Pakar kesehatan hewan Universitas Brawijaya (UB), drh Dyah Ayu Oktavianie AP MBiotech.
Pakar kesehatan hewan Universitas Brawijaya (UB), drh Dyah Ayu Oktavianie AP MBiotech.

Masyarakat Diminta Tak Takut Konsumsi Daging dan Susu karena PMK

Nasional Hewan Ternak penyakit menular sapi Jawa Timur
Daviq Umar Al Faruq • 12 Mei 2022 12:15
Malang: Pakar kesehatan hewan Universitas Brawijaya (UB), Dyah Ayu Oktavianie, mengimbau masyarakat tidak khawatir terhadap wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Wabah PMK baru-baru ini menyerang sejumlah hewan ternak di beberapa daerah di Jawa Timur.
 
"Masyarakat tidak perlu khawatir karena PMK bukan penyakit zoonosis dan sampai saat ini belum ada kasus penularan ke manusia di Indonesia,” kata Dyah, Kamis, 12 Mei 2022.
 
Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UB tersebut menegaskan masyarakat tidak perlu panik. Sebab mereka tetap bisa mengkonsumsi daging dan susu sapi dengan pengolahan yang sempurna.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini yang harus dipahami masyarakat bahwa tidak perlu takut mengkonsumsi daging dan susu, tapi harus diperhatikan pengolahan daging dan susu dengan benar sehingga virus menjadi inaktif," imbuhnya.
 
Dyah mengaku, FKH UB siap berkontribusi dalam upaya penanganan dan pencegahan meluasnya wabah PMK pada hewan ternak. Salah satunya, kerja sama dengan dinas terkait dan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jatim II dalam pemeriksaan kesehatan dan pengobatan ternak, serta edukasi kepada para kelompok ternak sapi maupun kambing dan Koperasi Unit Desa (KUD) di wilayah Malang Raya dan Kota Batu. 
 
"Kami siap membantu pemerintah dalam penanganan wabah PMK ini dengan menerjunkan tenaga medis veteriner yang ada di fakultas. Edukasi juga akan kami lakukan dalam bentuk Komunikasi Informasi dan Edukasi atau KIE yang bertujuan untuk memberikan informasi terkait penanganan hewan ternak yang terkena PMK," jelasnya. 
 
Dyah menambahkan melalui upaya yang telah dilakukan, diharapkan tidak ada kepanikan. Sehingga berujung pada pengambilan keputusan yang salah dari para peternak atau jagal hewan untuk menjual hewan yang terkena PMK dengan harga di bawah harga pasar. 
 
Baca: Polri Bantu Awasi Penanganan Penyakit Mulut dan Kuku Hewan Ternak
 
"Selain itu dalam KIE kami nanti juga akan memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait bagaimana mengolah daging dan susu yang benar, sehingga tetap aman untuk dikonsumsi," ujarnya.
 
Dyah menuturkan sebenarnya Indonesia sudah dinyatakan terbebas dari PMK sejak periode 1990-an. Ia menilai wabah yang muncul saat ini kemungkinan berasal dari lalu lintas hewan ternak atau bahan pangan asal hewan yang berasal dari luar Indonesia.
 
"Maka dari itu saat ini pemerintah memberlakukan pembatasan wilayah khususnya lalu lintas hewan ternak pada daerah wabah,  agak tidak semakin meluas wabah PMK yang terjadi sejak akhir April lalu," ungkapnya.
 
Dyah mengatakan sapi yang terinfeksi bisa diberikan vitamin. Hal itu untuk meningkatkan daya tahan tubuh, terapi symptomatis, dan antibiotik untuk mengatasi infeksi sekunder.
 
"Virus tersebut menyerang hewan ternak yang mempunyai daya tahan tubuh rendah, dan pada sapi sapi muda bisa berakibat kematian. Sehingga angka mortalitas pada sapi muda atau pedet cukup tinggi," terangnya.
 
(NUR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif