Sigi: Hujan deras yang turun selama beberapa jam di Desa Pakuli Utara, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, mengakibatkan debit air sungai menjadi tinggi. Luapan air sungai menyebabkan banjir dan mengakibatkan jalur transportasi utama Palu-Kulawi tergerus air hingga terputus.
Selain jalan putus, banjir juga menyebabkan satu rumah warga hanyut terbawa arus. Sementara satu rumah warga lainnya terendam air dengan ketinggian mencapai hingga satu meter. Mereka awalnya sempat menyelamatkan barang-barang rumah tangganya yang diungsikan ke rumah keluarga.
"Tiba-tiba saya tertidur di rumah tetangga. Pas paginya saya kaget dibangunkan sama semua orang, sudah ramai di halaman rumah, mereka bilang kalau air di belakang rumah saya sudah besar. Tidak sampai setengah jam kemudian rumah saya sudah terbawa air," ujar salah satu warga, Nurlina, Kamis, 13 Oktober 2022.
Nurlina mengatakan rumahnya sudah digenangi air sejak malam. Ia lantas berkemas dan mengungsikan barang-barang rumah tangganya ke rumah saudaranya.
"Pertama rumah masuk air. Setelah itu saya siap-siap kumpul barang. Saya turunkan semua barang dari rumah, dan semakin lama semakin besar airnya, deras. Makin lama makin dekat rumah. Saya panik dan cepat-cepat turunkan barang-barang," ujar Nurlina.
Namun, kondisi itu sempat tidak berlangsung lama, karena sekitar dua jam kemudian air mulai surut.
"Air mulai surut. Saya sedikit tenang, karena saya liat air sudah turun, sudah jauh sedikit dari pondasi rumah. Setelah itu saya tidurkan anak saya dirumah tetangga, dan saya juga tertidur," tuturnya.
Baca: Warga di Kepulauan Sangihe Diimbau Waspada Cuaca Ekstrem
Karena lelah, Nurlina tertidur lelap. Pagi harinya ia terbangun setelah dibangunkan para tetangganya yang sudah ramai berkumpul, karena melihat air semakin deras. Beberapa waktu kemudian Nurlina menyaksikan arus sungai yang membawa rumahnya.
"Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Saya hanya bisa menatap dengan pasrah. Sudah kehendak Allah, kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi," aku Nurlina.
Sebanyak dua kepala keluarga terpaksa mengungsi akibat banjir tersebut. Empat unit alat berat dikerahkan untuk membuka jalur air dan mengantisipasi arus sungai meluap. Sementara korban yang saat ini mengungsi di rumah keluarga berharap mendapatkan bantuan, terutama dari Pemerintah Daerah setempat.
Sigi:
Hujan deras yang turun selama beberapa jam di Desa Pakuli Utara, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, mengakibatkan debit air sungai menjadi tinggi. Luapan air sungai menyebabkan
banjir dan mengakibatkan jalur transportasi utama Palu-Kulawi tergerus air hingga terputus.
Selain jalan putus, banjir juga menyebabkan satu rumah warga hanyut terbawa arus. Sementara satu rumah warga lainnya terendam air dengan ketinggian mencapai hingga satu meter. Mereka awalnya sempat menyelamatkan barang-barang rumah tangganya yang diungsikan ke rumah keluarga.
"Tiba-tiba saya tertidur di rumah tetangga. Pas paginya saya kaget dibangunkan sama semua orang, sudah ramai di halaman rumah, mereka bilang kalau air di belakang rumah saya sudah besar. Tidak sampai setengah jam kemudian rumah saya sudah terbawa air," ujar salah satu warga, Nurlina, Kamis, 13 Oktober 2022.
Nurlina mengatakan rumahnya sudah digenangi air sejak malam. Ia lantas berkemas dan mengungsikan barang-barang rumah tangganya ke rumah saudaranya.
"Pertama rumah masuk air. Setelah itu saya siap-siap kumpul barang. Saya turunkan semua barang dari rumah, dan semakin lama semakin besar airnya, deras. Makin lama makin dekat rumah. Saya panik dan cepat-cepat turunkan barang-barang," ujar Nurlina.
Namun, kondisi itu sempat tidak berlangsung lama, karena sekitar dua jam kemudian air mulai surut.
"Air mulai surut. Saya sedikit tenang, karena saya liat air sudah turun, sudah jauh sedikit dari pondasi rumah. Setelah itu saya tidurkan anak saya dirumah tetangga, dan saya juga tertidur," tuturnya.
Baca:
Warga di Kepulauan Sangihe Diimbau Waspada Cuaca Ekstrem
Karena lelah, Nurlina tertidur lelap. Pagi harinya ia terbangun setelah dibangunkan para tetangganya yang sudah ramai berkumpul, karena melihat air semakin deras. Beberapa waktu kemudian Nurlina menyaksikan arus sungai yang membawa rumahnya.
"Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Saya hanya bisa menatap dengan pasrah. Sudah kehendak Allah, kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi," aku Nurlina.
Sebanyak dua kepala keluarga terpaksa mengungsi akibat banjir tersebut. Empat unit alat berat dikerahkan untuk membuka jalur air dan mengantisipasi arus sungai meluap. Sementara korban yang saat ini mengungsi di rumah keluarga berharap mendapatkan bantuan, terutama dari Pemerintah Daerah setempat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(NUR)