Langar Merdeka di Laweyan, Solo. Dulunya adalah toko ganja. (Jatengdaily/Yanuar)
Langar Merdeka di Laweyan, Solo. Dulunya adalah toko ganja. (Jatengdaily/Yanuar)

Di Solo Ada Toko Ganja Medis Kok Bisa, Ini Faktanya

Inibaru • 30 Juni 2022 13:52
Solo: Penyebutan langgar sebagai istilah untuk tempat ibadah umat Muslim memang tidak sebanyak masjid atau musala. Tapi, kisah Langgar Merdeka di Solo ini cukup menarik, kabarnya, langgar ini dulunya adalah toko ganja.
 
Langgar ini ada di Laweyan, salah satu kawasan yang dikenal dengan bangunan-bangunan yang kaya akan nilai sejarah, tepatnya di Jalan Dr Radjiman Nomor 565. Lokasinya persis di pinggir jalan Kampung Batik Laweyan.
 
Desain bangunannya sama sekali tidak terlihat seperti langgar, masjid, atau musala. Bangunan ini terlihat seperti ruko dua lantai. Realitanya, langgar yang kini dikelola oleh Yayasan Langgar Merdeka ini memang hanya berada di lantai dua. Di lantai bawah, masih dipakai sebagai pertokoan, meski tentu saja sudah tidak ada lagi toko ganja di sana.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada dinding bangunan tersebut, ditemukan angka 7-7-1877. Diperkirakan, pada tanggal itulah tempat ini kali pertama didirikan. Pemiliknya adalah seorang pedagang Tionghoa yang menjual ganja untuk keperluan medis.
 
Baca: Misteri Makam Ragasemangsang di Purwokerto yang Melintang di Tengah Jalan

Sayangnya, bisnis candu ini tidak begitu laris sehingga tokonya gulung tikar. Bangunan ini kemudian dibeli oleh seorang pengusaha batik asli Laweyan bernama Haji Imam Mashadi dan kemudian direnovasi menjadi langgar. Kali pertama langgar ini dibangun pada 1942 dan rampung pada 29 Februari 1946.
 
“Dibeli oleh H Imam mashadi yang lantas beralih fungsi. Terlihat pada dinding luar atas tulisan pendirian bangunan aslinya, yaitu pada 7 Juli 1877,” tulis Dinas Pariwisata Kota Solo.
 
“Dulu mulai dibangun langgar 1937 dan selesai dibangun pada 1943,” jelas Ketua Yayasan Langgar Merdeka Zulfikar Husain.
 
Soal nama, langgar ini awalnya dikenal dengan sebutan Langgar Al Ikhlas. Alasannya, istilah ‘merdeka’ diharamkan Belanda kala Agresi Militer Belanda II berlangsung pada 1949. Setahun kemudian, barulah nama ‘merdeka’ ini bisa disematkan pada langgar tersebut.
 
Karena dianggap sebagai bangunan kaya sejarah, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menetapkan Langgar Merdeka jadi cagar budaya sejak 2012. Jadi, bangunan ini pun bakal terus dipertahankan bentuk aslinya dan tidak boleh dirusak.
 
(WHS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif