NEWSTICKER
Wali Kota Malang, Sutiaji, di Kantor Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu, 19 Februari 2020.. Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq
Wali Kota Malang, Sutiaji, di Kantor Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu, 19 Februari 2020.. Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq

Partisipasi Sunsus Penduduk di Malang Tertinggi se-Jatim

Nasional Sensus Penduduk
Daviq Umar Al Faruq • 19 Februari 2020 13:30
Malang: Wali Kota Malang, Sutiaji, menyebutkan sejauh ini Kota Malang menjadi kota dengan tingkat partisipasi masyarakat tertinggi di Jawa Timur dalam mengisi data Sensus Penduduk Online 2020. Tingkat partisipasi itu dihitung sejak dibukanya sensus penduduk online pada 15 Februari hingga 18 Februari 2020.
 
"Perkembangan terakhir untuk online, kita sudah masuk kota terbesar menggunakan online se-Jawa Timur," kata Sutiaji di Kantor Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu, 19 Februari 2020.
 
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang yang diterima Sutiaji, masyarakat Kota Malang yang telah mengisi data sensus pada hari pertama dibukanya sensus penduduk online yakni sebanyak 549 KK (Kepala Keluarga).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jumlah itu meningkat pada hari ketiga (18 Februari 2020). Yakni sejumlah 835 KK di Kota Malang yang telah mengisi data sensus penduduk online.
 
"Data terakhir, progress kita sudah bagus. Pertama itu pada awal, masih 549 KK. Kemudian, kemarin data terakhir menjadi 835 KK. Jumlah orangnya sudah 2.150," jelas Sutiaji.
 
Sutiaji sendiri telah mengisi kuesioner sensus penduduk online di Rumah Dinas Wali Kota Malang, Senin, 17 Februari 2020 lalu. Menurutnya pengisian kuesioner ini tidak membutuhkan waktu yang lama.
 
"Waktunya per person itu lima menit. Itu bisa selesai," ungkap Sutiaji.
 
Disisi lain, Sutiaji meminta seluruh warga Kota Malang, untuk ikut mensukseskan program sensus penduduk online ini. Salah satunya dengan menekankan kejujuran saat melakukan pengisian data sensus.
 
"Harus diisi sejujur mungkin. Apapun canggihnya IT, saat manusianya tidak jujur, maka akan menjadi database yang tidak akurat. Karena database awal ini perlu akurasi data, maka ini dilihat kejujuran orang," pungkas Sutiaji.
 

(DEN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif