Utusan PBB untuk Yaman Martin Griffiths. Foto: AFP.
Utusan PBB untuk Yaman Martin Griffiths. Foto: AFP.

Utusan Khusus PBB Desak Perang di Yaman Dihentikan

Internasional konflik yaman
Marcheilla Ariesta • 23 Juni 2020 17:42
Al-Mukalla: Utusan khusus PBB untuk Yaman Martin Griffiths mendesak agar pihak-pihak yang bertikai di negara itu segera mengakhiri operasi militer di Marib, Jawf, dan daerah lainnya. Dia meminta mereka untuk segera berdamai.
 
"Saya sekali lagi mendesak para pihak untuk memberi kesempatan pada perdamaian dan terus terlibat secara konstruktif dengan bantuan PBB untuk mencapai kesepakatan," kata Griffiths dilansir dari Arab News, Selasa 23 Juni 2020.
 
"Saya berharap mereka akan menahan diri untuk mendapatkan wilayah kekuasaan yang hanya membawa lebih banyak penderitaan bagi Yaman," imbuhnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Griffiths menambahkan eskalasi yang terus terjadi bertentangan dengan komitmen partai-partai Yaman untuk mengatur dialog damai agar perang berakhir.
 
Utusan PBB ini mengatakan bahwa Marib harus terhindar dari konflik karena ribuan pengungsi dari wilayah lain di Yaman berada di sana. Selain itu, mereka kaya dengan sumber daya gas dan minyak yang penting bagi kelangsungan negara tersebut.
 
"Peningkatan militer ini tidak bisa dibenarkan dan bertentangan dengan harapan warga Yaman untuk perdamaian. Itu membuat perjuangan sehari-hari dalam bertahan hidup di Yaman semakin sulit, dan malah menghambat upaya menanggulangi wabah virus korona yang bisa menghancurkan negara," serunya.
 
Ribuan orang tewas dan terluka selama eskalasi kekerasan terbaru pada awal tahun ini. Saat itu, serangan rudal dan pesawat tanpa awak Houthi menewaskan lebih dari 110 tentara di Marib.
 
Griffiths juga sangat prihatin atas bentrokan di pulau terpencil Yaman, Socotra yang menyebabkan kelompok separatis mengambil alih pulau tersebut. Dia mendesak pemerintah Yaman dan Dewan Transisi Selatan untuk menerapkan Perjanjian Riyadh yang ditengahi Arab Saudi tahun lalu untuk meredakan ketegangan antara kedua negara.

 
Juru bicara militer Yaman, Brigadir Jenderal Abdu Abdullah Majili mengatakan Griffiths seharusnya mengarahkan kritik dan permohonannya kepada Houthi. Pasalnya, kelompok itu dinilai tidak pernah mematuhi gencatan senjata dan malah menyerang Marib.
 
"Houthi yang didukung Iran harus disalahkan atas eskalasi ini. Milisi Houthi tidak pernah mematuhi gencatan senjata dan terus menyerang kami," ungkapnya.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif