Ilsutrasi garam (MI/Gino F hadi).
Ilsutrasi garam (MI/Gino F hadi).

Industrialisasi Garam di NTT Butuh Dukungan Pemprov

Nasional garam
Medcom • 22 Juni 2020 22:18
Jakarta: Industrialisasi garam di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) membutuhkan dukungan kemudahan regulasi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) setempat. Hal itu guna menyokong peningkatan produksi garam dalam negeri. 
 
Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Safri Burhanuddin, mengatakan dukungan dibutuhkan untuk kemudahan regulasi dan untuk mengembangkan industri lahan penggaraman di Provinsi NTT.
 
"Lahan yang tersedia di NTT kami anggap cukup luas (untuk membuka lahan penggaraman), terutama di Pulai Timor maupun Flores. Tentunya dukungan kemudahan regulasi dari Pemprov NTT untuk Percepatan investasi industri garam di daerah ini," kata Safri saat dikonfirmasi, Senin, 22 Juni 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Safri mengatakan pihaknya saat ini sedang membangun komunikasi yang intensif dengan Pemprov NTT terkait dengan kesulitan yang dihadapi oleh investor. "Rapat koordinasi intensif hampir tiap minggu dalam bulan terakhir ini," ungkap Safri. 
 
Menurut dia, ada tiga perusahaan yang sudah mendapat kontrak dari Pemprov NTT, dan ada 3 sedang proses kerja sama untuk industri lahan garam. Adapun, lanjut Safri, posisi pemerintah pusat menjembatani Pemprov dengan investor yang memiliki kendala teknis. 
 
"Seperti kemudahan regulasi, teknologi produksi garam, dan dukungan infrastruktur,” tukasnya. 
 
Sebelumnya, disebutkan pada 2019, produksi garam nasional tercatat sebesar 3,5 juta ton, sesuai yang ditargetkan pemerintah. Namun, seiring bertambahnya industri membuat permintaan garam di dalam negeri ikut melonjak.  Sehingga diprediksi sulit memenuhi permintaan.
 
Selain, lahan produksi yang tersedia, permasalahan diperparah oleh proses pembuatan garam yang masih menggunakan metode evaporasi. Di mana produksi mengandalkan penguapan dengan menggunakan sinar matahari yang telah dilakukan sejak zaman Hindia Belanda.
 
(ALB)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif