Prajurit melakukan penjagaan saat lockdown berlangsung di Afrika Selatan. Foto: AFP
Prajurit melakukan penjagaan saat lockdown berlangsung di Afrika Selatan. Foto: AFP

Afrika Selatan Lockdown, Militer Dikerahkan

Internasional Virus Korona afrika selatan Coronavirus virus corona
Marcheilla Ariesta • 27 Maret 2020 13:42
Johannesburg: Afrika Selatan melakukan penutupan total secara nasional untuk menghentikan penyebaran virus korona covid-19. Penutupan menyeluruh atau lockdown dilakukan mulai hari ini, Jumat, 27 Maret 2020 hingga tiga pekan ke depan.
 
Semua, kecuali kebutuhan yang penting dilarang. Baik polisi maupun tentara dikerahkan untuk menegakkan tindakan tersebut.
 
Dilansir dari BBC, Jumat, 27 Maret 2020, sehari sebelum penguncian, terlihat antrean panjang di luar supermarket. Masyarakat mengantre untuk membeli barang kebutuhan pokok.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Afrika Selatan melaporkan ada 927 infeksi virus korona yang merupakan angka tertinggi di Afrika. Meski demikian, sejauh ini tidak ada kematian akibat virus tersebut.
 
Kamis malam, Presiden Cyril Ramaphosa mengunjungi tentara sebelum mereka dikerahkan dari sebuah pangkalan di kota Soweto, Johannesburg.
 
"Saya mengutus Anda untuk pergi dan membela orang-orang kita dari virus korona," kata mengenakan seragam kamuflase.
 
"Ini belum pernah terjadi sebelumnya, tidak hanya dalam demokrasi kita, namun juga dalam sejarah negara. Bahwa kita akan mengunci negara ini selama 21 hari untuk keluar dan berperang melawan musuh yang tidak terlihat, virus korona," imbuhnya.
 
Toko makanan tetap diizinkan untuk buka, namun penjualan alkohol dilarang. Menteri Kepolisian Bheki Cele mendesak warga Afrika Selatan untuk tetap waspada selama penutupan.
 
Warga juga dilarang untuk jogging dan mengajak anjing atau hewan peliharaan mereka berjalan-jalan. Pihak berwenang memperingatkan siapa pun yang melanggar aturan tersebut akan menghadapi hukuman enam bulan penjara atau denda berat.
 
"Jika orang tidak patuh, mereka (militer) mungkin terpaksa mengambil tindakan luar biasa," jelas Menteri Pertahanan Nosiviwe Mapisa-Nqakula.
 
Selain korona, ada kekhawatiran tambahan di Afrika Selatan, terlebih bagi mereka yang hidup dengan HIV. Diperkirakan sebanyak 2,5 juta warga di Afrika Selatan tidak memakai obat anti-retroviral untuk mencegah penyakit tersebut bertambah parah.

Khawatir penjarahan


Isolasi sosial dan menjaga jarak adalah kemewahan yang hampir tidak mampu dimiliki oleh penduduk kota. Penduduk perlu bekerja atau mereka tidak mungkin makan. Ini adalah fakta kehidupan lain di Afrika Selatan.
 
Sementara pemerintah melaksanakan penutupannya secara nasional, penduduk permukiman miskin di kota Port Elizabeth memblokir jalan dan membakar bus untuk memprotes layanan yang buruk dan listrik yang tidak ada. Tampaknya hanya sedikit yang mengerti mengapa Presiden Ramaphosa peduli dengan virus.
 
"Kami mengatakan kepada pemerintah: kondisi kehidupan kami layak mendapat perhatian yang sama dengan virus korona,” kata pemimpin masyarakat, Sipho Ntsondwa.
 
Tantangan yang dihadapi orang-orang yang menjalankan negara ini sangat besar dan, saat penguncian berlaku, virus korona hanya mewakili salah satunya. Ancaman kriminal termasuk penjarahan termasuk di dalamnya.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif