Warga Muslim Salat di Masjid Al-Aqsa saat malam jelang terakhir Ramadan. Foto: AFP
Warga Muslim Salat di Masjid Al-Aqsa saat malam jelang terakhir Ramadan. Foto: AFP

Israel Tolak Permintaan Yordania untuk Tambah Staf Wakaf di Masjid Al-Aqsa

Internasional israel palestina Israel Yordania Masjid Al-Aqsa
Medcom • 11 Mei 2022 07:07
Tel Aviv: Kantor Perdana Menteri (PMO) Israel pada Selasa, 10 Mei 2022 membantah pihaknya menyetujui pemberian izin bagi Yordania untuk menambah staf Wakaf. Ini adalah petugas yang bertanggung jawab mengurus administrasi Masjid Al-Aqsa di Yerusalem. 
 
“Tidak ada perubahan atau perkembangan terkait situasi di Masjid Al-Aqsa. Kedaulatan Israel tetap dipertahankan,” kata Kantor Perdana Menteri dalam pernyataannya, dikutip dari The Times of Israel, Selasa, 10 Mei 2022.
 
“Semua keputusan akan dibuat oleh pemerintah Israel dengan pertimbangan seputar kedaulatan, kebebasan beragama dan keamanan, dan tanpa tekanan dari faktor asing atau faktor politik,” bunyi pernyataan itu, merujuk pada pernyataan Perdana Menteri Naftali Bennett pada Minggu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pernyataan itu dikeluarkan setelah media lokal Kan pada Senin, 9 Mei 2022 melaporkan bahwa Menteri Keamanan Masyarakat Omer Barlev menyetujui permintaan Yordania untuk menambah staf di lokasi. Laporan tanpa sumber tersebut mengklaim polisi akan mendukung langkah ini.
 
Yordania, yang memerintah Tepi Barat dan Yerusalem Timur dari 1948 hingga Perang Enam Hari 1967, sudah lama mengusahakan agar Israel memberikannya hak atas tempat-tempat suci Kristen dan Muslim di Yerusalem. Walau Israel tidak pernah menyetujui klaim ini, Israel mengabulkan agar administrasi Masjid Al-Aqsa diurus Wakaf yang didanai Yordania.
 
Pernyataan PMO mengkonfirmasi bahwa Amman mengajukan penambahan staf, tapi menyangkal bahwa Israel menerima permintaan itu.
 
“Sekitar satu setengah bulan yang lalu, permintaan Yordania diterima untuk menambah staf Wakaf di Masjid Al-Aqsa dengan jumlah 50, tetapi Israel tidak menyetujui permintaan tersebut,” jelas pihak PMO
 
Pernyataan itu mengatakan bahwa, pada kenyataannya, enam orang yang ditemukan mendukung kelompok teror Hamas dipindahkan dari penempatan mereka di Masjid Al-Aqsa. Sebanyak 12 orang diberikan ditunjuk sebagai pengganti mereka. Pernyataan itu mengatakan bahwa penggantian ini sesuai dengan kerangka yang telah disepakati.
 
Dikenal sebagai Haram al-Sharif atau kompleks Masjid Al-Aqsa, Israel menyebutnya sebagai Temple Mount dan merupakan situs tersuci Yudaisme dan ketiga tersuci Islam.
 
Titik itu telah lama menjadi lokasi terjadinya kekerasan dan konflik. Ketegangan pun kembali memuncak dalam beberapa pekan terakhir, seperti kerusuhan rakyat Palestina, bentrokan dengan Polisi Israel, dan upaya Yahudi untuk berdoa di kompleks Masjid Al-Aqsa.
Perubahan apapun di bukit tersebut, yang menyebabkan non muslim boleh berkunjung namun dilarang berdoa, berpotensi mengakibatkan kekerasan.
 
Raja Yordania Abdullah II membahas isu ini dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh agama di New York.
 
“Raja kembali menegaskan bahwa hak Hashemite atas tempat suci Islam dan Kristen di Yerusalem adalah suatu kehormatan dan tanggung jawab yang membantu menjaga persatuan semua bait suci, dan yang lebih penting, persatuan di antara komunitas Muslim dan Kristen," kata Royal Hashemite Court Yordania.
 
Ketegangan di tempat suci baru-baru ini diikuti oleh serangan teror, tekanan dari sekutu Israel, ancaman dari Hamas, dan memburuknya krisis koalisi yang tengah berlangsung.
 
Bentrokan yang terjadi juga membuat hubungan diplomatik antara Israel dan Yordania tegang.
 
Raja Abdullah diketahui mengecam Israel atas bentrokan tersebut, menyalahkan negara tersebut karena mengizinkan peziarah Yahudi memasuki situs itu dan meminta pemerintah Israel untuk menghormati "status historis dan hukum" di sana. (Kaylina Ivani)
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif