Personel penjaga perrdamaian PBB asal Indonesia saat menjalankan misi MINUSCA di Republik Afrika Tengah, 16 Oktober 2020. (CHAIDEER MAHYUDDIN / AFP)
Personel penjaga perrdamaian PBB asal Indonesia saat menjalankan misi MINUSCA di Republik Afrika Tengah, 16 Oktober 2020. (CHAIDEER MAHYUDDIN / AFP)

Kisah Perempuan Penjaga Perdamaian PBB Bertugas di Daerah Konflik

Marcheilla Ariesta • 17 Agustus 2021 12:00
Abuja: Indonesia boleh berbangga karena para polisi wanitanya (polwan) ditugaskan sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB di Republik Afrika Tengah (MINUSCA). Bahkan, para polisi perempuan ini merupakan yang pertama ditugaskan di misi tersebut.
 
Staf logistik UNPOL MINUSCA, Bripka Eka Diah Paswari menuturkan, para polwan dari Indonesia merupakan polisi perempuan pertama yang ditempatkan di bagian logistik. Padahal, biasanya unit logistik diisi oleh polisi pria.
 
Ia menuturkan, pekerjaannya tetap sama dengan para polisi pria lainnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini misi kedua kami, dan kami dipercaya untuk bergabung," terangnya dalam bincang dengan PTRI New York, Senin, 16 Agustus 2021.
 
Bripka Eka menambahkan, semua memiliki tanggung jawab yang sama. Namun, biasanya masyarakat lokal lebih banyak berinteraksi dengan para pasukan perempuan.
 
"Perempuan, baik ibu-ibu maupun anak-anak sering sekali berinteraksi dengan kami. Mereka lebih mudah bertegur sapa atau berbicara dengan para polisi perempuan," terangnya. Ia menuturkan, karena hal tersebut, PBB mulai menambah pasukan wanita sebagai garda terdepan dalam perdamaian di seluruh dunia.
 
Seleksi yang Ketat
 
Menjadi pasukan penjaga perdamaian perempuan bukan hal mudah. Untuk seleksi semuanya berpusat di New York, Amerika Serikat.
 
Kemampuan berbahasa asing, seperti Inggris dan Prancis menjadi salah satu yang utama dalam seleksi tersebut. Selain itu, kemampuan seperti menembak juga diperlukan.
 
"Tapi kemampuan menembak ini bukan mandatory. Karena kita punya dua misi, yaitu misi bersenjata dan tidak bersenjata. Semisal tidak lulus menembak, bisa ditempatkan di misi tidak bersenjata," terang Bripka Eka.
 
Namun, semuanya bermula dengan seleksi dari Mabes Polri. "Jadi proses seleksi itu kebetulan sangat panjang dan cukup ketat," serunya.
 
Suka Duka dalam Bertugas
 
Meski demikian, kata Eka, ia merasakan lebih banyak suka dalam menjalankan tugasnya sebagai penjaga perdamaian PBB. Salah satunya dapat berbaur dengan masyarakat lokal.
 
Ia menuturkan, selama ini mereka tinggal di rumah penduduk. Hal ini dilakukan untuk bisa bercengkrama dengan penduduk lokal dan membantu saat mereka membutuhkan.
 
Meski demikian, ia mengaku situasi di tempatnya bertugas sangat tidak menentu. Karenanya, kemana-mana mereka diharuskan membawa senjata untuk masing-masing personel.
 
Selain itu, iklim yang berbeda juga menjadi kendala. Pasalnya, iklim di wilayah tersebut sangat panas. "Jadi kita harus pandai-pandai menjaga diri," ujarnya.
 
Salah satu poin penting yang ditekankan Kementerian Luar Negeri RI dalam Meningkatkan Keselamatan dan Kinerja Misi Pemeliharaan Perdamaian (MPP) PBB adalah pemajuan peranan perempuan. Itu karena perempuan memegang peranan penting dalam pencegahan konflik, manajemen konflik, dan bina damai setelah konflik.
 
Saat ini, Indonesia menduduki posisi 8 dari 124 negara penyumbang personel terbesar dengan 3.080 personel, 106 di antaranya perempuan (female peacekeepers), dan bertugas di 8 misi perdamaian PBB.
 
Perempuan dinilai lebih peka terhadap situasi lingkungan dan budaya setempat sehingga meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap keberadaan penjaga perdamaian perempuan. Keberadaan penjaga perdamaian perempuan dinilai memberikan rasa aman dan nyaman terutama bagi anak-anak dan perempuan yang seringkali menjadi korban kekerasan seksual dalam suatu konflik.
 
Baca:  Penjaga Perdamaian PBB dari Indonesia Terima Medali di HUT ke-76 RI
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif