Presiden Iran Ebrahim Raisi hadir secara virtual dalam menyampaikan pidato di Sidang ke-76 Majelis Umum PBB di New York,, AS, 21 September 2021. (POOL / Getty / AFP)
Presiden Iran Ebrahim Raisi hadir secara virtual dalam menyampaikan pidato di Sidang ke-76 Majelis Umum PBB di New York,, AS, 21 September 2021. (POOL / Getty / AFP)

Presiden Iran Ebrahim Raisi Kecam AS dalam Pidato Perdana di PBB

Willy Haryono • 22 September 2021 14:54
Teheran: Presiden baru Iran Ebrahim Raisi mengecam Amerika Serikat (AS) yang terus menjatuhkan sanksi kepada Teheran. Kecaman keras itu disampaikan dalam pidato perdana Raisi sebagai Presiden Iran di Sidang ke-76 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa, 21 September.
 
Menurut Raisi, sanksi ekonomi AS terhadap Iran dapat disebut sebagai "sebuah mekanisme perang."
 
Pernyataan keras Raisi berbeda dengan pendekatan yang dilakukan pendahulunya, Hassan Rouhani. Biasanya, Rouhani selalu mengambil pendekatan moderat saat berbicara di Sidang Majelis Umum PBB.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Raisi, yang dilantik sebagai presiden Iran bulan lalu, adalah seorang ulama konservatif yang merupakan salah satu orang dekat pemimpin agung Ayatollah Ali Khamenei.
 
"Rentetan sanksi adalah cara baru AS dalam berperang dengan negara-negara di dunia," tutur Raisi, dilansir dari laman ynetnews, Rabu, 22 September 2021.
 
Sanksi ekonomi AS yang dijatuhkan selama pandemi Covid-19, lanjut Raisi, dapat dikategorikan sebagai "kejahatan terhadap kemanusiaan."
 
Baca:  Presiden Terpilih Iran Enggan Bertemu dengan Joe Biden
 
Walau tetap membolehkan adanya penyaluran bantuan kemanusiaan, sanksi AS terhadap Iran membuat Teheran kesulitan membeli obat-obatan dan peralatan medis untuk menangani pandemi Covid-19.
 
Iran telah beberapa kali bertahan di tengah gelombang Covid-19, dengan angka kematian hampir mencapai 118 ribu -- tertinggi di kawasan Teluk.
 
Menyinggung mengenai penyerbuan massa ke Gedung Capitol di Washington pada Januari, dan juga kekacauan evakuasi di Kabul bulan lalu, Raisi menyebut AS sebagai negara yang tidak bisa dipercaya.
 
"Sistem hegemoni AS sudah tidak memiliki kredibilitas, baik di dalam maupun luar negara itu," ungkap Raisi.
 
"Proyeksi identitas Barat AS telah berakhir gagal. AS bukan memiliki keluar dari Irak dan Afghanistan, tapi diusir," pungkasnya.
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif