Sebuah alat deteksi ranjau. Foto: AFP
Sebuah alat deteksi ranjau. Foto: AFP

Ranjau Darat di Libya Renggut 130 Nyawa dalam Dua Tahun

Internasional Ledakan libya human rights Khalifa Haftar
Medcom • 29 April 2022 07:18
Tripoli: Human Rights Watch (HRW) pada Rabu, 27 April 2022 mengungkapkan setidaknya 130 orang tewas akibat ranjau darat dan bahan peledak lainnya usai perang di sekitar ibu kota Libya tahun 2020. Sebagian besar korban merupakan warga sipil.
 
Bahan peledak, termasuk ranjau darat yang dilarang dan bahan peledak jebakan, disebar di pinggiran kota Tripoli selama pertempuran sengit pada 2019-2020, ketika komandan militer yang berbasis di timur, Khalifa Haftar, mencoba merebut ibu kota.
 
Saat Haftar mundur dari Tripoli pada Juni 2020 dengan kedua pihak menandatangani gencatan senjata, bahaya masih mengancam. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Pasukan yang bersekutu dengan Khalifa Haftar menaruh ranjau darat dan peledak modifikasi yang menewaskan dan melukai ratusan warga sipil termasuk anak-anak, dan menghambat penduduk Tripoli pulang ke rumah,” kata Hanan Salah, Direktur HRW untuk Libya, dilansir dari Yahoo News, Kamis, 28 April 2022.
 
Mengutip data Pusat Aksi Ranjau Libya (LMAC) bentukan Kementerian Pertahanan, HRW menyampaikan setidaknya 130 tewas, 200 luka-luka, dan ribuan warga terpaksa mengungsi dari tempat tinggalnya.
 
Berbagai bahan peledak mengakibatkan kontaminasi sekitar 720 kilometer persegi di selatan Tripoli.
 
Negara Afrika Utara itu mengalami kekacauan setelah pemberontakan, yang didukung NATO pada 2011, digulingkan hingga berujung pada pembunuhan diktator lama Moamer Kadhafi.  Pertempuran pun melibatkan sejumlah kekuatan regional dan tentara bayaran asing.
 
Turki mengerahkan pasukan dan kelompok bersenjata pro-Ankara dari Suriah untuk menopang pemerintah Tripoli. Di sisi sebaliknya, Wagner dari Rusia mengirimkan tentara bayaran mendukung Haftar.
 
“Hingga kini, tidak ada komandan Libya atau pasukan asing yang diminta pertanggungjawaban atas kekerasan selama perang Tripoli 2019-2020,” ujar Salah. “Aksi internasional dibutuhkan agar tuntutan kredibel bisa terwujud.”
 
Membersihkan ranjau-ranjau darat bukanlah hal yang mudah dilakukan.
 
Selain kurangnya dana dan keahlian di bidang tersebut, upaya mengangkat ranjau darat terhambat oleh “pemerintah yang terpecah-pecah dan kurangnya koordinasi antara lembaga pemerintah dan organisasi kemanusiaan,” sebagaimana dikatakan HRW. (Kaylina Ivani)
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif