Nelayan Donggala Mendapat Pemulihan Trauma
Warga melihat mobil yang hancur akibat bencana gempa dan pencairan tanah di Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (26/10/2018). ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah.
Donggala: Sekitar 50 orang nelayan yang beroperasi di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Donggala, Sulawesi Tengah, mengikuti ceramah pemulihan rasa trauma yang diselenggarakan Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng di PPI Donggala.

Kepala Dinas KP Sulteng Hasanuddin Atjo mengatakan, pemulihan trauma yang dirangkaikan dengan workshop pengendalian penangkapan ikan tersebut bertema 'Membangkitkan motivasi dan semangat berusaha pascabencana alam 28 September 2018'.

"Diharapkan memulihkan rasa percaya diri nelayan agar segera turun kembali melaut," kata Hasanuddin seperti dilansir Antara, Kamis, 1 November 2018.


Pemulihan trauma menghadirkan dua pembicara kunci, yakni H. Karman Karim, seorang motivator dan pelaku usaha besar di Sulteng serta Dr Eko Joko Lelono, akademikus dari Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako (Untad Palu) Palu.

Sementara pemilik Palu Grand Mall (PGM) Karman Karim mengatakan bahwa bencana alam yang melanda Palu, Sigi, dan Donggala ini harus membuat masyarakat semakin bersyukur, bukannya terpuruk. Rasa syukur harus ditumbuhkan karena para nelayan tersebut masih bisa selamat dari gempa dan tsunami.

"Ini cobaan dari Allah, dan Alquran menulis bahwa Allah tidak memberikan cobaan kepada umatnya melebihi kemampuan umat itu untuk memikulnya. Jadi kalau kita semua di sini masih ada seperti sekarang, berarti kita ini orang-orang yang kuat," jelas Karman yang juga pemilik Poso City Mal di Kota Poso itu.

Karman meminta nelayan Donggala tidak berlama-lama berdiam di darat dan segera turun ke laut. Menurut Karman, orang paling berani di dunia itu adalah pelaut atau nelayan.

Menurut Karman, setiap kali melaut, nelayan menghadapi gelombang di permukaan laut, menghadapi angin topan di udara dan ia juga tidak mengetahui ancaman apa yang ada/datang dari dasar laut.

"Ingat, nelayan itu pemberani. Mengapa harus berani? Karena tidak ada orang yang meninggal kalau memang belum ajalnya. Jadi, segeralah melaut karena orang banyak menunggu ikan hasil tangkapan saudara. Dengan memenuhi kebutuhan masyarakat banyak akan ikan, para nelayan mempunyai deposit pahala yang sangat besar," beber Karman.

Sementara itu, Eko Joko Lelono meminta semua nelayan Donggala untuk menyekolahkan anaknya di sekolah pelayaran atau perikanan. Menurut Eko, Donggala mempunyai potensi karena sebagai negara ekonomi kelautan yang sebagian besar wilayahnya laut.

Sedangkan Kadis KP Sulteng mendorong nelayan untuk segera melaut agar suplai ikan di pasar-pasar dan industri segera pulih. Menurutnya hal itu akan berpengaruh tidak saja pada kesejahteraan nelayan, tetapi juga perekonomian derah (menekan inflasi) serta pemenuhan kebutuhan protein untuk menciptakan masyarakat yang sehat, kuat dan cerdas.

Salah seorang ketua kelompok nelayan PPI Donggala, Marwan, mengakui bahwa gempa bumi 28 September 2018 membuat para nelayan trauma cukup berat lantaran lebih dari 40 nelayan, termasuk anggota keluarganya, meninggal dunia dan hilang.

"Namun demikian, sekitar 50 persen nelayan di sini sudah mulai kembali melaut, tetapi masih sangat terbatas kapasitasnya sebab ketersediaan es balok dan bahan bakar belum maksimal," ungkap Marwan.

Menurut Marwan, dalam dua minggu ke depan, para nelayan diperkirakan sudah beroperasi seperti sebelum bencana jika ketersediaan bahan bakar dan es balok sudah normal kembali.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Pelabukan Perikanan Wilayah I Donggala Abdul Rasyid menegaskan bahwa mulai hari ini, pabrik es balok PPI Donggala yang berkapasitas 15 ton/hari sudah beroperasi penuh dan suplai BBM sudah normal.



(DEN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id