Sidang putusan dua anggota Polres Blora di Pengadilan Tipikor Semarang, Selasa, 27 September 2022. ANTARA/ I.C.Senjaya
Sidang putusan dua anggota Polres Blora di Pengadilan Tipikor Semarang, Selasa, 27 September 2022. ANTARA/ I.C.Senjaya

Pasutri Anggota Polres Blora Divonis 6 Tahun karena Korupsi

Antara • 27 September 2022 15:39
Semarang: Pasangan suami istri anggota Kepolisian Resor Blora, Jawa Tengah, Bripka Etana Fani Jatnika dan Briptu Eka Maryani dijatuhi hukuman masing-masing enam tahun penjara. Keduanya terbukti melakukan korupsi dana penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp3,049 miliar di polres tersebut.
 
"Menyatakan terdakwa bersalah melanggar pasal 2 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang telah diubah dan ditambahkan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi," kata Hakim Ketua, Rochmad, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang, Selasa, 27 September 2022.
 
Baca: Polda Bali Usut Kasus Penipuan 350 Calon PMI oleh PT MAG Diamond

Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa masing-masing selama 6,5 tahun penjara. Selain hukuman badan, hakim juga menjatuhkan hukuman denda sebesar Rp300 juta kepada kedua terdakwa yang jika tidak dibayarkan maka harus diganti hukuman kurungan selama tiga bulan.
 
Adapun kepada terdakwa Bripka Etana Fani Jatnika, hakim menjatuhkan hukuman tambahan berupa membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp1,4 miliar dan jika tidak dibayarkan setelah putusan ini berkekuatan hukum tetap akan diganti dengan kurungan selama satu tahun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam pertimbangannya, hakim menyatakan perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan tindak pidana korupsi.
 
"Terdakwa sebagai aparat penegak hukum tidak menjadi contoh yang baik dalam upaya pemberantasan korupsi," jelas Rochmad.
 
Atas putusan tersebut, baik jaksa maupun terdakwa menyatakan pikir-pikir untuk melakukan banding.
 
Sebelumnya korupsi yang dilakukan pasutri anggota Polri pada kurun waktu Agustus hingga Desember 2021 itu terungkap setelah ditemukan adanya selisih antara dana yang tersimpan dalam rekening penampungan Polres Blora dengan laporan yang disampaikan terdakwa Briptu Eka Maryani selaku bendahara penerimaan di Polres Blora.
 
Selisih dana penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang seharusnya disetorkan ke kas negara itu justru digunakan terdakwa Bripka Etana untuk mengisi rekening aplikasi Paypall miliknya.
 
Dari dana yang tersimpan dalam rekening Paypall tersebut, terdakwa telah memperoleh keuntungan sebesar Rp125 juta yang uangnya digunakan untuk melunasi pembelian mobil.
 
 
 
(DEN)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif