Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurashi tewas dalam serangan AS di Suriah. Foto: BBC
Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurashi tewas dalam serangan AS di Suriah. Foto: BBC

Profil Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurashi, Pemimpin ISIS yang Tewas di Suriah

Adri Prima • 04 Februari 2022 20:02
Pemimpin kelompok Islamic State (ISIS), Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurashi dinyatakan tewas dalam serangan pasukan khusus AS di Suriah pada Kamis, 3 Februari 2022.
 
Lahir di kota Tal Afar di Irak utara, Abu Ibrahmim diperkirakan berusia 40-an. Nama Qurashi mentereng di jajaran kelompok ekstremis. Pencapaiannya merupakan sesuatu yang jarang terjadi bagi non-Arab, khususnya yang lahir dalam keluarga Turkmenistan.
 
“Menjadi tentara Irak di bawah Saddam Hussein, mendiang diktator yang digulingkan oleh invasi pimpinan AS ke Irak pada tahun 2003, Qurashi bergabung dengan barisan Al-Qaeda setelah Hussein ditangkap oleh pasukan AS pada tahun 2003,” demikian menurut Proyek Kontra Ekstremisme (CEP), dikutip AFP, Jumat, 4 Februari 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Pada 2004, ia ditahan oleh pasukan AS di penjara Camp Bucca yang terkenal di Irak selatan, tempat Baghdadi dan sejumlah tokoh ISIS di masa depan bertemu,” imbuh laporan CEP.

Sepak terjang Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurashi yang berjuluk 'si Penghancur'


Pria yang dijuluki ‘si Penghancur’ tersebut dikenal sebagai aktor pembantaian etnis Yazidi sebelum mengambil alih kepemimpinan.
 
Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurashi, juga dikenal sebagai Amir Mohammed Said Abd al-Rahman al-Mawla, mengambil alih jaringan teroris ISIS dua tahun lalu setelah pendirinya Abu Bakr al-Baghdadi meledakkan dirinya dalam serangan pasukan khusus AS pada Oktober 2019.
 
Dianggap sebagai sosok low-profile tapi brutal, Qurashi sebagian besar terbang di bawah radar intelijen Irak dan AS. Dia mengambil alih pada saat ISIS telah dilemahkan oleh serangan pimpinan AS selama bertahun-tahun dan hilangnya ‘kekhalifahan’ yang diproklamirkan sendiri di Suriah dan Irak utara.
 
Kementerian Luar Negeri AS memberikan hadiah USD10 juta untuk kepalanya dan menempatkannya dalam daftar "Teroris Global yang Ditunjuk Secara Khusus". 
 
Qurashi tetap berada di sisi Baghdadi saat ia mengambil kendali cabang Al-Qaeda Irak pada 2010, kemudian membelot untuk mendirikan Negara Islam Irak (ISI), kemudian Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
 
“Pada tahun 2014, Qurashi membantu Baghdadi menguasai kota utara Mosul,” kata CEP. 
 
Lembaga analisis tersebut mengatakan bahwa Qurashi "dengan cepat memantapkan dirinya di antara jajaran senior pemberontak dan dijuluki 'Profesor' dan 'Penghancur'.
 
“Dia sangat dihormati di antara anggota ISIS sebagai ‘pembuat kebijakan brutal’ dan bertanggung jawab untuk menghilangkan mereka yang menentang kepemimpinan Baghdadi,” imbuh pihak CEP.
 
Seorang analis di Universitas Sciences Po di Paris, Prancis Jean-Pierre Filiu mengatakan, Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurashi memainkan peran utama dalam kampanye militan likuidasi minoritas Yazidi (Irak) melalui pembantaian, pengusiran dan perbudakan seksual. 
 
Damien Ferre, Direktur Konsultan Jihad Analytics, mengatakan bahwa warisan Qurashi akan menjadi penguatan cabang ISIS di Afghanistan, yang semakin aktif sejak Amerika Serikat setuju pada 2020 untuk menarik pasukannya dari negara itu.
 
Peneliti lain juga melihat munculnya cabang ISIS di sekitar Danau Chad di Afrika barat sebagai hal yang signifikan, dengan kelompok tersebut berhasil menarik pejuang dari jajaran kelompok teror Nigeria Boko Haram.
 
(PRI)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif