Festival Sastra di Makassar Bahas Voice/Noise Politik

Andi Aan Pranata 30 April 2018 16:18 WIB
sastra
Festival Sastra di Makassar Bahas <i>Voice/Noise</i> Politik
Fort Rotterdam menjadi lokasi pelaksanaan Festival Sastra di Makassar, MI
Makassar: Ajang tahunan Makassar International Writers Festival (MIWF) memasuki edisi kedelapan. Seperti penyelenggaraan sebelumnya, festival ini kembali digelar di kawasan benteng Fort Rotterdam Makassar, Sulawesi Selatan, pada 2 hingga 5 Mei 2018. Media Officer MIWF Irmawati Puan Mawar mengatakan, tahun ini festival sastra terbesar di Indonesia timur mengangkat tema utama, ‘Voice/Noise’. 

Tema tersebut, kata Irma, dianggap relevan dengan kondisi saat ini. Tema itu seiring dengan beberapa agenda penting yaitu 20 tahun Reformasi Indonesia; Pilkada Serentak 2018; dan persiapan menuju Pemilihan Presiden tahun 2019. 

“Berbagai topik ini membuat masyarakat kembali menyaksikan kegaduhan politik dan banjir informasi dan berita terkait pemilihan umum,” kata Irma melalui siaran pers yang diterima Senin, 30 April 2018.


Pada tahun ini MIWF membuka ruang-ruang diskusi untuk membahas sejauh mana para penulis dan pembicara lainnya menilai dan menyikapi 20 tahun perjalanan reformasi Indonesia. Juga yang tak kalah penting, menurut Irma, soal banjir informasi yang tidak terbendung di tengah pesta demokrasi.

“Hampir 90 penulis/pembicara terlibat dalam lebih dari 70 mata acara diskusi, pembacaan karya, peluncuran buku, lokakarya/pelatihan singkat, pentas seni dan pertunjukan,” ujar Irma.

MIWF merupakan kegiatan tahunan yang dijalankan oleh Rumata’ Artspace, organisasi kebudayaan independen yang digerakkan oleh komunitas dan relawan. Sejak 2011, MIWF menjadi ajang bagi para penulis, pembaca dan masyarakat umum untuk menikmati berbagai kegiatan sastra, literasi, perpustakaan terbuka, film, musik, seni pertunjukan dan taman baca.

Diskusi khusus membahas 20 Tahun Reformasi tahun ini diadakan di kampus Unhas, UIN Alauddin, UNM dan Unismuh serta di lokasi utama festival di Fort Rotterdam. Sementara mata acara khusus “World Literature” menghadirkan pembicara dari Jepang, Jerman, Perancis, Singapura, Malaysia Australia, Inggris, Belanda, Amerika, dan Korea Selatan.

Pertunjukan Monolog Cut Nyak Dien oleh Sha Ine Febriyanti dan kehadiran teater anak Australia Polyglot juga menjadi bagian penting kerjasama tahun ini.

“Tahun ini juga seniman Australia, Alana Hunt mengikuti program residensi untuk seniman sebagai bagian dari MIWF,” kata Irma.

Penulis yang hadir tahun ini antara lain penyair Sapardi Djoko Damono, sastrawati Leila S. Chudori, kritikus sastra Melani Budianta, Ronny Agustinus, Duta Buku Nasional Najwa Shihab, pendiri Pustaka Bergerak Indonesia, Nirwan Ahmad Arsuka, aktivis bahasa Indonesia Ivan Lanin, serta penulis muda Makassar Faisal Oddang dan Ibe S. Palogai.

Terdapat pula enam penulis Indonesia Timur hasil seleksi, yang diundang khusus ke festival tahun ini: Alfian Dippahatang asal Makassar, Eko Saputra Poceratu (Ambon), Mohamad Baihaqi (Mataram), Rachmat Hidayat Mustamin (Makassar), Riyana Rizki (Lombok Timur), dan Wika G Wulandari (Tidore). 



(RRN)