Pasukan Ethiopia berada di Wichale, 13 Desember 2021. (Amanuel Sileshi / AFP)
Pasukan Ethiopia berada di Wichale, 13 Desember 2021. (Amanuel Sileshi / AFP)

Pemerintah Ethiopia dan Pemberontak Tigray Siap Dialog Damai di Afsel

Willy Haryono • 24 Oktober 2022 20:15
Addis Ababa: Delegasi yang mewakili pemerintah Ethiopia dan pemberontak Tigray tiba di Afrika Selatan pada Senin, 24 Oktober 2022, untuk menggelar dialog damai demi mengakhiri perang yang sudah berlangsung selama dua tahun.
 
Negosiasi yang dimediasi Uni Afrika ini harus dimulai pada Senin ini di tengah eskalasi intens pertempuran, sejak runtuhnya gencatan senjata pada Agustus lalu.
 
Tim mediasi Uni Afrika untuk pembicaraan itu meliputi utusan Tanduk Afrika Olusegun Obasanjo, mantan wakil presiden Afrika Selatan Phumzile Mlambo-Ngcuka, dan mantan presiden Kenya Uhuru Kenyatta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kindeya Gebrehiwot, juru bicara otoritas pemberontak di Tigray, mengumumkan kedatangan delegasi mereka di Afrika Selatan melalui keterangan via Twitter pada Minggu.
 
"Hal-hal yang harus segera dilakukan: penghentian segera permusuhan, akses kemanusiaan yang tak dibatasi, dan penarikan pasukan Eritrea. Tidak ada solusi militer!" ungkapnya, dikutip dari laman The National News.
 
Addis Ababa mengatakan delegasinya telah berangkat ke Afrika Selatan pada Senin pagi. "Pemerintah Ethiopia memandang pembicaraan itu sebagai kesempatan untuk menyelesaikan konflik secara damai dan mengkonsolidasikan perbaikan situasi di lapangan," katanya.
 
Tetapi Ethiopia juga mengatakan pasukannya "terus menguasai pusat-pusat kota besar dalam beberapa hari terakhir."
 
Ada pertaruhan tinggi dalam dialog damai ini. Agustus lalu, para peneliti dari Universitas Ghent Belgia mengatakan bahwa sebanyak 600.000 orang telah tewas di Tigray, baik sebagai akibat langsung dari pertempuran, atau masalah terkait lainnya seperti kelaparan.
 
Tigray dan enam juta warganya telah mengalami pemadaman komunikasi selama lebih dari setahun. Pelaporan independen dari wilayah tersebut sangat dibatasi.
 
Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed, yang mengirim pasukan ke Tigray pada November 2020, mengatakan pada Kamis kemarin bahwa perang "akan berakhir dan perdamaian akan menang."
 
"Ethiopia akan damai. Kami tidak akan melanjutkan pertempuran tanpa batas waktu," kata Ahmed, yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian 2019 untuk pemulihan hubungannya dengan Eritrea.
 
Amerika Serikat mengatakan pihaknya mendukung Uni Afrika dalam upaya mencapai kesepakatan damai.
 
"Sangat penting bahwa semua pihak memanfaatkan kesempatan ini dan terlibat secara serius dalam pembicaraan untuk mengakhiri pertempuran dan penderitaan rakyat Ethiopia," kata Duta Besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield pada Jumat lalu.
 
"Begitu pertempuran berhenti, pihak yang bertikai harus merundingkan modalitas konkret untuk mencegah kembalinya konflik, termasuk pengaturan keamanan, jalan menuju dialog politik yang lebih luas, dan jaminan akses kemanusiaan tanpa hambatan dan pemulihan layanan," pungkasnya.
 
Baca:  PBB Kutuk Serangan Udara di Taman Kanak-Kanak Ethiopia
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif