
Solok 70 microgram/m3, Kabupaten Solok 70 microgram/m3, Sijunjung 67 microgram/m3, Kabupaten Solok Selatan 64 microgram/m3.
 

(LDS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif