Ilustrasi: Medcom.id
Ilustrasi: Medcom.id

Polisi: Madu Palsu dari Tetes Tebu Picu Kanker

Nasional polisi pemalsuan Madu
Siti Yona Hukmana • 11 November 2020 13:32
Jakarta: Polisi membongkar pabrik madu palsu dengan ikon Banten di CV Yatim Berkah Makmur, Kembangan, Jakarta Barat. Madu itu disebut tidak aman bagi kesehatan.
 
"Madu yang tidak memiliki standar keamanan pangan sesuai penjelasan dari Dinas Kesehatan dapat mengakibatkan obesitas serta menimbulkan penyakit diabetes dan kanker," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Banten Komisaris Besar (Kombes) Edy Sumardi saat dikonfirmasi, Rabu, 11 November 2020.
 
Kapolda Banten Inspektur Jenderal (Irjen) Fiandar sempat mengatakan madu Banten palsu itu mengandung tiga cairan, yakni zat glukosa, fruktosa, dan molases. Molases menjadi sumber bahaya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Molases itu tetes tebu atau ampas tebu, bisa diabetes (konsumen), apalagi kalau ada turunan (penyakit) diabestes," kata Fiandar, Selasa, 10 November 2020.
 
Polda Banten menggerebek sindikat pembuatan madu palsu pada Rabu, 4 November 2020, sekitar pukul 12.00 WIB. Tiga tersangka AS, 24; TM, 35; dan MS, 47, ditangkap.
 
Baca: Pabrik Madu Palsu di Jakbar Digerebek
 
AS yang menjadi pengedar madu ke penjual pikulan ditangkap di Lebak, Banten. TM sebagai produsen dan MS pemilik CV Yatim Berkah Makmur ditangkap di lokasi produksi, Kembangan.
 
Madu palsu tersebut dipasarkan ke berbagai wilayah, baik di Banten maupun ke Jakarta. Pemasarannya ada yang langsung maupun online. Madu palsu dikemas menggunakan botol dan dijual ke masyarakat dari Rp150 ribu-Rp200 ribu.
 
Ketiga tersangka telah ditahan. MS selaku pemilik CV Yatim Berkah Makmur dijerat Pasal 140 juncto Pasal 86 ayat (2) Pasal 142 juncto Pasal 91 ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dengan ancaman hukuman dua tahun penjara atau denda Rp4 miliar.
 
MS juga dikenakan Pasal 62 ayat (1) juncto Pasal 8 ayat (1) huruf f dengan pidana penjara maksimal lima tahun atau denda paling banyak Rp2 miliar. TM dan AS dijerat Pasal 198 juncto Pasal 108 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan hukuman denda maksimal Rp100 juta.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif