NEWSTICKER
Polres Malang Kota mengungkap prektik aborsi, Senin, 14 Oktober 2019. Medcom.id/ Daviq Umar Al Faruq
Polres Malang Kota mengungkap prektik aborsi, Senin, 14 Oktober 2019. Medcom.id/ Daviq Umar Al Faruq

Pekerja Apotek di Malang Ditangkap Lantaran Jual Obat Aborsi

Nasional aborsi ilegal
Daviq Umar Al Faruq • 14 Oktober 2019 17:04
Malang: Polres Malang Kota mengungkap praktik aborsi atau pengguguran kandungan yang beroperasi di Kota Malang, Jawa Timur. Sebanyak lima tersangka yang terkait dalam kasus ini telah ditangkap.
 
Kapolres Malang Kota, AKBP Dony Alexander, mengatakan tersangka pertama yang ditangkap adalah pria berinisial TDS, 22. Tersangka ini adalah penjual obat penggugur kandungan merek GS.
 
"Tersangka ini sudah dari akhir tahun 2018 sampai sekarang berjualan obat aborsi. Satu butirnya mendapat untung Rp50 ribu," kata Dony di Polres Malang, Senin, 14 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut pengakuan, tersangka TDS telah menjual obat aborsi ini sebanyak 10 kali. Tersangka TDS ini menjual obat aborsi tanpa resep dokter.
 
"Tersangka TDS tidak punya izin sama sekali. Bukan dokter, bukan apoteker, hanya supplier obat saja. Sasarannya rata-rata anak yang masih berstatus gadis, pelajar dan lain-lain. Ini kami masih melakukan penyelidikan," jelas Dony.
 
Polisi kemudian melakukan pengembangan dan menangkap tersangka berinisial I, 32, yang bekerja di sebuah apotek di Kota Malang. Tersangka TDS diketahui mendapat obat aborsi tersebut dari tersangka II seharga Rp100 ribu per butir.
 
Lalu polisi melakukan penelusuran kembali dan menangkap tersangka TS, 48. Tersangka TS ini berperan sebagai pemasok obat aborsi ke apotek tempat bekerja tersangka II.
 
"Tersangka TS ini adalah supplier resmi, supplier besar pemesanan obat-obatan menggunakan media online," jelas Dony.
 
Selain menangkap sindikat penjual obat aborsi, polisi juga menangkap dua tersangka yang membeli obat aborsi dari tersangka TDS. Dua pembeli yang diamankan berinisial ASF, 20, dan BHN, 20.
 
Atas perbuatannya kelima tersangka ini dijerat dengan pasal 774 ayat 1 Undang-Undang nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang nomor 23 tahun 2012 tentang Perlindungan Anak juncto pasal 56 KUHP.
 
"Mereka diancam hukuman penjara maksimal 10 tahun," pungkas Dony.
 

(DEN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif