Yogyakarta: Pedagang tiban yang berjualan bendera, umbul-umbul, hingga tiang bambu sudah bermunculan di berbagai jalan protokol, termasuk di Kota Yogyakarta. Pembelian atribut peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 RI disebut mulai meningkat.
Seorang pedagang tiban di Jalan Mataram, Sukamto, sudah mulai berjualan sejak 27 Juli lalu. Ia menjual berbagai macam atribut seperti umbul-umbul, background, tiang bambu, bendera merah putih segala ukuran, hingga bendera plastik.
"Pembeli kalau masyarakat biasa masih jarang. Kalau pembeli dari lembaga, dinas, perkantoran sudah lumayan," kata Sukamto kepada Medcom.id di area lapaknya, Kamis, 5 Agustus 2021.
Ia menyebutkan dirinya sudah menggunakan tiga nota dengan masing-masing 50 lembar. Nota itu sebagai bukti pembelian atribut.
Lelaki 53 tahun ini menyatakan aksesoris kemerdekaan paling murah adalah bendera merah putih kecil seharga Rp5 ribu. Lalu, umbul-umbul dengan kisaran Rp25 ribu-Rp50 ribu.
Menurut Sukamto, pekan pertama Agustus ini lebih bagus dibanding tahun lalu. Ia mengungkapkan pada pekan pertama Agustus 2020, tak ada pembeli sama sekali.
"Minggu kedua mulai ada pembeli. Tahun 2020 warga takut-takutnya covid-19. Sekarang sudah memikirkan perekonomiannya gimana," kenang lelaki bertempat tinggal di Jagalan Ledoksari, Purwokinanti, Kecamatan Pakualaman, tersebut.
Sukamto sudah membuka lapak sejak pukul 06.00 bersama mengajak istri dan anaknya yang membantu berjualan. Ia mengaku meninggalkan sementara pekerjaannya sebagai penjual sembako karena menjual bendera jauh lebih menguntungkan.
Sementara itu, pedagang di Jalan Juminahan, Kota Yogyakarta, Soni Mahesa (26) menyatakan penjualan bendera dan umbul-umbul belum signifikan. Namun, kondisi saat ini lebih baik dibanding awal pandemi 2020.
Baca: Unik, Salon di Bandung Berikan Potong Rambut Gratis bagi Pemilik Nama Agus
"Sekarang masih sepi karena PPKM. Biasanya kalau hari Sabtu dan Minggu agak ramai karena banyak warga kerja bakti," ujar lelaki yang beranak satu ini.
Soni merasa omzet penjualan sangat merosot dibanding sebelumnya. Pada 2020 lalu, ia hanya bisa mengantongi Rp4 juta selama berjualan dua pekan, yakni tanggal 1-16 Agustus. Sedangkan, pada 2019, ia bisa meraup Rp15 juta dengan durasi berjualan yang sama.
"Sampai kemarin baru dapat Rp600 ribu secara keseluruhan, kebanyakan tiang bendera dari bambu yang dicari. Semoga mendekati tanggal 17 Agustus bisa banyak pembeli," harap Soni.
Yogyakarta: Pedagang tiban yang berjualan bendera, umbul-umbul, hingga tiang bambu sudah bermunculan di berbagai jalan protokol, termasuk di Kota Yogyakarta. Pembelian atribut peringatan Hari Ulang Tahun
(HUT) ke-76 RI disebut mulai meningkat.
Seorang pedagang tiban di Jalan Mataram, Sukamto, sudah mulai berjualan sejak 27 Juli lalu. Ia menjual berbagai macam atribut seperti umbul-umbul,
background, tiang bambu, bendera merah putih segala ukuran, hingga bendera plastik.
"Pembeli kalau masyarakat biasa masih jarang. Kalau pembeli dari lembaga, dinas, perkantoran sudah lumayan," kata Sukamto kepada Medcom.id di area lapaknya, Kamis, 5 Agustus 2021.
Ia menyebutkan dirinya sudah menggunakan tiga nota dengan masing-masing 50 lembar. Nota itu sebagai bukti pembelian atribut.
Lelaki 53 tahun ini menyatakan aksesoris kemerdekaan paling murah adalah bendera merah putih kecil seharga Rp5 ribu. Lalu, umbul-umbul dengan kisaran Rp25 ribu-Rp50 ribu.
Menurut Sukamto, pekan pertama Agustus ini lebih bagus dibanding tahun lalu. Ia mengungkapkan pada pekan pertama Agustus 2020, tak ada pembeli sama sekali.
"Minggu kedua mulai ada pembeli. Tahun 2020 warga takut-takutnya covid-19. Sekarang sudah memikirkan perekonomiannya gimana," kenang lelaki bertempat tinggal di Jagalan Ledoksari, Purwokinanti, Kecamatan Pakualaman, tersebut.
Sukamto sudah membuka lapak sejak pukul 06.00 bersama mengajak istri dan anaknya yang membantu berjualan. Ia mengaku meninggalkan sementara pekerjaannya sebagai penjual sembako karena menjual bendera jauh lebih menguntungkan.
Sementara itu, pedagang di Jalan Juminahan, Kota Yogyakarta, Soni Mahesa (26) menyatakan penjualan bendera dan umbul-umbul belum signifikan. Namun, kondisi saat ini lebih baik dibanding awal pandemi 2020.
Baca:
Unik, Salon di Bandung Berikan Potong Rambut Gratis bagi Pemilik Nama Agus
"Sekarang masih sepi karena PPKM. Biasanya kalau hari Sabtu dan Minggu agak ramai karena banyak warga kerja bakti," ujar lelaki yang beranak satu ini.
Soni merasa omzet penjualan sangat merosot dibanding sebelumnya. Pada 2020 lalu, ia hanya bisa mengantongi Rp4 juta selama berjualan dua pekan, yakni tanggal 1-16 Agustus. Sedangkan, pada 2019, ia bisa meraup Rp15 juta dengan durasi berjualan yang sama.
"Sampai kemarin baru dapat Rp600 ribu secara keseluruhan, kebanyakan tiang bendera dari bambu yang dicari. Semoga mendekati tanggal 17 Agustus bisa banyak pembeli," harap Soni.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SYN)