David Hartono, 23, asal Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, penumpang Pesawat AirAsia QZ8501 yang hilang kontak dalam penerbangan Surabaya-Singapura, Minggu (29/12). Dok Keluarga
David Hartono, 23, asal Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, penumpang Pesawat AirAsia QZ8501 yang hilang kontak dalam penerbangan Surabaya-Singapura, Minggu (29/12). Dok Keluarga

AirAsia QZ850 Hilang Kontak

David, Kami Tak Mampu Berpisah...

Palce Amalo • 29 Desember 2014 15:08
"Ce Ting, saya pamit dulu," itu pesan terakhir David Hartono, 23, salah satu penumpang Pesawat AirAsia QZ8501 asal Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur yang hilang dalam penerbangan Surabaya-Singapura, Minggu (29/12/2014).
 
Pesan itu disampaikan kepada Titin Siahaan, sepupu David yang sering dipanggil dengan sebutan Ce Ting. David mengatakan itu pada Minggu subuh sebelum ia bergegas naik pesawat dari Bandara Mali menuju Bandara El Tari Kupang sebelum melanjutkan penerbangan ke Surabaya.
 
Bagi Titin, pesan itu terbilang aneh karena David kalau ke mana-mana paling ia bilang "Saya pulang dulu," jelasnya. Tidak biasa ia pamit seperti itu. Sampai Senin (29/12) pukul 13.00, pesawat yang mengangkut 155 penumpang itu belum ada tanda-tanda ditemukan.

Lebih aneh lagi, beberapa malam sebelumnya Andre Hartono adik laki-lakinya mimpi David kehilangan ponsel di lapangan badminton. Kemudian muncul mendiang ayahnya kemudian menghibur David dan mengajaknya main badminton. "Nah, malam sebelum David berangkat ke Surabaya, ia benar-benar kehilangan handphone di rumahnya, dan baru ditemukan saat akan berangkat," ujar Titin kepada Media Indonesia dengan mata berkaca-kaca.
 
Mungkin, David yang kini menjadi tulang punggung keluarga setelah kepergian ayahnya punya firasat tersendiri sehingga ia pun perlu menitipkan pesan seperti itu. Tidak itu saja, seluruh karyawan di Toko Omega, milik orang tuanya juga ia menyebutkan kalimat yang sama. "Seisi rumah dan karyawan Dia bilang saya pamit dulu," kata Titin.
 
Banyak firasat sebelum kepergian sang sulung ini ke Singapura. Firasat lain seperti raket yang ia digunakan bermain badminton putus, bahkan sampai tiga raket. "Dia juga tidak pernah minta apa-apa dari saya, tetapi satu minggu lalu David datang ke rumah minta dimasakin babi gulung dan ia makan bersama teman-teman pemain badminton," ujarnya.
 
Tidak hanya Titin, dua saudaranya dan sang ibunda yang kini sudah tiba di Surabaya untuk mencari kabar putranya diliputi kecemasan. Pasalnya belum ada kejelasan di mana pesawat AirAsia itu berada."Saya sangat berharap Dia dan seluruh penumpang selamat," ujarnya.
 
Titin mengatakan, sepupunya berangkat ke Singapura bersama tiga rekannya asal Surabaya untuk berlibur. Baru-baru ini mereka menjuarai kontes modifikasi mobil di Surabaya dan untuk merayakan kemenangan tersebut.  David yang tergabung dalam klub Mobil Sport Option, sebelumnya pernah menjuarai kontes yang sama di Jakarta. Ia memang sering bolak-balik Alor-Surabaya untuk mengurus bisnisnya yakni pengadaan suku cadang mobil, sepeda motor dan bahan teknik lainnya.
 
Sebagai tulang punggung keluarga, kendati masih muda, David dikenal pekerja keras. Ia bahkan sedang membangun dua rumah toko di Alor. Satu ruko sudah rampung kini ditempati saudara perempuannya, dan satu ruko lagi sedang dalam pembangunan. "Dia mau buka usaha baru," jelasnya.
 
Karena itu, tidak sejak kabar hilangnya pesawat yang ditumpangi David, keluarga, rekan-rekan dan karyawan dibalut suasana haru. Tidak sedikit dari teman-teman sesama pemain badminton tak kuasa meneteskan air mata mendengar musibah tersebut. "Teman-temannya shok dan sedih, " kata Titin.
 
Mereka tak kuasa berpisah dengan David. Titin tidak pernah lupa keceriaan David ketika menyusun pakaian ke dalam koper untuk berangkat ke Singapura. Dia terlihat bahagia. Karena itu Titin tak kuasa menahan air mata begitu mendengar kabar mencengangkan itu, kemarin. "Air mata saya langsung menetes karena ingat saat-saat terakhir bersamanya," katanya.
 
Bahkan, sejak pesawat itu hilang, televisi di rumahnya tidak pernah dimatikan. Ia tetap terjaga di depan televisi menanti kabar terbaru. "Saya tidak bisa tidur karena terus memikirkan David," ujarnya.
 
Bagi Titin, David tidak mungkin pergi begitu cepat karena masih muda dan banyak rencananya belum tergapai. Salah satunya, ia ingin membahagikan sang ibunda dengan membawanya ziarah ke Gua Lourdes di kaki Pegunungan Pyrenees di barat daya Perancis pada Maret 2015. "Dia bilang akan mendampingi mama ke Lourdes, sehingga tidak tidak mungkin David tidak ditemukan selamat," ungkap Titin pelan.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(JCO)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan