BPPT menargetkan pemasangan sejumlah peralatan canggih dalam rangka mitigasi bencana tsunami dari ujung Sumatera, Jawa, dan wilayah timur Indonesia. Medcom.id/Farhan Mudier
BPPT menargetkan pemasangan sejumlah peralatan canggih dalam rangka mitigasi bencana tsunami dari ujung Sumatera, Jawa, dan wilayah timur Indonesia. Medcom.id/Farhan Mudier

BPPT Siapkan 3 Alat Canggih Deteksi Tsunami

Farhan Mudier • 08 Juni 2021 13:57
Tangerang: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menargetkan pemasangan sejumlah peralatan canggih dalam rangka mitigasi bencana tsunami dari ujung Sumatra, Jawa, dan wilayah timur Indonesia. Program tersebut bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). 
 
Kepala BPPT Hammam Riza menegaskan bahwa pihaknya telah membangun tiga teknologi dalam mendeteksi tsunami yang berbasis Buoy, kabel serat optik, dan akustik tomografi. 
 
"Sejak tahun 2019 telah membangun tiga teknologi tersebut dalam rangka mendukung Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS)," kata Hammam di Gedung Geostech 820, Puspiptek, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, Selasa, 8 Juni 2021.

Hammam menerangkan teknologi InaTEWS itu ditargetkan akan beroperasi penuh pada tahun 2024. Hal ini sesuai amanat Peraturan Presiden (Perpres) RI Nomor 93 Tahun 2019 tentang Penguatan dan Pengembangan Sistem Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami.
 
Teknologi kebencanaan tersebut, lanjut Hammam menggunakan berbagai instrumen sesuai dengan kebutuhan lokasi. Yakni teknologi InaBuoy, teknologi kabel optik bawah laut (Cable Based Tsunameter atau InaCBT), teknologi coastal acoustic tomografi (InaCAT), hingga pemodelan berbasis kecerdasan artifisial (AI). 
 
Baca: BMKG Luruskan Isu Potensi Tsunami di Jawa Timur
 
Hammam menerangkan, sensor tsunami dari InaTEWS BPPT dapat mengirimkan data secara berkesinambungan kepada BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk kemudian disebarluaskan kepada masyarakat sebagai upaya mitigasi bencana tsunami di Indonesia.
 
"Dari sebelumnya deteksi dini kita itu 15 menit menjadi lima menit, sehingga mitigasi bencana dapat segera bisa dilakukan," ucap dia.
 
Hingga target pengoperasian tahun 2024 mendatang,  BPPT telah menyusun grand design peta jalan teknologi mitigasi dengan mengoperasikan InaBuoy di 13 lokasi, InaCBT di tujuh lokasi, dan InaCAT di tiga lokasi dengan didukung pengolahan kecerdasan artifisial. 
 
Menurut Hammam, kebencanaan di Indonesia tidak dapat dihindari namun risiko dari bencana yang akan terjadi bisa diminimalisasi dengan deteksi dini. 
 
Ia menjelaskan, Indonesia berada di zona ring of fire yang letak geografisnya berada di antara pertemuan tiga lempeng tektonik besar yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Jalur yang dilalui pertemuan lempeng inilah yang menjadi zona rawan gempa di Indonesia. 
 
Sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, daerah padat penduduk seperti mayoritas Pulau Sumatera, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, NTT, Sulawesi, hingga Ambon merupakan daerah yang rawan akan terjadinya gempa bumi.
 
"Hanya sebagian kecil Pulau Jawa bisa dikatakan aman dari ancaman gempa," ungkap Hammam. 
 
Dari kondisi dan histori kebencanaan tersebut, upaya mitigasi bencana terintegrasi sudah sepatutnya diterapkan di Indonesia. "Pengalaman bencana besar di Tahun 2018 yang menerpa Lombok, Palu, dan Selat Sunda menjadi wake up call bagi semua pihak," tegas Hammam. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SYN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan