Perguruan Tinggi Punya Andil dalam Perkembangan Perdesaan

Pelangi Karismakristi 07 Agustus 2018 18:54 WIB
Berita Kemendes PDTT
Perguruan Tinggi Punya Andil dalam Perkembangan Perdesaan
Sekjen Kemendes PDTT Anwar Sanusi. (Foto: Dok. Kemendes PDTT)
Malang: Sebanyak 84 perguruan tinggi di Indonesia kini telah tergabung dalam forum Perguruan Tinggi untuk Desa (Pertides) dan jumlahnya terus meningkat. Hal ini karena banyak universitas yang tertarik dan ingin berkonsentrasi pada pengembangan perdesaan.

"Termasuk Universitas Brawijaya juga anggota dari Pertides. Memang jika dibandingkan dari jumlah perguruan tinggi yang totalnya ada 4.000-an, ini sangat sedikit jumlahnya. Tapi kita tidak harus bekerja sama dengan semua perguruan tinggi. Kita perlu memilih perguruan tinggi yang selama ini memiliki konsentrasi di pembangunan perdesaan," Sekjen Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Anwar Sanusi pada International Conference of Rural Development di Ijen Suites Hotel Malang, Selasa, 7 Agustus 2018. 

Anwar menilai, perguruan tinggi punya peran besar dalam proses percepatan pembangunan desa, baik melalui KKN, penelitian, dan berbagai sumbangsih inovasi seperti halnya teknologi tepat guna. Ia berharap, perguruan tinggi terutama yang tergabung dalam forum Pertides turut berperan aktif membantu pemerintah dalam mengentaskan desa tertinggal.


"Kita ingin perguruan tinggi memberikan dukungan pada progran kementerian. Mengkritik pun tidak masalah," harapnya.

Dari 84 perguruan tinggi tersebut, lanjut Anwar, memiliki ribuan mahasiswa yang siap diluncurkan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik. Melalui program tersebut, maka universitas telah menjadi instrumen bagi percepatan pembangunan perdesaan.

"Bayangkan setiap KKN, ada ribuan mahasiswa yang diberi pengetahuan tentang desa. Akhirnya mereka bisa membaca ternyata permasalahan desa itu begini, lalu kita ajarkan mereka mengelola dan memecahkan masalahnya," jelas Anwar.

Program KKN juga diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta mahasiswa terhadap desa. Sehingga ketika para mahasiswa telah menyelesaikan studi, akan kembali ke desa menjadi pelopor pembangunan di sana. 

"Mereka (mahasiswa) kan ke desa tidak untuk main-main. Dengan diberikannya mereka kesempatan untuk memecahkan permasalahan di desa saat KKN, ini akan menimbulkan memori terutama kecintaan mereka terhadap desa," katanya.




(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id