Ilustrasi bermain gim daring di gawai. Foto: Medcom.id.
Ilustrasi bermain gim daring di gawai. Foto: Medcom.id.

Candu Gawai Berbuah Perilaku Negatif

Nasional Kecanduan Gawai
Daviq Umar Al Faruq • 18 Oktober 2019 10:41
Malang: Pakar Psikologi Anak Universitas Brawijaya (UB), Ari Pratiwi, mengatakan kecanduan gawai terhadap anak bisa berbuah gangguan perilaku. Perubahan gangguan perilaku terjadi karena sejumlah alasan.
 
Pertama mengalami hambatan atau masalah psikososial, karena anak tidak peduli dengan sekitar. Kedua menimbulkan masalah perilaku lain, tantrum bila tidak bisa mengakses gawai.
 
"Misalnya karena daya baterai lemah atau tidak ada koneksi internet," ujarnya kepada Medcom.id, Jumat, 18 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ketiga akses terhadap konten negatif misal pornografi. Keempat kecanduan gawai membuat anak menunda beraktivitas, seperti makan sampai sekolah.
 
"Jadi adiksinya bukan gawainya, tapi yang ada dalam gawai, misal pornografi atau gim. Kasus semakin parah ketika menimbulkan masalah seperti disebutkan tadi," kata lulusan S2 Magister Profesi Psikologi Universitas Indonesia ini.
 
Dosen FISIP UB ini mengaku memiliki beberapa klien yang kecanduan gim daring. Gim dimainkan di gawai juga komputer dan laptop di rumahnya.
 
Dia menilai kecanduan gim daring masuk sebagai gangguan perilaku kecanduan (adiksi) di Interdisciplinary Council on Developmental and Learning Disorders (ICDL) dan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM).
 
"Keduanya merupakan manual yang digunakan untuk menegakkan diagnosis gangguan perilaku. Jadi lebih kepada kecanduan gim, bukan kecanduan gawai. Tapi menurut saya kecanduan gawai bisa juga terjadi," bebernya.
 
Ari menerangkan butuh pencegahan dan penanganan khusus. Pencegahan bisa dilakukan melalui edukasi sekolah ke orang tua. Edukasi bisa diberikan pihak lain yakni psikiater ke orang tua dan sekolah tentang cara mengakses gawai yang aman untuk anak.
 
"Perlu ditetapkan batasan mengakses gawai. Anak juga perlu diberi kegiatan lain agar tidak terpaku pada gawai. Penanganan bila sudah parah, orang tua bisa konsultasi ke psikiater atau psikolog, bisa dilakukan konseling atau terapi lain," pungkasnya.
 
Kasubbag Hukum, Organisasi dan Humas (Hukormas) RSJ Radjiman Wediodiningrat Lawang, Ribut Supriyatin mengatakan belum ada pasien dengan gangguan akibat kecanduan gim. Pihaknya sudah menyiapkan konselor dan pencegahan.
 

(LDS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif