Sekolah Mengaku Terseok-seok Gelar UNBK
Sejumlah siswa SMP di Bekasi, Jawa Barat, mengikuti UNBK pada Selasa 24 April 2018, Ant - Andrianto
Tangerang: Ratusan pelajar dari lima tempat kegiatan belajar (TKB) mengikuti ujian nasional berbasis komputer (UNBK) di SMPN Terbuka 1 Tangerang Selatan, Banten. Wakil Kepala SMPN Terbuka 1 Tangerang Selatan, Tuti Nurasih, mengaku terseok-seok menggelar UNBK.

Tuti mengaku infrastruktur kebutuhan ujian di SMPN Terbuka 1 Tangsel belum memadai. Sekolah hanya memiliki 10 komputer.

"Sisanya menggunakan laptop pinjaman. Total yang dimikili ada 41 komputer dan 7 komputer cadangan," kata Tuti di Tangsel, Kamis, 26 April 2018.


Ia mengaku kendala hanya terjadi di hari pertama. Yaitu jaringan internet terganggu. Tapi, ujarnya, kendala itu terjadi secara nasional.

Peserta UNBK terdiri dari 123 siswa. Mereka berasal dari lima TKB di Tangsel yaitu Kecamatan Jombang, Setu, Pondok Cabe, Pondok Aren, dan Serpong.

“Untuk Tangsel, hanya tinggal sekolah ini yang membuka kelas Terbuka. Ini memang khusus, bisa dibilang sekolah Inklusi,” katanya. 

Ahmad Ramadhan peserta UNBK SMPN Terbuka 1 berharap bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi. Dia yang hanya mengikut kegiatan belajar mengajar tiga kali seminggu itu, yakin mampu mengerjakan soal ujian dengan baik. 

“Kalau soal insyaallah, yakin bisa. Harapannya bisa lanjut SMA, mudah-mudahan ada jalan, ada yang mau membantu,” ucap anak yang juga bekerja sebagai kuli bangunan itu. 

Ucapan senada juga disampaikan Kayla Yusrina Zihni, anak perempuan ini berharap masih bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang lebih tinggi. 

“Cita-cita sih bisa sampai kuliah, inginnya memperbaiki nasib,” ucap Yatim yang sejak kecil ditinggal orang tuanya. 

Dalam pelaksanaannya, Tuti menerangkan, mulanya para siswa kesulitan mengakses komputer, meski sudah tiga kali melakukan simulasi sebelum pelaksanaan UNBK di mulai.  

“Kendala yang dialami para siswa cuma gaptek, padahal sudah uji coba, mungkin dia lupa, jadi kami bantu,” ucapnya. 

Tuti mengatakan semua anak didiknya berasa dari keluarga tak mampu. Ia berharap anak-anak didiknya bisa lulus UN untuk melanjutkan pendidikan lanjutan.

“Doa kami anak-anak semangat sekolah, untuk perbaikan nasib mereka kedepan. Karena banyak alumni terbuka yang bisa membuktikan dan mereka sukses hingga masuk perguruan tinggi negeri paforit. Tahun ini ada alumni terbuka yang masuk ITB, tahun lalu ada yang di STAN, karena kita tidak tahu, mungkin mereka yang miskin ini bisa jadi pemimpin kemudian hari,” ucap dia. 




(RRN)