Bendera Lebanon. Foto: AFP.
Bendera Lebanon. Foto: AFP.

Krisis Lebanon Momentum Rakyat Berdemokrasi

Marcheilla Ariesta • 12 Agustus 2020 21:13
Jakarta: Ledakan di Beirut, Lebanon menjadi puncak krisis di negara Timur Tengah itu. Ketua Kajian Timur Tengah Universitas Indonesia Yon Machmudi mengatakan ledakan Beirut menjadi momentum untuk rakyat Lebanon.
 
"Saat ini, tingkat ketidakpercayaan publik kepada penguasa yang dibangun atas dasar koalisi primordialisme. Pemerintah tidak mampu mengontrol faksi-faksi dalam negara sehingga akumulasinya terjadi insiden Beirut itu," tutur Yon kepada Medcom.id, Rabu, 12 Agustus 2020.
 
Dia mengatakan publik di Lebanon menginginkan adanya solidaritas yang mengarah pada kesatuan nasional yang tidak menginginkan berkuasanya faksionalisme. Menurutnya, Faksionalisme telah membawa Lebanon dalam jurang kehancuran.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pemerintah Lebanon, kata dia, perlu secara terbuka kepada publik untuk memastikan siapa yang harus bertanggung jawab di balik insiden Beirut.
 
"Tentu faksi-faksi yang ada di Lebanon harus mulai memutus ketergantungan mereka dengan pihak asing baik dengan Iran, Saudi, Suriah maupun pihak Barat," imbuhnya.
 
Dia menambahkan rakyat Lebanon juga harus mampu menentukan nasib mereka melalui prosea demokrasi.
 
"Yang tidak kalah penting adalah keinginan kuat rakyat Lebanon untuk melakukan integrasi nasional baik di level grassroot maupun elit nasional," terangnya.
 
"Di samping itu perbaikan ekonomi, pemberantasan korupsi dan kepastian hukum harus dapat dijalankan oleh rezim yang berkuasa. Kalau ini tidak dilakukan dipastikan Lebanon tidak pernah stabil," sambung dia.
 
Krisis politik dan ekonomi tengah mengancam Lebanon di tengah pandemi virus korona (covid-19). Di tengah krisis tersebut, ledakan terjadi di pelabuhan ibu kota Beirut dan menewaskan sekitar 200 orang.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif