medcom.id, Jakarta: Kehadiran guru untuk mengajar di kelas sangat dirindukan tiap siswanya. Apalagi, oleh mereka yang menempuh pendidikan di pulau terluar di Indonesia.
Kondisi itu terlihat di SD 04 Kampung Teluk Alulu, Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Di sana, hanya ada tujuh guru yakni satu Kepala Sekolah, enam wali kelas. Dua di antaranya guru pegawai tidak tetap (PTT).
Ketujuh guru itu, harus mengajar 103 anak dari kelas 1-6. Namun, lima guru kini tengah menempuh pendidikan Sarjana. Tiap Jumat-Minggu secara bergilir, guru-guru itu harus pergi kuliah.
Belum lagi saat ini, guru agama sedang cuti melahirkan, makin berkuranglah guru di SD 04. Tapi, lantaran ada program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) anak-anak tetap bisa belajar.
"Mereka membantu sekali, kalau tidak ada guru, mereka yang masuk ke kelas," ujar Guru bahasa Inggris Kusmaidah, saat berbincang, Jumat (4/12/2015).
Dia mengatakan, dengan adanya SM3T, bantuan sangat dirasakan. Kehadiran SM3T juga sangat diapresiasi Kepala Sekolah SD 04 Agus Purwo Utomo. Dia mengatakan anak-anak memiliki waktu lebih untuk belajar.
"Kalau ada yang ketinggalan, atau kurang, nanti diajarkan lagi oleh mereka (SM3T). Biasanya diajarkan setelah waktu belajar, jadi anak-anak waktunya terisi banyak," ujar Agus.
Kehadiran SM3T rupanya membuat anak-anak senang bahkan sangat menyayangi gurunya. Sampai-sampai mereka tak rela bila si guru harus pergi. "Kalau tidak ada guru (saya) nangis," kata Melsi, murid kelas 1 SD 04, Kampung Teluk Alulu.
Murid SD 04 Kampung Teluk Alulu, Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, memamerkan kemampuan menari tari tradisional. MTVN/Renatha Swasty.
Melsi mengaku diajari banyak hal oleh guru-guru seperti membaca, menulis, menggambar dan keterampilan lain. Kecintaan anak-anak pulau terluar Indonesia pada guru mereka juga dirasakan Lenny, peserta "Menyapa Negeriku", program tenaga pengajar yang bersinergi dengan SM3T.
"Waktu alumni SM3T datang, mereka semua langsung menghampiri dan berebutan mau peluk kakak-kakaknya. Peran SM3T enggak bisa tergantikan," ujar Lenny.
medcom.id, Jakarta: Kehadiran guru untuk mengajar di kelas sangat dirindukan tiap siswanya. Apalagi, oleh mereka yang menempuh pendidikan di pulau terluar di Indonesia.
Kondisi itu terlihat di SD 04 Kampung Teluk Alulu, Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Di sana, hanya ada tujuh guru yakni satu Kepala Sekolah, enam wali kelas. Dua di antaranya guru pegawai tidak tetap (PTT).
Ketujuh guru itu, harus mengajar 103 anak dari kelas 1-6. Namun, lima guru kini tengah menempuh pendidikan Sarjana. Tiap Jumat-Minggu secara bergilir, guru-guru itu harus pergi kuliah.
Belum lagi saat ini, guru agama sedang cuti melahirkan, makin berkuranglah guru di SD 04. Tapi, lantaran ada program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) anak-anak tetap bisa belajar.
"Mereka membantu sekali, kalau tidak ada guru, mereka yang masuk ke kelas," ujar Guru bahasa Inggris Kusmaidah, saat berbincang, Jumat (4/12/2015).
Dia mengatakan, dengan adanya SM3T, bantuan sangat dirasakan. Kehadiran SM3T juga sangat diapresiasi Kepala Sekolah SD 04 Agus Purwo Utomo. Dia mengatakan anak-anak memiliki waktu lebih untuk belajar.
"Kalau ada yang ketinggalan, atau kurang, nanti diajarkan lagi oleh mereka (SM3T). Biasanya diajarkan setelah waktu belajar, jadi anak-anak waktunya terisi banyak," ujar Agus.
Kehadiran SM3T rupanya membuat anak-anak senang bahkan sangat menyayangi gurunya. Sampai-sampai mereka tak rela bila si guru harus pergi. "Kalau tidak ada guru (saya) nangis," kata Melsi, murid kelas 1 SD 04, Kampung Teluk Alulu.
Murid SD 04 Kampung Teluk Alulu, Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, memamerkan kemampuan menari tari tradisional. MTVN/Renatha Swasty.
Melsi mengaku diajari banyak hal oleh guru-guru seperti membaca, menulis, menggambar dan keterampilan lain. Kecintaan anak-anak pulau terluar Indonesia pada guru mereka juga dirasakan Lenny, peserta "Menyapa Negeriku", program tenaga pengajar yang bersinergi dengan SM3T.
"Waktu alumni SM3T datang, mereka semua langsung menghampiri dan berebutan mau peluk kakak-kakaknya. Peran SM3T enggak bisa tergantikan," ujar Lenny.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(OGI)