Karakter wayang berpeci dan berjenggot sebagai penggambaran ustaz Khalid Basalamah. ist
Karakter wayang berpeci dan berjenggot sebagai penggambaran ustaz Khalid Basalamah. ist

Gus Miftah Enggan Tanggapi Komentar Warganet Terkait Sajak Wayang

Ahmad Mustaqim • 22 Februari 2022 16:33
Yogyakarta: Pengasuh Ponpes Ora Aji, Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah, membacakan sajak kala menggelar pentunjukkan wayang kulit pada Jumat, 18 Februari 2022. Pertunjukkan wayang kulit tersebut digelar di Ponpes Ora Aji di Dusun Tundan, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
 
Pertunjukan itu dihadiri banyak orang dan disiarkan di media sosial YouTube secara langsung. Gus Miftah membacakan sajak itu dan mengunggah di akun Instagram @gusmiftah.
 
Hingga Selasa pagi, 22 Februari 2022, sekitar 18 ribu warganet berkomentar di akun @gusmiftah. Selain kritik, adapula yang menyayangkan dan kecewa atas sajak itu. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menanggapi hal tersebut, Gus Miftah memilih tak merespons komentar warganet. Menurut dia, hal itu wajar dalam konteks perbedaan pendapat. 
 
"Kalau soal kritik ilmu atau perbedaan pendapat dalam ilmu itu kan suatu yang lumrah. Jadi ya sah-sah saja begitu loh. Jadi kalau sajak yang saya buat itu tanggung jawab saya penuh," ujar Gus Miftah, Selasa, 22 Febriari 2022.
 
Ia mencontohkan perbedaan pendapat antara ustaz Khalid Basalamah dengan dirinya mengenai wayang. Ia menilai ada sejumlah hal lain yang sama dalam pandangannya dengan ustaz Khalid. 
 
Menurut dia, pihak yang membesar-besarkan itu ada kemungkinan mencari keuntungan. Di sisi lain, sebagian besar masyarakat sudah dewasa dalam menyikapi persoalan. 
 
"Umat juga harus dewasa sama halnya ketika hukum merokok, Muhammadiyah mengharamkan, NU memubahkan, kan ya biasa-biasa saja itu, salahnya di mana," ucapnya. 
 
Baca: Imbas Pentas Wayang Kontroversial, Gus Miftah Banjir Hujatan Hingga Dijuluki Ulama Cosplay
 
Ia menambahkan keberadaan pementasan wayang kulit di Ponpes Ora Aji merupakan inisiatif para seniman dan dirinya. Gus Miftah mengatakan para seniman menyepakati menggelar pertunjukan wayang kulit di lokasi itu sebagai kepedulian atas keberlangsungan seni dan budaya.
 
Di sisi lain, isi atau lakon pementasan wayang merupakan ide dari para seniman. Seluruh proses jalannya pertunjukan juga urusan seniman. Ia tak sepakat jika pertunjukan di Ponpes Ora Aji dimaknai sebatas respons pendapat bahwa wayang kulit haram. 
 
"Pondok Pesantren Ora Aji juga sejak 2012 rutin dengan menggelar pertunjukan wayang kulit. Tapi karena pandemi (covid-19) kemarin sempat berhenti," ujarnya.
 
Berikut petikan sajak di dalam video berdurasi kurang dari dua menit tersebut: 
 
"Sigro milir..sang gethek si nogo bajul..
Wah...
Begitu pandai iblis itu, menyematkan imamah dan jubah dengan warna putih, seakan begitu suci tanpa noda, dengan menghitamkan yang lainnya.
 
Haruskah kuda lumping diganti dengan unta lumping? Haruskah gamelan diganti dengan rebana? Pohon kelapa diganti dengan pohon kurma? Dan haruskah nama Nabi Sulaiman diganti karena mirip kata kata Jawa?
 
Betapa luas iblis itu menghamparkan hijab dari kekerdilan otaknya hingga menutupi sinar matahari junjungan kita, sebagai nabi alam semesta bukan nabi orang Arab saja
Haruskah wayang diganti film-film tentang cerita agama produk asing, yang membiayai setiap jengkal pergerakan dan pemberontakan atas nama agama.
 
Kamu siapa? 
Aku tahu jenggotmu panjang tapi belum tua, Wajar tak tahu budaya dan tatakrama,
Bagiku lebih nyaman dengan blangkon atau iket dari taplak meja, sebagai penutup kepala, wujud kerendahan dan ketwadlu'anku belaka, 
karena jubah, imamah dan jenggot panjang adalah penampilan bendara atau raja sedang aku hanyalah hamba jelata, tak pantas dengan pakaian bendara dan raja
Karena pintu syurga kini hanya tersisa dan terbuka bagi yang tawadlu' hatinya
 
Sigro milir sang gethek si nogo bajul...."

 
(NUR)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif