Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Stok Reagen di Papua Menipis

Nasional Virus Korona
Roylinus Ratumakin • 27 Mei 2020 22:50
Jayapura: Sebanyak 401 sampel swab di Papua, hingga kini belum diperiksa dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Sedangkan, sekira 800 sampel swab dari reaktif rapid test mengantre untuk diperiksa PCR.
 
"Karena stok reagen kita di laboratorium makin menipis, sehingga kita terbatas dan hanya memeriksa sampel swab dari pasien yang harus cepat diketahui hasilnya," kata Jubir Satgas Pencegahan Covid-19 Provinsi Papua, Silwanus Sumule, Rabu, 27 Mei 2020.
 
Dia menerangkan reagen adalah ekstraksi yang digunakan dalam pengecekan spesimen. Reagen mengandung sejumlah senyawa kimia untuk mendeteksi SARS-CoV-2, virus penyebab penyakit covid-19.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Reagen itu bahan kimia yang kalau dicampur-campur akan menghasilkan reaksi yang dipakai untuk mendeteksi virus korona. Kalau reagennya PCR, berarti bahan kimia yang dibutuhkan untuk bisa mendeteksi virus korona yang ada di sampel swab,” katanya.
 
Baca:Wali Kota Jayapura Merespon New Normal
 
Dia menerangkan masifnya rapid test di Bumi Cenderawasih menyebabkan menumpuknya sampel swah yang harus diperiksa dengan PCR. Sementara PCR di Papua hanya tersedia empat unit.
 
"Empat alat PCR tersebut tidak bisa kerja maksimal karena reagen kita yang menipis," ujarnya.
 
Silwanus mengaku sulit mendapatkan reagen, karena semua daerah di Indonesia juga membutuhkan. Sedangkan penyedia reagen di Indonesia terbatas.
 
"Kita juga tak bisa pesan banyak. Contohnya kami pesan 15.000 reagen, namun hanya di berikan 5.000," ungkapnya.
 
Dia menuturkan dampak dari menipisnya reagen yakni banyak pasien yang telah membaik, namun belum bisa dinyatakan sembuh. Karena pemeriksaan swab harus dilakukan dua kali, dan itu membutuhkan reagen.
 
"Saat ini yang kami prioritaskan adalah kecepatan untuk PCR sampel swab hasil rapid reaktif, sehingga bisa cepat menemukan kasus dan segera merawat pasien sebelum masuk fase sakit sedang atau berat," tukasnya.
 

(LDS)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif