BERTANDANG ke Kota atau Kabupaten Madiun, Jawa Timur, rasanya kurang lengkap jika Anda tidak mencicipi penganan tradisional khas daerah ini yaitu brem. Penganan yang berbuat dari sari beras ketan ini bahkan sudah menjadi kewajiban sebagai oleh-oleh atau buah tangan dari kota ini selain sambel pecel.
Brem berasa manis-manis kecut dan maknyess adem di lidah. Unik penuh sensasi rasanya. Kue tradisional khas Madiun ini terbukti disuka banyak orang.
Untuk mendapatkan penganan ini pun tak sulit. Bahkan di luar Madiun pun, terutama di seputaran Jawa Timur wilayah barat, makanan berbentuk pipih berwarna krem ini banyak terpajang di toko-toko penjual makanan atau toko oleh-oleh. Jadi tak ada alasan bagi Anda untuk tidak bisa mendapatkan barang ini jika bepergian atau bertandang di Madiun.
Brem memang cukup populer. Selain harganya murah, juga bisa dimakan siapa saja. Ibaratnya, orang tak bergigi pun dapat menikmati sama enaknya dengan yang bergigi lengkap. Karena memakan penganan ini cukup dikulum, tanpa dikunyah, makanan ini sudah lumat sendiri. Brem boleh dikata bisa dimakan semua umur. Jadi, amat cocok dibuat oleh-oleh bagi siapa saja.
Bahkan sejak lima tahun terakhir ini brem kian populer. Disuka semua kalangan umur. Ini sejak brem memiliki banyak rasa. Ada rasa melon, durian, coklat, strawberry, mangga dan rasa buah-buahan lainnya.
Sejak banyak pilihan rasa tersebut, brem made in madiun ini telah mampu merambah pasar sampai ke mancanegara yakni Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, dan Hongkong. Sekalipun nilainya belum besar, tapi sudah cukup menjadi bekal berpromosi di negara lain.
"Brem dikenal di luar negeri itu awalnya dibawa oleh para TKI kita di sana. Tapi lambat laun ada permintaan dari negeri itu melalui toko-toko penjual makanan dan oleh-oleh di Surabaya, Bali, dan Jakarta," kata Kades Kaliabu Windari kepada Media Indonesia.
Brem memang merupakan hasil olah tangan para petani di Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, sekitar 24 Km arah timur laut Kota Madiun. Hasil karya petani Kaliabu ini juga menjadi produk unggulan Madiun. Berkat penganan ini pula Kota Madiun mendapat julukan sebagai Kota Brem.
Namun petani Kaliabu tetap hanya sebagai produsen. Soal pemasaran mereka tak tahu sama sekali. Sebab, produknya itu semuanya langsung diambil oleh pengusaha toko penjual oleh-oleh di kota. Sehingga mereka pun tidak tahu jika penganan olah tangannya itu telah dicicipi orang luar negeri. Maklum, para pembuat brem mayoritas adalah petani desa yang berpendidikan rendah.
"Semua perajin adalah kalangan petani desa yang tidak memiliki kemampuan di bidang pemasaran. Mereka hanya bisa memproduksi tanpa bisa melakukan penjualan produksnya. Sehingga pemasarannya hanya menunggu kedatangan pedagang dari kota. Termasuk brem yang sudah terbang ke Singapura dan Hongkong itu dieskpor oleh mereka," tandas Windari.
Menurut Windari, hampir seluruh warganya menjadi perajin tradisional kue brem. Namun kini yang masih aktif berproduksi hanya sekitar 52 KK (kepala keluarga). Sedangkan yang lainnya memproduksi jika hendak datang hari besar. Misalnya menjelang lebaran atau tahun baru.
"Kalau semua berproduksi, di desa ini ada sekitar 150-an KK yang membuat brem," kata Kades wanita ini.
Ketika menjelang lebaran tiba, lanjut Windari, setiap petani Kaliabu mampu memproduksi 10-15 kuintal bahan baku beras ketan. Dari jumlah itu setelah diproses masing-masing kuintal beras ketan menghasilkan brem sekitar 100-200 pak. Ramainya pesanan menjelang lebaran itu membuat semua warga praktis sibuk membuat brem.
Sejarah pembuatan kue brem tak diketahui pasti, kapan mulai dilakukan petani Kaliabu. Namun dari cerita sejumlah warga, pembuatan brem di Desa Kaliabu telah dilakukan secara temurun oleh kakek-moyangnya dulu yang tinggal di permukiman menusuk batas kawasan hutan jati pinggiran kota Madiun. Boleh dikata sejak dulu hingga sekarang warga Kaliabu adalah pembuat brem.
Namun sebagian besar dari mereka adalah pembuat brem musiman. Jika ada hari besar, yang berarti pesanan membengkak, hampir semua warga terjun membuat brem.
"Kalau hari-hari biasa seperti saat ini, warga lebih suka mengolah sawah dan ladangnya. Mengeluti dunia pertanian," papar Windari.
Sekalipun hampir semua warga membuat kue brem, namun hanya beberapa yang menyeriusi usahanya dengan mengurus legalitas hukumnya dan memiliki izin dari Depkes RI. Di antaranya adalah perusahaan brem cap Bangku Kencana, Kondang Rasa, Tongkat Mas, dan Madurasa yang telah mengurus izin yang berbentuk UD (usaha dagang).
Mereka yang mengurus izin usaha ini umumnya yang berpengalaman dan bermodal. Selebihnya, petani membuat brem sebagai penghasilan rumah tangga. Karenanya, hanya empat orang yang memiliki izin itu yang mampu memasarkan produknya secara mandiri dan bermodal.
Selama ini perajin brem berkembang secara tradisional. Baik dari prosesing, pemasaran, dan permodalannya. Pasalnya, hingga kini belum ada pihak yang berkompeten memberikan bantuan permodalan dan pemasarannya dengan memadai. Petani perajin brem masih memanfaatkan lahan pertaniannya sebagai modal. Yakni, mereka memproduksi brem setelah berhasil memanen tanamannya atau memanen beras ketan yang ditanamnya.
"Kendala perajin brem di sini hanyalah soal modal. Karena mereka umumnya petani miskin. Mereka baru memproduksi berem setelah berhasil memanen beras ketan dari padi yang ditanamnya," kata Windari.
Demikian perajin brem di Desa Kaliabu ini masih bersifat industri rumahan. Termasuk perajin yang sudah berbadan hukum (mendirikan perusahaan). Sehingga semua tenaga prosesing masih belibatkan keluarga dekat. Termasuk anak-anak petani sepulang sekolah membantu bekerja membuat brem. Ini karena proses pembuatan brem tidak sulit dan membutuhkan banyak tenaga.
"Seluruh pengerjaan pembuatan brem yang industri rumahan dikerjakan oleh anggota keluarga, karena pengerjaan hanya sedikit membutuhkan tenaga," jelas Windari.
Menurut Windari, proses pembuatan kue brem terbilang gampang. Bisa dilakukan siapa saja. Tapi, sekalipun mudah proses pembuatannya butuh waktu seminggu lebih. Untuk membuat brem, terlebih dahulu menanak beras ketan (bahan baku utamanya), caranya seperti menanak nasi. Setelah beras ketan dirasa sudah masak lalu di entas untuk kemudian dibiarkan adem.
Dirasa sudah adem nasi ketannya lalu dilakukan peragian agar menjadi tape ketan. Proses peragian beras ketan untuk menjadi tape ini butuh waktu sekitar 5-7 hari. Setelah menjadi tape diperas sari airnya. Dari air sari tape ketan ini digodok di tungku perapian hingga mendidih dan masak.
Setelah dirasa matang, yang bisa diketahui cairan sari tape itu akan mengental lalu diangkat dan kemudian ditiris di petak-petak papan untuk dibiarkan dingin dan mengeras menjadi brem. Setelah jadi brem lalu dipotong-potong sesuai ukuran yang dikehendaki dan dikemas untuk kemudian dipasarkan.
"Ini proses pembuatan brem yang natural. Untuk yang rasa aneka buah, setelah sari tape dientas dari penggodokan dimasukkan mesin mixer untuk proses pencampuran dengan diadoni manisan rasa sesuai yang diinginkan. Misalnya ingin brem rasa coklat, ya sari tape itu diberi perasa coklat," ungkap Windari.
Maka pembuatan brem ini butuh mesin mixer. Proses ini hanya dilakukan bagi mereka yang sudah menjadi perusahaan (UD) atau pengrajin bermodal. Dengan penggunaan mesin mixer ini pula mereka membutuhkan tenaga khusus. Sehingga prosesnya membutuhkan tenaga lebih dibanding proses pembuatan brem yang rasa natural (asli).
"Untuk yang memproduksi brem non-rasa natural memang tak membutuhkan mesin. Tapi untuk mengolah brem banyak rasa harus mempergunakan mesin mixer, sehingga membutuhkan ada tenaga lagi," kata Joko Waluyo, pengusaha brem UD Tongkat Mas yang mengaku memiliki 15 karyawan ini.
Perajin umumnya melempar hasil produknya ke toko makanan dan kue di kota. Oleh karena itu, brem karya petani desa Kaliabu dikemas dalam bungkus yang rapi dan diberi merek. Tentunya merek tersebut adalah merek toko yang bersangkutan, yang telah membelinya dari petani.
"Jadi sebenarnya brem yang dipasarkan di toko-toko makanan dan toko oleh-oleh dengan berbagai merek itu semuanya hasil produksi petani Desa Kaliabu," kata Joko yang dibenarkan Kades Windari. (Sunarwoto)
BERTANDANG ke Kota atau Kabupaten Madiun, Jawa Timur, rasanya kurang lengkap jika Anda tidak mencicipi penganan tradisional khas daerah ini yaitu brem. Penganan yang berbuat dari sari beras ketan ini bahkan sudah menjadi kewajiban sebagai oleh-oleh atau buah tangan dari kota ini selain sambel pecel.
Brem berasa manis-manis kecut dan maknyess adem di lidah. Unik penuh sensasi rasanya. Kue tradisional khas Madiun ini terbukti disuka banyak orang.
Untuk mendapatkan penganan ini pun tak sulit. Bahkan di luar Madiun pun, terutama di seputaran Jawa Timur wilayah barat, makanan berbentuk pipih berwarna krem ini banyak terpajang di toko-toko penjual makanan atau toko oleh-oleh. Jadi tak ada alasan bagi Anda untuk tidak bisa mendapatkan barang ini jika bepergian atau bertandang di Madiun.
Brem memang cukup populer. Selain harganya murah, juga bisa dimakan siapa saja. Ibaratnya, orang tak bergigi pun dapat menikmati sama enaknya dengan yang bergigi lengkap. Karena memakan penganan ini cukup dikulum, tanpa dikunyah, makanan ini sudah lumat sendiri. Brem boleh dikata bisa dimakan semua umur. Jadi, amat cocok dibuat oleh-oleh bagi siapa saja.
Bahkan sejak lima tahun terakhir ini brem kian populer. Disuka semua kalangan umur. Ini sejak brem memiliki banyak rasa. Ada rasa melon, durian, coklat, strawberry, mangga dan rasa buah-buahan lainnya.
Sejak banyak pilihan rasa tersebut, brem made in madiun ini telah mampu merambah pasar sampai ke mancanegara yakni Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, dan Hongkong. Sekalipun nilainya belum besar, tapi sudah cukup menjadi bekal berpromosi di negara lain.
"Brem dikenal di luar negeri itu awalnya dibawa oleh para TKI kita di sana. Tapi lambat laun ada permintaan dari negeri itu melalui toko-toko penjual makanan dan oleh-oleh di Surabaya, Bali, dan Jakarta," kata Kades Kaliabu Windari kepada Media Indonesia.
Brem memang merupakan hasil olah tangan para petani di Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, sekitar 24 Km arah timur laut Kota Madiun. Hasil karya petani Kaliabu ini juga menjadi produk unggulan Madiun. Berkat penganan ini pula Kota Madiun mendapat julukan sebagai Kota Brem.
Namun petani Kaliabu tetap hanya sebagai produsen. Soal pemasaran mereka tak tahu sama sekali. Sebab, produknya itu semuanya langsung diambil oleh pengusaha toko penjual oleh-oleh di kota. Sehingga mereka pun tidak tahu jika penganan olah tangannya itu telah dicicipi orang luar negeri. Maklum, para pembuat brem mayoritas adalah petani desa yang berpendidikan rendah.
"Semua perajin adalah kalangan petani desa yang tidak memiliki kemampuan di bidang pemasaran. Mereka hanya bisa memproduksi tanpa bisa melakukan penjualan produksnya. Sehingga pemasarannya hanya menunggu kedatangan pedagang dari kota. Termasuk brem yang sudah terbang ke Singapura dan Hongkong itu dieskpor oleh mereka," tandas Windari.
Menurut Windari, hampir seluruh warganya menjadi perajin tradisional kue brem. Namun kini yang masih aktif berproduksi hanya sekitar 52 KK (kepala keluarga). Sedangkan yang lainnya memproduksi jika hendak datang hari besar. Misalnya menjelang lebaran atau tahun baru.
"Kalau semua berproduksi, di desa ini ada sekitar 150-an KK yang membuat brem," kata Kades wanita ini.
Ketika menjelang lebaran tiba, lanjut Windari, setiap petani Kaliabu mampu memproduksi 10-15 kuintal bahan baku beras ketan. Dari jumlah itu setelah diproses masing-masing kuintal beras ketan menghasilkan brem sekitar 100-200 pak. Ramainya pesanan menjelang lebaran itu membuat semua warga praktis sibuk membuat brem.
Sejarah pembuatan kue brem tak diketahui pasti, kapan mulai dilakukan petani Kaliabu. Namun dari cerita sejumlah warga, pembuatan brem di Desa Kaliabu telah dilakukan secara temurun oleh kakek-moyangnya dulu yang tinggal di permukiman menusuk batas kawasan hutan jati pinggiran kota Madiun. Boleh dikata sejak dulu hingga sekarang warga Kaliabu adalah pembuat brem.
Namun sebagian besar dari mereka adalah pembuat brem musiman. Jika ada hari besar, yang berarti pesanan membengkak, hampir semua warga terjun membuat brem.
"Kalau hari-hari biasa seperti saat ini, warga lebih suka mengolah sawah dan ladangnya. Mengeluti dunia pertanian," papar Windari.
Sekalipun hampir semua warga membuat kue brem, namun hanya beberapa yang menyeriusi usahanya dengan mengurus legalitas hukumnya dan memiliki izin dari Depkes RI. Di antaranya adalah perusahaan brem cap Bangku Kencana, Kondang Rasa, Tongkat Mas, dan Madurasa yang telah mengurus izin yang berbentuk UD (usaha dagang).
Mereka yang mengurus izin usaha ini umumnya yang berpengalaman dan bermodal. Selebihnya, petani membuat brem sebagai penghasilan rumah tangga. Karenanya, hanya empat orang yang memiliki izin itu yang mampu memasarkan produknya secara mandiri dan bermodal.
Selama ini perajin brem berkembang secara tradisional. Baik dari prosesing, pemasaran, dan permodalannya. Pasalnya, hingga kini belum ada pihak yang berkompeten memberikan bantuan permodalan dan pemasarannya dengan memadai. Petani perajin brem masih memanfaatkan lahan pertaniannya sebagai modal. Yakni, mereka memproduksi brem setelah berhasil memanen tanamannya atau memanen beras ketan yang ditanamnya.
"Kendala perajin brem di sini hanyalah soal modal. Karena mereka umumnya petani miskin. Mereka baru memproduksi berem setelah berhasil memanen beras ketan dari padi yang ditanamnya," kata Windari.
Demikian perajin brem di Desa Kaliabu ini masih bersifat industri rumahan. Termasuk perajin yang sudah berbadan hukum (mendirikan perusahaan). Sehingga semua tenaga prosesing masih belibatkan keluarga dekat. Termasuk anak-anak petani sepulang sekolah membantu bekerja membuat brem. Ini karena proses pembuatan brem tidak sulit dan membutuhkan banyak tenaga.
"Seluruh pengerjaan pembuatan brem yang industri rumahan dikerjakan oleh anggota keluarga, karena pengerjaan hanya sedikit membutuhkan tenaga," jelas Windari.
Menurut Windari, proses pembuatan kue brem terbilang gampang. Bisa dilakukan siapa saja. Tapi, sekalipun mudah proses pembuatannya butuh waktu seminggu lebih. Untuk membuat brem, terlebih dahulu menanak beras ketan (bahan baku utamanya), caranya seperti menanak nasi. Setelah beras ketan dirasa sudah masak lalu di entas untuk kemudian dibiarkan adem.
Dirasa sudah adem nasi ketannya lalu dilakukan peragian agar menjadi tape ketan. Proses peragian beras ketan untuk menjadi tape ini butuh waktu sekitar 5-7 hari. Setelah menjadi tape diperas sari airnya. Dari air sari tape ketan ini digodok di tungku perapian hingga mendidih dan masak.
Setelah dirasa matang, yang bisa diketahui cairan sari tape itu akan mengental lalu diangkat dan kemudian ditiris di petak-petak papan untuk dibiarkan dingin dan mengeras menjadi brem. Setelah jadi brem lalu dipotong-potong sesuai ukuran yang dikehendaki dan dikemas untuk kemudian dipasarkan.
"Ini proses pembuatan brem yang natural. Untuk yang rasa aneka buah, setelah sari tape dientas dari penggodokan dimasukkan mesin mixer untuk proses pencampuran dengan diadoni manisan rasa sesuai yang diinginkan. Misalnya ingin brem rasa coklat, ya sari tape itu diberi perasa coklat," ungkap Windari.
Maka pembuatan brem ini butuh mesin mixer. Proses ini hanya dilakukan bagi mereka yang sudah menjadi perusahaan (UD) atau pengrajin bermodal. Dengan penggunaan mesin mixer ini pula mereka membutuhkan tenaga khusus. Sehingga prosesnya membutuhkan tenaga lebih dibanding proses pembuatan brem yang rasa natural (asli).
"Untuk yang memproduksi brem non-rasa natural memang tak membutuhkan mesin. Tapi untuk mengolah brem banyak rasa harus mempergunakan mesin mixer, sehingga membutuhkan ada tenaga lagi," kata Joko Waluyo, pengusaha brem UD Tongkat Mas yang mengaku memiliki 15 karyawan ini.
Perajin umumnya melempar hasil produknya ke toko makanan dan kue di kota. Oleh karena itu, brem karya petani desa Kaliabu dikemas dalam bungkus yang rapi dan diberi merek. Tentunya merek tersebut adalah merek toko yang bersangkutan, yang telah membelinya dari petani.
"Jadi sebenarnya brem yang dipasarkan di toko-toko makanan dan toko oleh-oleh dengan berbagai merek itu semuanya hasil produksi petani Desa Kaliabu," kata Joko yang dibenarkan Kades Windari. (Sunarwoto)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ADF)