Presiden Tiongkok Xi Jinping bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman./AFP
Presiden Tiongkok Xi Jinping bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman./AFP

Xi Jinping Bertemu Pemimpin Negara Teluk, Berharap Bisa Perdalam Kerja Sama

Marcheilla Ariesta • 09 Desember 2022 20:29
Riyadh: Presiden Tiongkok Xi Jinping bertemu dengan para pemimpin Negara Teluk hari ini, Jumat, 9 Desember 2022. Ia menggambarkan pertemuan ini sebagai peristiwa penting saat ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
 
Pertemuan tersebut dilakukan pada hari ketiga dan terakhir dari kunjungan pertama Xi ke Arab Saudi sejak 2016. Ini menjadi salah satu perjalanan luar negeri ketiganya sejak pandemi virus korona dimulai.
 
Kamis kemarin, saat bertemu dengan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saudi dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, Xi mengumumkan kesepakatan dalam segala hal mulai dari energi hidrogen hingga perumahan, meskipun hanya sedikit detail yang dirilis.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dikutip dari France24, agenda hari ini diharapkan mencakup pertemuan puncak dengan enam anggota Dewan Kerja Sama Teluk, serta Tiongkok-Negara Arab yang lebih luas.
 
Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dan Presiden Tunisia Kais Saied termasuk di antara kepala negara yang tiba hari ini. Para pemimpin dari Qatar, Lebanon, Irak dan negara Timur Tengah lainnya juga berencana untuk hadir.
 
"Tiongkok berharap dapat bekerja sama dengan Arab Saudi dan negara-negara Arab untuk menjadikan dua KTT tersebut peristiwa penting dalam sejarah hubungan Tiongkok-Arab dan Tiongkok-GCC," kata Xi.
 
Baca juga: Presiden Tiongkok ke Arab Saudi, Tingkatkan Rasa Kepercayaan Strategis Kedua Negara
 
Negara-negara Teluk, mitra strategis Washington, memperkuat hubungan dengan Tiongkok sebagai bagian dari perubahan ke arah timur yang melibatkan diversifikasi ekonomi mereka yang bergantung pada bahan bakar fosil.
 
Sementara itu, Beijing sedang mencoba untuk memperluas lingkup pengaruhnya, terutama melalui Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra, di mana Negeri Tirai Bambu menyediakan pendanaan untuk proyek infrastruktur di seluruh dunia.
 
Para pejabat telah memberikan sedikit detail tentang agenda hari ini, tetapi salah satu area fokus potensial adalah perjanjian perdagangan bebas Tiongkok-GCC yang telah dibahas selama hampir dua dekade.
 
Tiongkok ingin mengakhiri negosiasi yang panjang karena FTA adalah blok perdagangan utama dan masalah penting bagi Beijing," kata Robert Mogielnicki, dari Arab Gulf States Institute di Washington.
 
"Ini tidak sesederhana negara-negara GCC, yang tampaknya lebih banyak berinvestasi dalam memajukan hubungan bilateral dan terlibat dalam berbagai tingkat persaingan ekonomi regional dengan negara-negara anggota tetangga mereka," ujarnya.
 
Terobosan pada kesepakatan perdagangan dapat membantu Arab Saudi, pengekspor minyak terbesar dunia dan ekonomi terbesar di Timur Tengah, mendiversifikasi ekonominya sejalan dengan agenda reformasi Visi 2030 yang diperjuangkan oleh Pangeran Mohammed.
 
Media pemerintah Saudi mengatakan bahwa kesepakatan bilateral senilai sekitar USD30 miliar diharapkan akan ditandatangani selama kunjungan tersebut.
 
"Ketika menyangkut hubungan bilateral Tiongkok dengan Teluk dan Timur Tengah yang lebih luas, orang harus ingat bahwa menandatangani MoU (nota kesepahaman) dan membuat janji investasi jauh lebih mudah daripada benar-benar memberikan modal," katanya.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Medcom.id
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif