Pengurus Komisi Penanggulangan Aids Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. (Foto: MI/ Gabriel Langga)
Pengurus Komisi Penanggulangan Aids Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. (Foto: MI/ Gabriel Langga)

21 Pengidap AIDS di Sikka Kabur dari Pengobatan, KPA Resah

Media Indonesia.com • 02 Oktober 2021 20:33
Sikka: Sebanyak 21 orang pengidap HIV/AIDS yang terdiri dari pekerja seks, waria, dan laki-laki di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, kabur saat pemulihan kesembuhan. Mereka sudah tiga bulan tidak berobat.
 
Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Sikka pun merasa khawatir dengan kaburnya 21 pengidap atau yang lebih dikenal dengan Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) itu.
 
Pengelola Monev KPA Kabupaten Sikka, Mathilda Gonzali R Putri, mengatakan 21 ODHA yang kabur ini masuk kategori Lost to follow up (LTFU) karena sudah tiga bulan tidak berobat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Mereka kabur, sudah tiga bulan secara berturut-turut tidak konsumsi obat antiretroviral (ARV)," ujar dia, Sabtu, 2 Oktober 2021.
 
Ia menduga 21 ODHA ini tak lagi berada di Kabupaten Sikka. Sebab, KPA sudah melacak sampai rumah namun keberadaan mereka tidak diketahui. Bahkan kata dia, KPA sempat menelepon mereka dan meminta untuk kembali mengikuti pengobatan namun tidak direspons.
 
Baca juga: Kebun Binatang Surabaya Siap Dibuka Besok
 
"Kita duga mereka sudah keluar dari Kabupaten Sikka. Mereka yang kabur ini usianya produktif. Kita sudah berusaha melacak kemana-kemana namun tidak berhasil ditemukan. Kita juga sulit menghubungi mereka sehingga sampai saat ini miskomunikasi. Ada juga yang nomor sudah tidak aktif lagi," papar dia.
 
Mathilda mengaku khawatir apabila mereka yang kabur ini melakukan perilaku seks, dapat menularkan kepada orang.
 
"Kalau mereka yang kabur ini tidak melakukan perilaku seks itu baik. Tetapi kalau mereka melakukan perilaku seks dengan orang lain sangat besar potensi menularkan kepada orang lain. Ini yang kita khawatir saat ini," ujarnya.
 
Sementara itu, Sekretaris KPA Kabupaten Sikka Yohanes Siga pun mengaku pihaknya telah berusaha menghubungi 21 ODHA yang masuk kategori Lost to follow up itu melalui nomor kontak mereka namun tidak bisa dihubungi.
 
"Saat dikontak, ada memang yang tersambung, namun yang bersangkutan tidak angkat. Sebagian besar ODHA yang ini betul-betul tidak bisa dikontak. Mereka yang kabur ini bisa berpotensi menjadi sumber penularan bagi warga lainnya bila melakukan hubungan seks di lingkungan mereka berada saat ini," kata Yan Siga. (Gabriel Langga)
 
(MEL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif