Tradisi Perang Obor di Desa Tegalsambi Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. (Medcom.id/Rhobi S)
Tradisi Perang Obor di Desa Tegalsambi Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. (Medcom.id/Rhobi S)

Perang Obor Penolak Bala di Tegalsambi

Nasional tradisi
Rhobi Shani • 06 Agustus 2019 11:22
Jepara: Perang lazimnya menimbulkan kebencian dan dendam. Namun itu tak berlaku dalam Perang Obor. Orang-orang yang terlibat dalam peperangan itu justru berharap keselamatan dan tolak bala.
 
Perang Obor adalah ritual khas Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Perang rutin digelar satu tahun sekali dan menjadi ajang tolak bala. Pada Senin malam, 5 Agustus 2019, perhelatan tradisi Perang Obor menyedot ribuan wisatawan.
 
Sebanyak 400 obor digunakan dalam Perang Obor kali ini. Ada 40 peserta laki-laki dalam perang ini. Bagi peserta perang, ada syarat khusus untuk dapat mengikuti Perang Obor.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Yang pertama berani, bernyali dan tidak boleh sama sekali dendam setelah acara," ujar Kepala Desa Tegalsambi Agus Santoso, usai Perang Obor.
 
Obor dibuat dari daun dan pelepah kelapa. Siapa saja yang memegang obor, jadi sasaran. Peserta perang saling pukul dengan obor menyala.
 
Begitu peserta perang mengangkat tinggi Obor, yang lain menyongsong. Lalu saling beradu Obor. Sering Obor mengenai badan peserta. Seketika memercikan api dan debu.
 
"Kalau ada yang terluka sudah disiapkan ramuan minyak kelapa untuk mengobati," kata Santoso.
 
Usai perang, para peserta, langsung membalurkan minyak kelapa yang sudah disiapkan ke tubuh mereka. Mereka, baik lawan ataupun kawan, mengambil minyak dari satu wadah yang sama. Lantas makan bersama-sama.
 
"Tidak ada dendam, karena ini sudah menjadi tradisi," ucap Rifki, seorang peserta Perang Obor.
 
Tidak hanya peserta Perang Obor, warga dan wisatawan yang terkena percikan api juga diobati dengan ramuan minyak kelapa.
 
Tradisi Perang Obor dimulai dari kisah seteru Kiai Babadan dan Mbah Gemblong. Dikisahkan, Kiai Babadan memiliki ternak sapi dan kerbau yang diserahkan pemeliharaanya ke Mbah Gemblong.
 
Namun Mbah Gemblong tak melaksanakan amanat dengan baik. Mbah Gemblong sibuk mengambil ikan di Sungai Kembangan. Sehingga hewan yang digembalakan menjadi kurus, sakit, dan ada yang mati.
 
Kiai Babadan murka lantaran hewan ternak yang diserahkan tidak diurus. Ia kemudian menegur Mbah Gemblong. Karena merasa tak digubris, Babadan melemparkan obor yang digunakan untuk mengusir nyamuk kepada Gemblong.
 
Tak mau kalah, Gemblong membalasnya. Terjadilah saling lempar.
 
Akibat kejadian itu, hewan peliharaan Kiai Babadan ketakutan dan lari keluar kandang. Konon, lokasi kandang terletak di perempatan Desa Tegalsambi, tempat kini, ritus perang Obor dilaksanakan.
 
"Tapi dari aksi saling lempar obor, si hewan peliharaan justru sembuh dari penyakit dan malah gemuk-gemuk. Maka dijadikanlah sebagai tolak bala," ucap perangkat desa Slamet Riyadi.
 

(LDS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif