Tim Dokter hewan BKSDA Aceh melakukan proses perawatan dan pengobatan gajah liar yang terjerat di klinik pengobatan Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar, Aceh, Senin (15/11/2021)
Tim Dokter hewan BKSDA Aceh melakukan proses perawatan dan pengobatan gajah liar yang terjerat di klinik pengobatan Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar, Aceh, Senin (15/11/2021)

BKSDA Aceh Minta Warga Tak Pasang Jerat di Hutan

Nasional satwa aceh Satwa Langka Gajah Sumatera
Antara • 17 November 2021 19:55
Aceh: Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengimbau masyarakat tidak memasang jerat maupun racun di kawasan hutan. Sebelumnya, seekor anak gajah mati setelah dua hari dirawat usai terkena jerat.
 
Kepala BKSDA Aceh Agus Arianto mengatakan pemasangan jerat maupun racun dapat menyebabkan kematian satwa dilindungi.
 
"Pelaku yang menyebabkan kematian satwa dilindungi dapat dikenakan sanksi pidana sesuai peraturan perundangan-undangan yang berlaku," kata Agus Arianto, di Banda Aceh, Rabu, 17 November 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Agus mengatakan kasus kematian satwa seekor gajah sumatera (elephas maximus sumatrabus) dengan jenis kelamin betina serta masih berusia satu tahun menjadi keprihatinan.  Anak gajah tersebut, kata Agus Arianto, mati saat dalam perawatan setelah belalainya putus terkena jerat.
 
"Hasil nekropsi tim medis, anak gajah tersebut mengalami infeksi sekunder akibat luka terbuka berlangsung lama karena jerat. Selain itu, pencernaannya terganggu karena asupan makanan tidak optimal setelah belalainya terkena jerat," kata Agus.
 
Baca: 2 Hari Dirawat, Anak Gajah di Aceh yang Terkena Jerat Mati
 
Agus mengatakan kematian satwa dilindungi tersebut menjadi kabar buruk. Sebab, anak gajah tersebut berhasil dievakuasi dan sempat dirawat. 
 
Agus mengajak masyarakat bersama-sama menjaga kelestarian alam khususnya satwa liar seperti gajah dan lainnya. Caranya, tidak merusak hutan dan memasang jerat maupun racun.
 
"Selain itu juga tidak menangkap, melukai, membunuh maupun memperniagakan bagian tubuh satwa dilindungi. Satwa dilindungi tersebut merupakan spesies berisiko tinggi untuk punah di alam liar," kata Agus Arianto.

 
(WHS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif