NEWSTICKER
Ilustrasi oleh Medcom.id.
Ilustrasi oleh Medcom.id.

Sasar Israel, Kelompok Baru Irak Klaim Serangan ke Pasukan AS

Internasional amerika serikat irak serangan bom
Arpan Rahman • 20 Maret 2020 15:07
Baghdad: Seorang milisi Irak mengklaim serangkaian serangan roket yang menargetkan pasukan Amerika Serikat dan mitranya. Ia mengaku para pejuangnya hendak menyerang Israel.
 
Dalam salah satu dari dua video yang diposting Selasa dan Rabu oleh milisi Muslim Syiah baru yang menamakan dirinya Usbat al-Thayireen, atau Liga Revolusioner, tampil seorang pria bertopeng yang memegang senapan serbu gaya Kalashnikov. Ia memperingatkan serangan roket baru-baru ini terhadap Al-Taji dan Kamp militer Basmaya "dan apa pun yang akan terjadi jauh di luar itu" hanyalah permulaan.
 
"Itu adalah kekuatan paling kecil yang dapat kita gunakan untuk melawan mereka," kata sang tokoh, yang memperingatkan mereka memiliki senjata jarak jauh yang dapat membunuh Israel.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia kemudian secara langsung berbicara kepada Presiden Donald Trump dan teman-teman dari dua personel AS yang terbunuh bersama seorang anggota dinas AS oleh roket Katyusha di Al-Taji pekan lalu. Seraya mendesak mereka "untuk pergi sebelum kami memaksa mereka."
 
Pernyataan tersebut merupakan ancaman terbaru terhadap koalisi pimpinan AS yang telah memerangi kelompok militan Islamic State (ISIS) sejak 2014. Sejak AS-Iran tidak sepakat atas perjanjian nuklir multilateral pada 2018, milisi Muslim Syiah yang didukung Teheran telah muncul sebagai musuh berbahaya bagi AS dan sekutunya.
 
Pentagon menyalahkan sebagian besar serangan roket yang tidak diklaim terhadap personel AS di Irak pada kelompok lain yang disebut Kataib Hezbollah. Paramiliter yang didukung Iran ditunjuk sebagai organisasi teroris oleh Washington pada 2009 ketika pasukan AS berhadapan dengan mereka dan kelompok-kelompok jihad Muslim Sunni seperti Al Qaeda.
 
Ketika ISIS menyapu Irak, AS dan Iran saling membantu. Kataib Hezbollah bergabung dengan milisi Muslim Syiah lainnya yang sebagian besar terdiri dari Pasukan Mobilisasi Populer, sebuah kolektif yang disponsori negara Irak yang telah diperluas untuk memasukkan puluhan brigade tempur.
 
Pasukan Mobilisasi Populer baru-baru ini mengatakan kepada Newsweek bahwa "tidak ada afiliasi" antara Usbat al-Thayireen dan formasi milisi resmi.
 
Logo Usbat al-Thayireen memiliki tanda khas kelompok internasional yang didukung oleh Iran. Ini termasuk tidak hanya milisi Irak tetapi banyak lainnya seperti Hizbullah Libanon, Fatemiyoun Afghanistan, dan Zainabiyoun Pakistan, yang masing-masing mengacungkan lambang revolusioner yang menampilkan senapan Kalashnikov seperti, kutipan Alquran, bola dunia, buku dan cabang berdaun tujuh juga terlihat pada standar Garda Revolusi Iran sendiri.
 
Unit ekspedisi pasukan elit Iran ini, Pasukan Quds, memainkan peran penting dalam membangun hubungan di luar negeri. Komandan lamanya, Mayor Jenderal Qassem Soleimani, dibunuh bersama wakil pemimpin Pasukan Mobilisasi Populer Abu Mahdi al-Muhandis di Bandara Internasional Baghdad pada Januari di tengah kebangkitan kekerasan di AS dan perseteruan Iran, sebuah pertikaian di mana sejumlah kelompok seperti Usbat al-Thayireen berada di garis depan.
 
Anggota parlemen Irak memilih untuk mengusir pasukan asing setelah serangan yang menewaskan Soleimani dan Muhandis dan negara itu menyatakan kemarahan baru pekan lalu di belakang serangan udara AS yang menargetkan lima dugaan depot senjata sebagai pembalasan atas serangan Taji tetapi dilaporkan menewaskan tiga personel pasukan Irak , dua polisi, dan seorang warga sipil yang bekerja di bandara sedang dibangun di kota suci Karbala. Beberapa hari setelah serangan, pasukan AS meninggalkan pangkalan di dekat kota Al-Qaim di dekat perbatasan tempat Suriah, di mana pasukan yang didukung oleh AS dan Iran juga aktif melawan ISIS.
 
Dalam video kedua yang diposting oleh Usbat al-Thayireen, kelompok itu menggambarkan dirinya sebagai "sebuah proyek kesyahidan yang misinya menyerang pasukan pendudukan Amerika, menyerang pangkalannya, menyerang kedutaan pendudukan, dan membalas para pemimpin yang mati syahid dan rekan-rekan mereka."
 
"Perlawanan Islam Usbat al-Thayireen bersumpah untuk menyerang pangkalan dan kedutaan pasukan pendudukan dalam beberapa hari mendatang dan akan terus menyerang pendudukan sampai keluar dari negara itu, dan masalah ini akan diambil lebih lanjut jika penjajah tidak pergi," tegasnya, disiarkan dari Newsweek, Jumat 20 Maret 2020.
 
Pernyataan video kelompok itu mengatakan, "Kami mengatakan kepada orang-orang munafik yang merupakan kolaborator di kedutaan jahat: Hari-hari Anda sudah ditentukan dan Anda akan menghadapi nasib Anda segera."
 
Pengganti Soleimani, Brigadir Jenderal Esmail Qaani, telah bersumpah untuk terus mendukung Sumbu Perlawanan lintas batas. Iran membantah secara langsung mempersenjatai kelompok sekutu di luar negeri tetapi dituduh memasok beberapa senjata canggih yang lebih jauh seperti misil balistik.
 
Seorang pejabat militer Israel baru-baru ini mengatakan kepada Newsweek bahwa Israel berencana untuk lebih dulu menyerang posisi Hizbullah yang terlibat dalam upaya kelompok itu untuk memperoleh dan mengembangkan amunisi yang dipandu dengan presisi. Pejabat itu juga mengatakan angkatan bersenjata negara itu sedang bersiap untuk, jika terjadi konflik dengan Iran, mempertahankan lagi serangan roket dan rudal simultan dari berbagai sektor.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif