Presiden Otoritas Palestina (kanan) bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Sochi, 23 November 2021. (Yevgeny BIYATOV / POOL / AFP)
Presiden Otoritas Palestina (kanan) bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Sochi, 23 November 2021. (Yevgeny BIYATOV / POOL / AFP)

Presiden Palestina Dukung Putin yang Kecam Pendudukan Ilegal Israel

Internasional Palestina israel palestina Vladimir Putin rusia Israel Rusia-Ukraina Mahmoud Abbas Masjid Al-Aqsa Perang Rusia-Ukraina
Medcom • 19 April 2022 13:01
Ramallah: Presiden Otoritas Palestina (PA) Mahmoud Abbas menyatakan dukungan untuk Presiden Rusia Vladimir Putin atas sikapnya terkait Ukraina. Dukungan disampaikan melalui panggilan telepon pada Senin, 18 April 2022.
 
Saat invasi Rusia terhadap Ukraina memasuki minggu kedelapan, Abbas mengatakan kepada Putin bahwa PA mendukung "sikap (Putin) dalam mengejar upaya menemukan penyelesaian negosiasi untuk krisis Ukraina," menurut ringkasan yang dirilis kantor berita resmi Palestina, Wafa.
 
Sementara Putin berjanji untuk menyediakan gandum, material, dan tanaman pangan kepada Palestina serta negara importir lainnya di Timur Tengah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sanksi internasional terhadap Rusia sejauh ini tidak secara langsung dijatuhkan ke sektor pertanian. Rusia, yang berperan menyediakan 17 persen dari pasokan gandum global, mencatat nilai ekspor gandum signifikan Maret lalu.
 
Kepada Abbas, Putin juga menyatakan bahwa dukungan Rusia kepada rakyat Palestina akan terus berlanjut di level Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan forum internasional lainnya.
 
Membahas bentrokan pekan lalu antara pasukan keamanan Israel dan warga Palestina di Temple Mount, Yerusalem, Putin "menekankan penolakannya terhadap praktik Israel yang menghambat jemaah untuk mengakses Masjid Al-Aqsa, serta perlunya menghormati status resmi Masjid Al-Aqsa dan Yerusalem," lapor Wafa.
 
Baca:  Putin Telepon Presiden Palestina, Kritik Kebijakan Israel di Masjid Al-Aqsa
 
Abbas sendiri memiliki hubungan dekat dengan Rusia yang mencerminkan ikatan antara Moskow dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Awal 1980-an, Abbas menempuh pendidikan di Uni Soviet, di mana ia diberikan gelar doktor atas disertasi yang secara keliru menyatakan bahwa gerakan Zionis memiliki tingkat kejahatan yang sama dengan rezim Nazi terkait Holocaust selama Perang Dunia II.
 
Pada 2016, peneliti Israel dari Universitas Ibrani di Yerusalem menemukan dokumen dari era Uni Soviet yang mencantumkan Abbas sebagai agen mata-mata KGB. Dugaan ini dibantah pemimpin Palestina itu, dengan menyebutnya sebagai sebuah rekayasa Israel.
 
Dokumen yang dikonfirmasi asli oleh Pusat Arsip Churchill di Universitas Cambridge itu mengidentifikasi Abbas sebagai "Krotov," kata dalam bahasa Rusia yang berarti agen rahasia. Data untuk Abbas mencantumkan dirinya "lahir di 1935, asal Palestina, anggota komite eksekutif Fatah, PLO, Damaskus, agen KGB."
 
Dalam peristiwa terpisah pada Minggu, 17 April 2022, perwakilan Israel di Moskow dipanggil ke Kementerian Luar Negeri Rusia. Duta Besar Alexander Ben Zvi diberitahu bahwa Rusia marah akan kecaman berulang yang disampaikan Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid atas tindakan Moskow di Ukraina.
 
Kemenlu Rusia mengeluarkan pernyataan yang menuduh Israel telah melakukan upaya terselubung untuk mengambil keuntungan dari situasi di Ukraina, dalam rangka mengalihkan perhatian masyarakat internasional dari salah satu konflik tertua di dunia, yakni konflik Palestina-Israel.
 
Dalam pernyataan yang sama, Rusia secara resmi menentang pendudukan ilegal dan pencaplokan wilayah Palestina oleh Israel.
 
"Keputusan Israel untuk mempertahankan penjajahan terlama dalam sejarah dunia pascaperang dilakukan dengan kerja sama diam-diam dari negara-negara Barat dan dukungan nyata dari Amerika Serikat," pungkas Kemenlu Rusia. (Kaylina Ivani)
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif