Presiden Lebanon Michel Aoun. (DALATI AND NOHRA/AFP)
Presiden Lebanon Michel Aoun. (DALATI AND NOHRA/AFP)

Presiden Lebanon Minta Aksi Boikot Pemerintah Segera Diakhiri

Internasional Lebanon Ledakan Lebanon
Medcom • 28 Desember 2021 15:38
Beirut: Presiden Lebanon Michel Aoun menyerukan diakhirinya aksi memboikot pemerintah pada Senin, 27 Desember. Seruan tersebut secara implisit mengkritik sekutunya, Hizbullah, yang telah menghalangi pertemuan kabinet sejak Oktober lalu atas tuntutan memecat seorang hakim.
 
Dilansir dari AFP, Selasa, 28 Desember 2021, pemerintahan baru Lebanon yang dibentuk sejak September lalu belum pernah menggelar pertemuan kabinet selama lebih dari dua bulan sejak 12 Oktober. Lebanon membentuk pemerintahan baru dalam upaya mengatasi krisis keuangan terburuk di negara tersebut.
 
Hizbullah, kelompok Syiah yang didukung Iran, dan gerakan Amal pimpinan ketua parlemen Nabih Berri, diketahui sebagai dua pihak di balik boikot pemerintah Lebanon. Keduanya menuntut penggantian hakim bernama Tarek Bitar yang saat ini sedang menyelidiki ledakan besar di ibu kota Beirut pada Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ledakan di area gudang pelabuhan Beirut menewaskan sedikitnya 215 orang dan merusak banyak bangunan di wilayah ibu kota. Pejabat tinggi politik dan keamanan mengetahui bahaya yang ditimbulkan dari penyimpanan pupuk amonium nitrat di dalam gudang, namun mereka tidak melakukan tindakan apa-apa.
 
Upaya Bitar dalam menginterogasi sejumlah mantan menteri terhalang tuntutan hukum. Sementara Hizbullah dan Amal menuduh sang hakim sengaja mempolitisasi penyelidikan.
 
Baca:  Peringatan Setahun Ledakan di Beirut Diwarnai Bentrokan
 
"Merupakan hal penting bagi kabinet untuk bertemu dan memperbaiki masalah di Dewan Menteri," kata Aoun dalam pidato yang disiarkan televisi.
 
Lebanon tengah bergulat dengan krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya, dilabeli oleh Bank Dunia sebagai salah satu yang terburuk di planet Bumi sejak pertengahan abad ke-19.
 
Lebih dari 80 persen penduduk Lebanon hidup dalam kemiskinan, dan mata uang lokal dilaporkan telah kehilangan lebih dari 90 persen nilainya di pasar gelap. Pertengkaran politik pun telah menghambat pemulihan keuangan, termasuk pembicaraan dengan Dana Moneter Internasional (IMF).
 
Aoun mengatakan pada pekan lalu, Lebanon akan membutuhkan "enam sampai tujuh tahun" untuk bisa keluar dari krisis. Sementara beberapa ahli mengatakan waktu yang dibutuhkan lebih lama dari itu. (Nadia Ayu Soraya)
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif