Surabaya: Sebanyak tujuh dokter dari Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) terpapar covid-19. Tiga di antaranya meninggal dan empat sisanya masih dirawat intensif.
"Sebelumnya ada dua yang meninggal, kemudian ada satu lagi meninggal pada Minggu kemarin. Jadi total ada tiga PPDS meninggal," kata Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Covid-19 Jatim, Joni Wahyuhadi, dikonfirmasi, Senin, 6 Juli 2020.
Ketiga dokter PPDS itu yakni, Miftah Fawzy Sarengat, dari Fakultas Kedokteran tinggi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, meninggal pada Rabu, 10 Juni 2020. Kemudian Arief Basuki meninggal pada 30 Juni, dan disusul keponakannya Putri Wulan Sukmawati meninggal Minggu, 5 Juli 2020. Kesemuanya meninggal saat menjalani perawatan di RSUD Dr Soetomo.
Joni mengatakan, Putri sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Unair pada tanggal 16 Juni 2020. Lalu kemudian dipindahkan ke RSUD Dr Soetomo pada 18 Juni 2020. Selain terpapar covid-19, Putri diketahui obisitas dan memiliki riwayat penyakit komorbit lainnya.
"Sebenarnya Dr Putri sempat membaik, bahkan sudah pernah lepas ventilator, tapi kemudian memburuk lagi. Itu covid-19 memang sangat susah, dan kondisinya kembali memburuk hingga meninggal dunia," kata Joni.
Selain ketiga dokter tersebut, kata Joni, masih ada empat dokter PPDS positif covid-19 masih menjalani perawatan medis. Satu orang dirawat di RSUD Dr Soetomo, dan tiga sisanya di RS Unair. "Alhamdulillah mereka kondisinya baik, mudah-mudahan lekas sembuh, semoga tidak ada masalah," kata Direktur RSUD Dr Soetomo itu.
Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak, menyampaikan duka mendalam atas kepergian dokter Putri, yang juga merupakan seorang dokter spesialis anak tersebut. Emil mengingatkan agar masyarakat hati-hati dan waspada covid-19.
"Sekalipun tidak menangani pasien positif covid-19. Potensi tertular bisa saja terjadi, ini menunjukkan kalau covid-19 memang ada di sekitar kita," kata Emil.
Mantan Bupati Trenggalek itu juga meminta kepada semua tenaga medis untuk meningkatkan kewaspadaannya, baik yang menangani covid-19 maupun yang tidak. Emil mengaku telah menyiapkan kebutuhan terkait perlindungan diri para tenaga medis.
"Kami pastikan ketersediaan alat pelindung diri (APD) dan jam kerja tenaga medis sesuai norma. Bekerja dalam situasi infectious memang perlu perhatian khusus," kata Emil.
Surabaya: Sebanyak tujuh dokter dari Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) terpapar covid-19. Tiga di antaranya meninggal dan empat sisanya masih dirawat intensif.
"Sebelumnya ada dua yang meninggal, kemudian ada satu lagi meninggal pada Minggu kemarin. Jadi total ada tiga PPDS meninggal," kata Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Covid-19 Jatim, Joni Wahyuhadi, dikonfirmasi, Senin, 6 Juli 2020.
Ketiga dokter PPDS itu yakni, Miftah Fawzy Sarengat, dari Fakultas Kedokteran tinggi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, meninggal pada Rabu, 10 Juni 2020. Kemudian Arief Basuki meninggal pada 30 Juni, dan disusul keponakannya Putri Wulan Sukmawati meninggal Minggu, 5 Juli 2020. Kesemuanya meninggal saat menjalani perawatan di RSUD Dr Soetomo.
Joni mengatakan, Putri sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Unair pada tanggal 16 Juni 2020. Lalu kemudian dipindahkan ke RSUD Dr Soetomo pada 18 Juni 2020. Selain terpapar covid-19, Putri diketahui obisitas dan memiliki riwayat penyakit komorbit lainnya.
"Sebenarnya Dr Putri sempat membaik, bahkan sudah pernah lepas ventilator, tapi kemudian memburuk lagi. Itu covid-19 memang sangat susah, dan kondisinya kembali memburuk hingga meninggal dunia," kata Joni.
Selain ketiga dokter tersebut, kata Joni, masih ada empat dokter PPDS positif covid-19 masih menjalani perawatan medis. Satu orang dirawat di RSUD Dr Soetomo, dan tiga sisanya di RS Unair. "Alhamdulillah mereka kondisinya baik, mudah-mudahan lekas sembuh, semoga tidak ada masalah," kata Direktur RSUD Dr Soetomo itu.
Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak, menyampaikan duka mendalam atas kepergian dokter Putri, yang juga merupakan seorang dokter spesialis anak tersebut. Emil mengingatkan agar masyarakat hati-hati dan waspada covid-19.
"Sekalipun tidak menangani pasien positif covid-19. Potensi tertular bisa saja terjadi, ini menunjukkan kalau covid-19 memang ada di sekitar kita," kata Emil.
Mantan Bupati Trenggalek itu juga meminta kepada semua tenaga medis untuk meningkatkan kewaspadaannya, baik yang menangani covid-19 maupun yang tidak. Emil mengaku telah menyiapkan kebutuhan terkait perlindungan diri para tenaga medis.
"Kami pastikan ketersediaan alat pelindung diri (APD) dan jam kerja tenaga medis sesuai norma. Bekerja dalam situasi infectious memang perlu perhatian khusus," kata Emil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ALB)