medcom.id, Denpasar: Stok garam di Pulau Bali kian tahun terus menurun. Hal itu menyebabkan kelangkaan di berbagai pasar.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, I Made Gunaja, memaparkan, periode 2015, garam di Bali mencapai 11.554 ton, sedangkan 2016 hingga medio 2017 stok garam hanya sekitar 10.000 ton.
"Stok garam kita menurun hingga 6,6 persen, kalau dari sisi nilainya justru melonjak, itu berlaku hukum alam," kata Gunaja ketika ditemui Metrotvnews.com, di Renon, Denpasar, Selasa, 25 Juli 2017.
Gunaja menerangkan, pada 2015 pihaknya mendapatkan Rp15 miliar dari penjualan garam. Tapi pada 2016 pendapatan justru meningkat mencapai Rp50 miliar meski stok garam kian merosot.
Menurut Gunaja, kelangkaan garam di Provinsi Bali disebabkan karena faktor alam. Saat ini wilayah Bali tengah musim penghujan sehingga produksi garam menurun.
"Jadi hampir 180 persen dia naiknya, mungkin juga sekarang musim hujannya lebih banyak jadi produksi garam kita menurun," tambahnya.
Gunaja memaparkan bahwa lahan tambak garam di wilayah Bali mencapai 116 hektar yang tersebar di berbagai wilayah yakni Karangasem, Klungkung, Jembrana dan Buleleng.
"Yang paling besar itu ada di Buleleng, kalau jumlah petani kita ada 470 orang," jelasnya.
Saat ini pihaknya mendorong masyarakat Bali untuk kembali menambak garam agar stok garam mencapai target dan harga garam bisa stabil kembali.
"Kita masih usahakan agar masyarakat terdorong untuk kembali menambak garam," ucapnya.
medcom.id, Denpasar: Stok garam di Pulau Bali kian tahun terus menurun. Hal itu menyebabkan kelangkaan di berbagai pasar.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, I Made Gunaja, memaparkan, periode 2015, garam di Bali mencapai 11.554 ton, sedangkan 2016 hingga medio 2017 stok garam hanya sekitar 10.000 ton.
"Stok garam kita menurun hingga 6,6 persen, kalau dari sisi nilainya justru melonjak, itu berlaku hukum alam," kata Gunaja ketika ditemui Metrotvnews.com, di Renon, Denpasar, Selasa, 25 Juli 2017.
Gunaja menerangkan, pada 2015 pihaknya mendapatkan Rp15 miliar dari penjualan garam. Tapi pada 2016 pendapatan justru meningkat mencapai Rp50 miliar meski stok garam kian merosot.
Menurut Gunaja, kelangkaan garam di Provinsi Bali disebabkan karena faktor alam. Saat ini wilayah Bali tengah musim penghujan sehingga produksi garam menurun.
"Jadi hampir 180 persen dia naiknya, mungkin juga sekarang musim hujannya lebih banyak jadi produksi garam kita menurun," tambahnya.
Gunaja memaparkan bahwa lahan tambak garam di wilayah Bali mencapai 116 hektar yang tersebar di berbagai wilayah yakni Karangasem, Klungkung, Jembrana dan Buleleng.
"Yang paling besar itu ada di Buleleng, kalau jumlah petani kita ada 470 orang," jelasnya.
Saat ini pihaknya mendorong masyarakat Bali untuk kembali menambak garam agar stok garam mencapai target dan harga garam bisa stabil kembali.
"Kita masih usahakan agar masyarakat terdorong untuk kembali menambak garam," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ALB)