Jakarta: Perempuan memegang peranan krusial sebagai pilar penggerak ekonomi domestik, khususnya pada sektor ultramikro di perdesaan. Meski demikian, upaya mendorong literasi finansial dan memandirikan kelompok perempuan pengusaha menghadapi tantangan berlapis yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan metode penyuluhan satu arah yang kaku.
Dalam sesi diskusi Road to Asia Grassroots Forum 2026, Associate Professor FEB UGM, Poppy Ismalina, menyoroti pentingnya merombak strategi pendampingan dan peningkatan kapasitas atau capacity building bagi perempuan agar jauh lebih berdampak nyata serta mampu memitigasi risiko kredit.
Pentingnya Pendampingan Lewat Agen Lokal
Berdasarkan riset dan pengalaman lapangan, efektivitas edukasi keuangan bagi pelaku usaha perempuan akan berlipat ganda jika melibatkan sosok pendamping lapangan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.
"Saya sangat sepakat bahwa capacity building atau pelatihan atau pendampingan bagi perempuan itu masih sangat efektif. Karena bukan sekadar mentransfer sebuah pengetahuan atau informasi, tapi kapasitas yang dilakukan harus memiliki agen lokal yang dekat dengan perempuan pengusaha dalam mendampingi mereka,” jelas Poppy Ismalina, selaku Associate Professor Ilmu Ekonomi, FEB UGM
Kehadiran agen-agen lokal ini bertindak sebagai jembatan yang membangun rasa saling percaya antara lembaga keuangan dengan para nasabah perempuan di daerah.
Mekanisme Penurun Risiko Guncangan Ekonomi
Lebih lanjut, kedekatan emosional dan geografis yang dibangun oleh agen lokal ini terbukti membawa dampak linier pada performa bisnis dan tingkat kepatuhan pembayaran kolektif, yang pada akhirnya menekan potensi kredit bermasalah (non-performing loan).
"Ada kedekatan kelas yang terbangun. Dari sana kemudian berimplikasi pada biaya koleksi atau pembiayaan akan mengalami penurunan, ujung-ujungnya credit market dapat diantisipasi karena kemudian saling kenal, saling berbagi informasi. Ini yang kami namakan sebagai mekanisme memitigasi risiko,” ujar Poppy.
Baca Juga :
Gubernur Maluku Utara Dorong Penguatan Perempuan Pelaku Ultra Mikro lewat PNM Mekaar
Hingga saat ini, model pemberdayaan berbasis komunitas dan sentuhan manusia (human-touch) inilah yang diadaptasi secara masif, salah satunya oleh Amartha yang tercatat telah melayani sekitar 4 juta pelaku usaha ultramikro di seluruh pelosok tanah air.
(Fany Wirda Putri)
Jakarta: Perempuan memegang peranan krusial sebagai pilar penggerak ekonomi domestik, khususnya pada sektor ultramikro di perdesaan. Meski demikian, upaya mendorong literasi finansial dan memandirikan
kelompok perempuan pengusaha menghadapi tantangan berlapis yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan metode penyuluhan satu arah yang kaku.
Dalam sesi diskusi Road to Asia Grassroots Forum 2026, Associate Professor FEB UGM, Poppy Ismalina, menyoroti pentingnya merombak strategi pendampingan dan peningkatan kapasitas atau capacity building bagi perempuan agar jauh lebih berdampak nyata serta mampu memitigasi risiko kredit.
Pentingnya Pendampingan Lewat Agen Lokal
Berdasarkan riset dan pengalaman lapangan, efektivitas edukasi keuangan bagi pelaku usaha perempuan akan berlipat ganda jika melibatkan sosok pendamping lapangan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.
"Saya sangat sepakat bahwa capacity building atau pelatihan atau pendampingan bagi perempuan itu masih sangat efektif. Karena bukan sekadar mentransfer sebuah pengetahuan atau informasi, tapi kapasitas yang dilakukan harus memiliki agen lokal yang dekat dengan perempuan pengusaha dalam mendampingi mereka,” jelas Poppy Ismalina, selaku Associate Professor Ilmu Ekonomi, FEB UGM
Kehadiran agen-agen lokal ini bertindak sebagai jembatan yang membangun rasa saling percaya antara lembaga keuangan dengan para nasabah perempuan di daerah.
Mekanisme Penurun Risiko Guncangan Ekonomi
Lebih lanjut, kedekatan emosional dan geografis yang dibangun oleh agen lokal ini terbukti membawa dampak linier pada performa bisnis dan tingkat kepatuhan pembayaran kolektif, yang pada akhirnya menekan potensi kredit bermasalah (non-performing loan).
"Ada kedekatan kelas yang terbangun. Dari sana kemudian berimplikasi pada biaya koleksi atau pembiayaan akan mengalami penurunan, ujung-ujungnya credit market dapat diantisipasi karena kemudian saling kenal, saling berbagi informasi. Ini yang kami namakan sebagai mekanisme memitigasi risiko,” ujar Poppy.
Hingga saat ini, model pemberdayaan berbasis komunitas dan sentuhan manusia (human-touch) inilah yang diadaptasi secara masif, salah satunya oleh Amartha yang tercatat telah melayani sekitar 4 juta pelaku usaha ultramikro di seluruh pelosok tanah air.
(Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)