Yogyakarta: Dinas Sosial Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan intervensi terhadap Ngadiono dan keluarganya yang tinggal di bangunan berdempetan dengan kandang sapi. Warga Dusun Kedungranti, Desa Nglipar, Kecamatan Nglipar itu sudah sekitar lima bulan tinggal di bangunan dengan dinding terpal.
"Dinsos (Kabupaten Gunungkidul) sudah intervensi program untuk keluarga pak Ngadiono lewat jaminan kesehatan dan PKH (program keluarga harapan)," kata Kepala Dinas Sosial Kabupaten Gunungkidul, Asti Wijayanti dihubungi, Jumat, 3 September 2021.
Asti mengatakan, seluruh anggota keluarga Ngadiono sudah masuk jaminan kesehatan nasional (JKN) lewat skema pendanaan APBD. Sementara, PKH yang diberikan ditujukan untuk anak Ngadiono yang duduk di bangku sekolah dasar (SD).
"Program PKH diberikan untuk putranya yang SD, (besarannya) Rp75.000 per bulan," ucap mantan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul ini.
Baca: Terlilit Utang Satu Keluarga di Gunungkidul Tinggal di Kandang Sapi
Asti mengungkapkan, seorang anak laki-laki Ngadiono yang paling besar direkrut Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Maju Mandiri. Anak Ngadiono di BUMDes tersebut bekerja sebagai juru parkir.
Ia mengatakan telah mengecek kondisi keluarga Ngadiono lewat perangkat desa setempat. Menurut dia, sudah banyak bantuan yang datang untuk keluarga Ngadiono.
"Intinya yang bersangkutan sudah banyak dibantu masyarakat, termasuk dibangunkan rumah. Informasinya, pak Dukuh (Kedungranti) berharap tidak perlu dibantu lagi karena yang bersangkutan sepakat untuk menjual sapi dan membangun rumah," katanya.
Diberitakan sebelumnya, Keluarga Ngadiono tinggal berdempetan dengan kandang sapi selama beberapa bulan terakhir. Ia tinggal di sana sambil mengurusi ternak keluarganya. Tempat tinggalnya ada di dekat sungai dan rawan terkena banjir apabila hujan intensitas tinggi.
Singkat cerita, keluarga Ngadiono terjerat banyak utang. Mulai dari perbankan, koperasi syariah, sampai rentenir. Rumah dan sepeda motor habis karena dijadikan jaminan utang.
Ngadiono juga sempat merantau ke luar Jawa dengan harapan dapat pekerjaan dan bisa melunasi utang. Kepergiannya ke Sumatera tak dapat hasil dan nasib keluarga kian memprihatinkan.
Ngadiono tinggal bersama istrinya, Sumini, 44, serta tiga anaknya. Sedangkan, dua anaknya yang lain sudah berkeluarga dan ada yang bekerja.
*Hai Sobat Medcom, terima kasih sudah menjadikan Medcom.id sebagai referensi terbaikmu. Kami ingin lebih mengenali kebutuhanmu. Bantu kami mengisi angket ini yuk https://tinyurl.com/MedcomSurvey2021 dan dapatkan saldo Go-Pay/Ovo @Rp 50 ribu untuk 20 pemberi masukan paling berkesan. Salam hangat.
Yogyakarta: Dinas Sosial Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan intervensi terhadap Ngadiono dan keluarganya yang tinggal di bangunan berdempetan dengan kandang sapi. Warga Dusun Kedungranti, Desa Nglipar, Kecamatan Nglipar itu sudah sekitar lima bulan tinggal di bangunan dengan dinding terpal.
"Dinsos (Kabupaten Gunungkidul) sudah intervensi program untuk keluarga pak Ngadiono lewat jaminan kesehatan dan PKH (program keluarga harapan)," kata Kepala Dinas Sosial Kabupaten Gunungkidul, Asti Wijayanti dihubungi, Jumat, 3 September 2021.
Asti mengatakan, seluruh anggota keluarga Ngadiono sudah masuk jaminan kesehatan nasional (JKN) lewat skema pendanaan APBD. Sementara, PKH yang diberikan ditujukan untuk anak Ngadiono yang duduk di bangku sekolah dasar (SD).
"Program PKH diberikan untuk putranya yang SD, (besarannya) Rp75.000 per bulan," ucap mantan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul ini.
Baca: Terlilit Utang Satu Keluarga di Gunungkidul Tinggal di Kandang Sapi
Asti mengungkapkan, seorang anak laki-laki Ngadiono yang paling besar direkrut Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Maju Mandiri. Anak Ngadiono di BUMDes tersebut bekerja sebagai juru parkir.
Ia mengatakan telah mengecek kondisi keluarga Ngadiono lewat perangkat desa setempat. Menurut dia, sudah banyak bantuan yang datang untuk keluarga Ngadiono.
"Intinya yang bersangkutan sudah banyak dibantu masyarakat, termasuk dibangunkan rumah. Informasinya, pak Dukuh (Kedungranti) berharap tidak perlu dibantu lagi karena yang bersangkutan sepakat untuk menjual sapi dan membangun rumah," katanya.
Diberitakan sebelumnya, Keluarga Ngadiono tinggal berdempetan dengan kandang sapi selama beberapa bulan terakhir. Ia tinggal di sana sambil mengurusi ternak keluarganya. Tempat tinggalnya ada di dekat sungai dan rawan terkena banjir apabila hujan intensitas tinggi.
Singkat cerita, keluarga Ngadiono terjerat banyak utang. Mulai dari perbankan, koperasi syariah, sampai rentenir. Rumah dan sepeda motor habis karena dijadikan jaminan utang.
Ngadiono juga sempat merantau ke luar Jawa dengan harapan dapat pekerjaan dan bisa melunasi utang. Kepergiannya ke Sumatera tak dapat hasil dan nasib keluarga kian memprihatinkan.
Ngadiono tinggal bersama istrinya, Sumini, 44, serta tiga anaknya. Sedangkan, dua anaknya yang lain sudah berkeluarga dan ada yang bekerja.
*Hai Sobat Medcom, terima kasih sudah menjadikan Medcom.id sebagai referensi terbaikmu. Kami ingin lebih mengenali kebutuhanmu. Bantu kami mengisi angket ini yuk https://tinyurl.com/MedcomSurvey2021 dan dapatkan saldo Go-Pay/Ovo @Rp 50 ribu untuk 20 pemberi masukan paling berkesan. Salam hangat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(WHS)