Wakil Bupati Sigi, Samuel Yansen Pongi, meninjau salah satu rumah warga yang terdampak banjir di Desa Sintuwu, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Senin, 14 Maret 2022. ANTARA/Muhammad Hajiji
Wakil Bupati Sigi, Samuel Yansen Pongi, meninjau salah satu rumah warga yang terdampak banjir di Desa Sintuwu, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Senin, 14 Maret 2022. ANTARA/Muhammad Hajiji

Bupati Sigi Sebut Teknologi Bisa Kurangi Risiko Bencana

Antara • 18 Mei 2022 06:36
Sigi: Bupati Sigi, Mohamad Irwan, menyebut perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan sebagai satu pendekatan mitigasi dalam mengurangi risiko bencana alam maupun non-alam.
 
"Ini penting, agar bencana alam seperti gempa bumi risikonya dapat diminimalisir," kata Sigi Mohamad Irwan, di Sigi, Sulteng, Selasa, 17 Mei 2022.
 
Baca: 1.527 Bencana Melanda Indonesia Hingga Medio Mei 2022

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pernyataan Sigi Mohamad Irwan dilontarkan seiring dengan rencana pelaksanaan platform global untuk pengurangan risiko bencana atau Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR).
 
GPDRR merupakan kegiatan dua tahunan yang digagas oleh Badan Pengurangan Risiko Bencana atau United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan GPDRR yang akan dilaksanakan di Bali, 23-28 Mei 2022.
 
Ia mengemukakan bencana alam seperti gempa bumi tidak bisa ditiadakan oleh manusia, namun risiko dampak bencana bisa diminimalisasi oleh manusia, salah satunya dengan pendekatan kearifan lokal dan teknologi, utamanya terkait dengan pembangunan hunian tetap permanen atau bangunan lainnya.
 
Ia menerangkan saat ini perkembangan metode pembangunan rumah yang aman dan nyaman serta ramah gempa, terus berkembang. Dahulu banyak orang menggunakan kayu untuk kusen, daun pintu, atau jendela serta rangka atap, saat membangun rumah atau bangunan lainnya.
 
Namun berkat perkembangan teknologi perlahan-lahan penggunaan kayu mulai ditinggalkan dan diganti dengan baja ringan. "Hal ini sekaligus untuk mengurangi pembalakan hutan secara ilegal di bagian hulu," jelas Sigi.
 
Demikian juga perkembangan struktur rumah tinggal yang selama ini menggunakan metode konstruksi konvensional, yaitu semua tulangan memakai besi beton, katanya, sekarang berkembang dengan menggunakan kawat anyam di mana metode konstruksi ini disebut metode konstruksi ferosemen.
 
Di samping itu, menurut dia, pendekatan budaya kearifan lokal juga penting dalam penanggulangan dampak bencana alam, seperti menerapkan hukum adat untuk larangan kepada masyarakat agar tidak menebang pohon di wilayah hutan dan pegunungan, serta bantaran sungai.
 
"Forum GPDRR diharapkan menghasilkan rekomendasi dan kerangka, seperti kerangka Sendai, yang menjadi acuan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana," ujarnya.
 
 
 
(DEN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif