Morowali: Puluhan nelayan Bahodopi di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, mengalihfungsikan kapal motor tempel atau ketinting yang biasa digunakan untuk mencari ikan menjadi 'taksi laut' untuk menyeberangkan warga setelah akses darat terputus akibat banjir bandang.
"Sudah empat hari ini kami mengangkut penumpang dari Bahodopi ke Bahomotefe, hasilnya lumayan Pak," kata nelayan di Pantai Desa Bahomotefe, Bahar, melansir Antara, Selasa 11 Juni 2019.
Ketinting milik Bahar bisa mengangkut tiga sepeda motor dan 10 penumpang sekali jalan. Sekali menyeberang memakan waktu 45 menit.
Setiap penumpang dipungut ongkos Rp100 ribu dan sepeda motor dibebankan Rp150 ribu. Sedangkan bahan pangan, yakni beras, ikan, daging, daging ayam potong, dan telur dikenai harga tergantung dari hasil tawar menawar.
Bahar mengungkap, bisa lima kali bolak balik Bahodopi-Bahomotefe mengangkut penumpang. Dia mengaku, duit hasil sewa taksi laut cukup menguntungkan.
"Tapi tidak semua uang itu masuk ke kantong kami, karena kami juga membayar buruh untuk menaikkan dan menurunkan sepeda motor. Satu sepeda motor, ongkos angkat dan turun masing-masing Rp50 ribu," ujarnya.
Dia menambahkan, selain itu uang hasil taksi laut juga dipakai untuk membeli bahan bakar. Satu botol berisi sekitar satu liter bahan bakar jenis bensin Rp20 ribu, pada Minggu, 9 Juni 2019, harga bensin per botol mencapai Rp50 ribu.
Sementara setiap kali perjalanan, kapal motor membutuhkan minimal dua liter bensin. Tapi. warga yang menggunakan jasa taksi laut untuk masuk dan keluar dari Bahodopi cukup banyak setelah tiga jembatan menuju ke Bahodopi ambruk dihantam banjir pada Sabtu, 8 Juni 2019.
"Soal penumpang banyak sekali, cuma kapal yang tidak ada," ujar Dola, nelayan lain yang mengoperasikan kapal motor tempel yang disebut ketinting.
Pada Sabtu dan Minggu, penumpang yang masuk dan keluar Bahodopi setelah Idulfitri 1440 Hijriah, ongkos menyeberang menggunakan kapal motor sampai Rp150 ribu per orang dan Rp250 ribu per orang yang membawa sepeda motor.
Sekretaris Desa Leelee, Kecamatan Bahodopi, Abdul Hamid, berharap Pemerintah Kabupaten Morowali menyediakan armada angkutan laut yang lebih murah bagi warga karena ongkos angkut yang dipungut operator ketinting terlalu mahal.
"Seharusnya Pemda menyediakan angkutan laut alternatif karena keterisolasian hubungan darat dari dan ke Bahodopi diperkirakan masih akan berlangsung sampai sepekan ke depan," ujarnya.
Bahodopi adalah pusat kegiatan ekonomi penting dan strategis di Sulawesi Tengah karena menjadi pusat industri pertambangan nikel terbesar di Indonesia. Daerah itu merupakan tempat operasi PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), perusahaan tambang yang mempekerjakan sekitar 35 ribu pekerja untuk memproduksi berbagai jenis produk jadi dan setengah jadi dari nikel serta industri pendukungnya.
Banjir yang merusak jembatan dan jalan membuat akses dari dan menuju ke daerah itu sulit. Kepala Satuan Kerja III Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) XIV Wilayah Sulawesi Tengah Beny Birmansyah mengatakan, bahwa lembaganya mengupayakan penanganan darurat agar dalam tempo empat hari ke depan semua jembatan yang rusak sudah bisa digunakan kembali.
Morowali: Puluhan nelayan Bahodopi di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, mengalihfungsikan kapal motor tempel atau ketinting yang biasa digunakan untuk mencari ikan menjadi 'taksi laut' untuk menyeberangkan warga setelah akses darat terputus akibat banjir bandang.
"Sudah empat hari ini kami mengangkut penumpang dari Bahodopi ke Bahomotefe, hasilnya lumayan Pak," kata nelayan di Pantai Desa Bahomotefe, Bahar, melansir
Antara, Selasa 11 Juni 2019.
Ketinting milik Bahar bisa mengangkut tiga sepeda motor dan 10 penumpang sekali jalan. Sekali menyeberang memakan waktu 45 menit.
Setiap penumpang dipungut ongkos Rp100 ribu dan sepeda motor dibebankan Rp150 ribu. Sedangkan bahan pangan, yakni beras, ikan, daging, daging ayam potong, dan telur dikenai harga tergantung dari hasil tawar menawar.
Bahar mengungkap, bisa lima kali bolak balik Bahodopi-Bahomotefe mengangkut penumpang. Dia mengaku, duit hasil sewa taksi laut cukup menguntungkan.
"Tapi tidak semua uang itu masuk ke kantong kami, karena kami juga membayar buruh untuk menaikkan dan menurunkan sepeda motor. Satu sepeda motor, ongkos angkat dan turun masing-masing Rp50 ribu," ujarnya.
Dia menambahkan, selain itu uang hasil taksi laut juga dipakai untuk membeli bahan bakar. Satu botol berisi sekitar satu liter bahan bakar jenis bensin Rp20 ribu, pada Minggu, 9 Juni 2019, harga bensin per botol mencapai Rp50 ribu.
Sementara setiap kali perjalanan, kapal motor membutuhkan minimal dua liter bensin. Tapi. warga yang menggunakan jasa taksi laut untuk masuk dan keluar dari Bahodopi cukup banyak setelah tiga jembatan menuju ke Bahodopi ambruk dihantam banjir pada Sabtu, 8 Juni 2019.
"Soal penumpang banyak sekali, cuma kapal yang tidak ada," ujar Dola, nelayan lain yang mengoperasikan kapal motor tempel yang disebut ketinting.
Pada Sabtu dan Minggu, penumpang yang masuk dan keluar Bahodopi setelah Idulfitri 1440 Hijriah, ongkos menyeberang menggunakan kapal motor sampai Rp150 ribu per orang dan Rp250 ribu per orang yang membawa sepeda motor.
Sekretaris Desa Leelee, Kecamatan Bahodopi, Abdul Hamid, berharap Pemerintah Kabupaten Morowali menyediakan armada angkutan laut yang lebih murah bagi warga karena ongkos angkut yang dipungut operator ketinting terlalu mahal.
"Seharusnya Pemda menyediakan angkutan laut alternatif karena keterisolasian hubungan darat dari dan ke Bahodopi diperkirakan masih akan berlangsung sampai sepekan ke depan," ujarnya.
Bahodopi adalah pusat kegiatan ekonomi penting dan strategis di Sulawesi Tengah karena menjadi pusat industri pertambangan nikel terbesar di Indonesia. Daerah itu merupakan tempat operasi PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), perusahaan tambang yang mempekerjakan sekitar 35 ribu pekerja untuk memproduksi berbagai jenis produk jadi dan setengah jadi dari nikel serta industri pendukungnya.
Banjir yang merusak jembatan dan jalan membuat akses dari dan menuju ke daerah itu sulit. Kepala Satuan Kerja III Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) XIV Wilayah Sulawesi Tengah Beny Birmansyah mengatakan, bahwa lembaganya mengupayakan penanganan darurat agar dalam tempo empat hari ke depan semua jembatan yang rusak sudah bisa digunakan kembali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(LDS)